SUPER DUPER DOUBLE....(7 JUN ’08)
Adddooooh...beberapa hari terakhir ini, kupingku lagi cape dehhh...dengerin kata ‘super duper double’ ini. Itu loh si Davina Svastiari Devi...apa-apa dikit, “...super duper double...” apa gitu. Setiap hal, setiap kalimat, teteuup...
Ga penting banget deh...kayaknya ga ada artinya gitu deh...
Maen bola...”ini dia, tendangan SUPER DUPER DOUBLE kencang (ato lembut)”
Belajar...”wah pelajarannya SUPER DUPER DOUBLE gampang (ato susah)”
Kemaren waktu nonton Spongebob...’tau ga ma...si Spongebob SUPER DUPER DOUBLE lucu”
Trus maen layang-layang ama Mesha...”Cha...liat, layang-layangnya SUPER DUPER DOUBLE keren!!!!!”
Makan sup...”hhhuaaaahhh, supnya SUPER DUPER DOUBLE lezat”
Diajak nonton Extravaganza...”idih...yang itu (aming) SUPER DUPER DOUBLE aneh...”
Adooh, pokoke, aku dah rada-rada puyeng denger kata super duper ini....
Setiap hal pasti diembel-embeli...contoh tadi? Huuu...itu sih cuman contoh kueeecciiil bangetz.
Nah tadi...dia nonton Barbie as Mariposa, Nah loh...begitu selesai nonton, dia mendekat....
“mama...tau nggak...siapa yang SUPER DUPER DOUBLE cantik...”
Hmmm....ga mungkin si beeble kan? Pastilah...
“yaitu mama....secantik Mariposa!!!!!” lanjut Vina sambil melompat-lompat, bak butterfly fairy....
Wwwaaahhhh ....rasanya gimana gitu...susah diungkapin dengan kata-kata.
Kayaknya, kata yang tepat adalah...
SUPER DUPER DOUBLE haaapppppyyyy!!!!!!!!!!!!!!!!
Selasa, 10 Juni 2008
Minggu, 08 Juni 2008
Seorang Sahabat yang Berdiri di Seberang
Seminggu ini sedang ada berita lama yang terbuka lagi. Tentang salah seorang sahabat kami. Menyakitkan mengungkit tentang dia. Bukan karena kami membenci dia. Justru karena kecintaan kami padanya, bikin ini jadi sesuatu yang menyakitkan.
Berita ini selalu menggemparkan keluarga besar Sunrise.
Seandainya si sahabat tau, kami tak pernah ingin menyudutkan dia, kami tak ingin jadi musuh, kami tak pernah membenci dia.
Dia tak harus menjauh, dia tak harus menutup diri.
Dia juga tak perlu pergi sejauh itu, dengan membawa beban di punggung, dan luka di hati.
Seandainya si sahabat sejak dulu memilih jalan yang seharusnya...
Jalan yang seharusnya menurut hukum, dan tentu saja, jalan yang seharusnya menurut hati nurani...yang aku yakini, inilah yang menyiksa dia. Atau dia juga punya andil dalam keruwetan ini? Tuhan, jangan bikin kami berpransangka buruk...
Jika dia tidak memilih jalan yang salah ini...
Kami semua akan berdiri tegak bersamanya. Bukan di belakangnya, tapi, kami akan berdiri bersama dia. Memegang tangannya, bahkan memberi tempat bersandar saat dia perlu.
Kami tak akan terpaksa berada di tempat yang bersebrangan dengannya.
Sahabat...
Agar kau tahu...betapa kami menyayangimu, bahkan saat ini, saat kau berada berseberangan dengan kami, kami tetap berdoa untukmu. Kami masih menangis untukmu.
Tetapi kami berada di sini bukan untuk membencimu. Kami di sini...karena hati nurani kami, yang meyakini kami untuk tetap ada disini.
Kami berada di seberangmu...juga karena bunga yang dulu kau rawat...lalu layu, dan tanpa kau perjuangkan. Bunga itu sudah mati, tapi, dia masih ada di tanah kami...di tempat kami akan selalu mengingatnya.
Semoga kau tahu sahabat.
Kasih, yang membuat kita dulu begitu dekat, selalu bersama...
Kasih juga yang membuat kita berada di tempat yang berseberangan...
Di hati kami, kau tetap mempunyai tempat yang istimewa.
Apapun yang telah terjadi...
Kita pernah tertawa, menangis bersama...
Sahabat kami, selamanya...
Berita ini selalu menggemparkan keluarga besar Sunrise.
Seandainya si sahabat tau, kami tak pernah ingin menyudutkan dia, kami tak ingin jadi musuh, kami tak pernah membenci dia.
Dia tak harus menjauh, dia tak harus menutup diri.
Dia juga tak perlu pergi sejauh itu, dengan membawa beban di punggung, dan luka di hati.
Seandainya si sahabat sejak dulu memilih jalan yang seharusnya...
Jalan yang seharusnya menurut hukum, dan tentu saja, jalan yang seharusnya menurut hati nurani...yang aku yakini, inilah yang menyiksa dia. Atau dia juga punya andil dalam keruwetan ini? Tuhan, jangan bikin kami berpransangka buruk...
Jika dia tidak memilih jalan yang salah ini...
Kami semua akan berdiri tegak bersamanya. Bukan di belakangnya, tapi, kami akan berdiri bersama dia. Memegang tangannya, bahkan memberi tempat bersandar saat dia perlu.
Kami tak akan terpaksa berada di tempat yang bersebrangan dengannya.
Sahabat...
Agar kau tahu...betapa kami menyayangimu, bahkan saat ini, saat kau berada berseberangan dengan kami, kami tetap berdoa untukmu. Kami masih menangis untukmu.
Tetapi kami berada di sini bukan untuk membencimu. Kami di sini...karena hati nurani kami, yang meyakini kami untuk tetap ada disini.
Kami berada di seberangmu...juga karena bunga yang dulu kau rawat...lalu layu, dan tanpa kau perjuangkan. Bunga itu sudah mati, tapi, dia masih ada di tanah kami...di tempat kami akan selalu mengingatnya.
Semoga kau tahu sahabat.
Kasih, yang membuat kita dulu begitu dekat, selalu bersama...
Kasih juga yang membuat kita berada di tempat yang berseberangan...
Di hati kami, kau tetap mempunyai tempat yang istimewa.
Apapun yang telah terjadi...
Kita pernah tertawa, menangis bersama...
Sahabat kami, selamanya...
Rabu, 04 Juni 2008
Menuduh tanpa Melihat Fakta
Catatan dari perjalanan ke Nusa Penida, Pr.Dalem Ped.
Hari itu, aku memang nggak ikut. Bocor...Jadi cuma Ina dan papanya yang ikut ke sono. Banyak cerita seru yang aku dapat dari Vina. Juga dari mama dan papa.
Yang menarik, adalah waktu mama cerita, pas habis maturan di salah satu Pura, aku lupa namanya, mama agak tertinggal dari rombongan yang udah lebih dulu jalan. Mama agak kerepotan sama banten yang dibw. Waktu mau jalan, tiba-tiba tangan mama, tepatnya sih jari-jari tangan kirinya dipegang oleh seorang anak kecil. Sepintas mama melirik. Ah, kebaya putih, si Vina nih...
Sambil jalan, mama ngomel-ngomel dalam hati. Intinya kaya gini...
"dasar si Agus, udah tau mama sibuk gini bawa banten, malah si Vina ga diajak. Kan repot nih bawa anak begini, dasar, bapak yang aneh..."
waduh, intinya aja segitu, gimana aslinya yah?
Akhirnya, sampailah mama di Pura yang dituju. Semua orang dah berkumpul di pojokan. Saat itulah mama ngeliat suamiku, di pojokan sedang menggendong seseorang...
Anak perempuan...berkebaya putih...berbando keemasan...!!!
V I N A...????!!!!
Refleks mama melihat secara dramatis ke arah anak disampingnya...face to face...
ASTAGANAGA.....anak orang!!!!!
Si anak kecil yang secara mendadak di beri penampakan wajah mama yang terkejut, bisa dipastikan...hampir kena serangan jantung!
Dengan hebohnya dia mulai menangis, tapi tanpa melepaskan tangannya dari mama.
Secara dramatis, dia berteriak..."Ibbbuuuuuu....!" (dengan tangan yang makin kenceng memegang tangan mama.
Mamaku? tak kalah heboh donk! "Anak siapa ini...???!!" mama juga mulai panik.
Suasana mulai rame, seorang satpam menawarkan untuk mengajak anak itu ke bagian informasi. Si anak ga mau dibw satpam.
Untunglah ada pecalang yang berbaik hati mengajak anak itu. Dan, karena dia tidak berpakaian aparat, justru berpakaian adat, si anak tadi mau.
wah...mama baru lega.
Aku ampe ketawa abiz ama kelakuan mama.
Habis ngomel2 ga keruan...tapi ga nyadar anak orang dibw lari...
makanya ibuku tercinta, cek dulu sebelum nuduh, hehehehe.....
Hari itu, aku memang nggak ikut. Bocor...Jadi cuma Ina dan papanya yang ikut ke sono. Banyak cerita seru yang aku dapat dari Vina. Juga dari mama dan papa.
Yang menarik, adalah waktu mama cerita, pas habis maturan di salah satu Pura, aku lupa namanya, mama agak tertinggal dari rombongan yang udah lebih dulu jalan. Mama agak kerepotan sama banten yang dibw. Waktu mau jalan, tiba-tiba tangan mama, tepatnya sih jari-jari tangan kirinya dipegang oleh seorang anak kecil. Sepintas mama melirik. Ah, kebaya putih, si Vina nih...
Sambil jalan, mama ngomel-ngomel dalam hati. Intinya kaya gini...
"dasar si Agus, udah tau mama sibuk gini bawa banten, malah si Vina ga diajak. Kan repot nih bawa anak begini, dasar, bapak yang aneh..."
waduh, intinya aja segitu, gimana aslinya yah?
Akhirnya, sampailah mama di Pura yang dituju. Semua orang dah berkumpul di pojokan. Saat itulah mama ngeliat suamiku, di pojokan sedang menggendong seseorang...
Anak perempuan...berkebaya putih...berbando keemasan...!!!
V I N A...????!!!!
Refleks mama melihat secara dramatis ke arah anak disampingnya...face to face...
ASTAGANAGA.....anak orang!!!!!
Si anak kecil yang secara mendadak di beri penampakan wajah mama yang terkejut, bisa dipastikan...hampir kena serangan jantung!
Dengan hebohnya dia mulai menangis, tapi tanpa melepaskan tangannya dari mama.
Secara dramatis, dia berteriak..."Ibbbuuuuuu....!" (dengan tangan yang makin kenceng memegang tangan mama.
Mamaku? tak kalah heboh donk! "Anak siapa ini...???!!" mama juga mulai panik.
Suasana mulai rame, seorang satpam menawarkan untuk mengajak anak itu ke bagian informasi. Si anak ga mau dibw satpam.
Untunglah ada pecalang yang berbaik hati mengajak anak itu. Dan, karena dia tidak berpakaian aparat, justru berpakaian adat, si anak tadi mau.
wah...mama baru lega.
Aku ampe ketawa abiz ama kelakuan mama.
Habis ngomel2 ga keruan...tapi ga nyadar anak orang dibw lari...
makanya ibuku tercinta, cek dulu sebelum nuduh, hehehehe.....
Rabu, 28 Mei 2008
NAIK DAN HADAPI
Ini adalah sesuatu yang sangat un easy listening...
BBM naik. Berat? pasti. Terutama buat aku yang seorang komuter. Bawa kendaraan sendiri pula. Tapi, mau apa lagi, naik ya berarti harus dihadapi.
Pasrah? boleh dibilang begitu. Bodoh? bukan. Ini bukan tentang pasrah dan nrimo tanpa pemikiran.
Ibaratnya, saat ini pemerintah kita sedang dalam tahap pembersihan, beres-beres, cuci piring. Kasarnya, pemerintah sekarang adalah cleaning service untuk negara kita, setelah kita berpesta pora puluhan tahun kemarin.
Suamiku seorang pengusaha kecil, yang harus tunduk dengan perubahan di luar. Terpaksa menaikkan harga barang, Dll. Begitu juga, Indonesia, yang walaupun mempunyai wilayah luas, tetap saja merupakan negara kecil di muka bumi. Kenaikan harga minyak mentah, merupakan hal yang tak bisa ditolak pemerintah.
kenaikkan BBm memang memberatkan. Aku ibu rumah tangga, dan aku sangat mengerti itu.
Perjuangan mahasiswa, sangat aku hargai. Semangat mereka patut dibanggakan.
Tapi, daripada berdemo dan memecah belah persatuan, daripada berdemo dan merusak fasilitas umum, daripada berdemo dan makin membuat ruwet berbagai masalah...
Kenapa mahasiswa tidak bersatu padu, dan berdiri sebagai team independen pengawas kerja pemerintah?
Aku percaya betul dengan keteguhan hati mahasiswa.
Tak mudah disuap. Masih berjiwa murni.
Jadi mengapa tidak menjadi team independen. Tanpa ditunggangi pihak manapun. Jadilah pengawas dalam pencatatan keluarga mana saja yang berhak memperoleh BLT. Bagaimana dalam proses pemberiannya. Sudah Jurdil atau belum?
Awasi pasar. Dukung pemerintah, bukan berarti bersedia disuap. Dukung pemerintah dalam kapasitas anda sebagai kaum intelektual. Jika ada penyimpangan, laporkan. berantas.
Jangan biarkan ketidakadilan menekan masyarakat kecil. Ayolah...
Berdemo tanpa tujuan yang meyakinkan, bukannya akan membela kaum kecil.
Mahasiswa adalah kaum intelektual. Bukan pemarah...
Saat ini sudah terjadi kenaikan BBM, maka kita harus bangkit dan menghadapinya. Bukan menentang tanpa tanggung jawab.
Tapi dukung program yang dapat meringankan masyarakat kecil.
Semoga, negara kita akan semakin maju, dan menjadi bangsa yang bermartabat...
BBM naik. Berat? pasti. Terutama buat aku yang seorang komuter. Bawa kendaraan sendiri pula. Tapi, mau apa lagi, naik ya berarti harus dihadapi.
Pasrah? boleh dibilang begitu. Bodoh? bukan. Ini bukan tentang pasrah dan nrimo tanpa pemikiran.
Ibaratnya, saat ini pemerintah kita sedang dalam tahap pembersihan, beres-beres, cuci piring. Kasarnya, pemerintah sekarang adalah cleaning service untuk negara kita, setelah kita berpesta pora puluhan tahun kemarin.
Suamiku seorang pengusaha kecil, yang harus tunduk dengan perubahan di luar. Terpaksa menaikkan harga barang, Dll. Begitu juga, Indonesia, yang walaupun mempunyai wilayah luas, tetap saja merupakan negara kecil di muka bumi. Kenaikan harga minyak mentah, merupakan hal yang tak bisa ditolak pemerintah.
kenaikkan BBm memang memberatkan. Aku ibu rumah tangga, dan aku sangat mengerti itu.
Perjuangan mahasiswa, sangat aku hargai. Semangat mereka patut dibanggakan.
Tapi, daripada berdemo dan memecah belah persatuan, daripada berdemo dan merusak fasilitas umum, daripada berdemo dan makin membuat ruwet berbagai masalah...
Kenapa mahasiswa tidak bersatu padu, dan berdiri sebagai team independen pengawas kerja pemerintah?
Aku percaya betul dengan keteguhan hati mahasiswa.
Tak mudah disuap. Masih berjiwa murni.
Jadi mengapa tidak menjadi team independen. Tanpa ditunggangi pihak manapun. Jadilah pengawas dalam pencatatan keluarga mana saja yang berhak memperoleh BLT. Bagaimana dalam proses pemberiannya. Sudah Jurdil atau belum?
Awasi pasar. Dukung pemerintah, bukan berarti bersedia disuap. Dukung pemerintah dalam kapasitas anda sebagai kaum intelektual. Jika ada penyimpangan, laporkan. berantas.
Jangan biarkan ketidakadilan menekan masyarakat kecil. Ayolah...
Berdemo tanpa tujuan yang meyakinkan, bukannya akan membela kaum kecil.
Mahasiswa adalah kaum intelektual. Bukan pemarah...
Saat ini sudah terjadi kenaikan BBM, maka kita harus bangkit dan menghadapinya. Bukan menentang tanpa tanggung jawab.
Tapi dukung program yang dapat meringankan masyarakat kecil.
Semoga, negara kita akan semakin maju, dan menjadi bangsa yang bermartabat...
Minggu, 18 Mei 2008
TERIMA KASIH
Beberapa hari terakhir, aku sedang sibuk mengajarkan Ina arti sebuah kata terima kasih. Bukan sesuatu yang cuma diucapkan, sebagai basa-basi, tanpa makna. Sejak kecil, setiap ortu pasti ngajarin anak2nya buat ngucapin terima kasih kalo nerima sesuatu. Ya kan? Pastinya aku udah ngajarin itu, masalahnya, itu cuma jadi sebuah kata yang ‘terbiasa diucapkan, bukan sesuatu yang ‘bermakna’.
Gampang? Pasti tidak.
Belakangan, Vina sering bete kalo nerima sesuatu yang tidak berkenan di hati dia. Padahal, yang ngasi tuh sudah berjuang buat bawain sesuatu itu. Contoh, seorang sodara yang datang dari daerah Jembrana, yang so pasti ga tau bener apa yang suka ato tidak disuka Ina. Pas nerima sesuatu itu, Ina tampak kecewa dan ngucapin kata...”yyaaahhh...”
BAYANGKAN...gimana tanduk aku ga tumbuh??!!!
Si sodara jadi ga enak ati. Tapi dengan kepiawaianku, aku bisa bikin dia tenang. Padahal dalam hati, aku dah misuh-misuh gara2 kejadian tadi. Si pemberi hadiah aja ga enak ati, gimana aku, coba?
Gitu juga beberapa kali papa Ina ato aku segimana capeknya, malem tu wajib dah bacain dia cerita. Suatu kali aku tu capeeek banget. Cuma sanggup bacain dia satu cerita ajah...dan seperti biasa, kata ajaib “yaahhh...” keucap lagi.
Waaahhh....hari itu aku kasi ina penataran singkat padat dan lumayan keras. Tentang kata terima kasih.
Awalnya, aku pikir dia mulai ngerti. Beberapa waktu belakangan segalanya aman-aman aja.
Suatu kali, Ina en papa plus rombongan, pergi maturan ke Nusa Penida, tinggalah aku dan Mesha. Buat ngilangin kebosenan, kami pergi ke pasar. Pagi itu, aku maunya sambil nyariin sandal buat Mesha, atas permintaan dia sendiri. Tapi dia liat layangan. Trus aku suruh dia milih, sandal ato layangan, ternyata dia milih layangan. Ya udah setelah melewati proses nego antara aku dan Mesha, dia tetep keukeuh ama layangan.
Saat beli, dia ga mau milih layangan yang harganya seribu. Standar kali ya...maunya yang kerenan dikit. Yang 7rban tu loh. Istilah anak-anak, layangan bebe...
Eh dia minta 2!! Aku pikir karna dia baru belajar ngitung, jadi minta 2 layangan. Jadi, jelas aku tolak. Tapi dia malah nangis. Rencananya, aku mau cuekin ajah. Biar ga kebiasaan. Tapi waktu aku tanya, “buat apa?” dia mandangin aku sambil nunjukin jari2nya...”dua...caca...nana...” astaga...dia inget buat kakaknya...
Malam itu, waktu Ina dateng, jelas dia excited bgt ngeliat layangan. Maklum, ni anak emang demen banget maen layangan. Tanpa ba bi bu...dia ambil layangan, langsung masang tali. Waktu aku bilang itu adiknya yg beli, dia cuma bilang ooohhh. Coba! Ga ada apanya...cuman ooohhh doang. Aku ingetin dia bilang makasi, dia keliatan bete.
Aduh, anak ini! Aku ngomel2 lg...
Malah besoknya, waktu mesha minta dibeliin buku naruto (dia dapet duit serb dari kakeknya, ina 2rb.), dia beli 2, buat nana katanya. Jadi, duitnya kan abis buat beli komik itu. Dah gitu dia minta dibw saat itu jg ke skolah nana. Tau reaksi ina waktu ngeliat komik itu? “yyaaahhh...ina kan udah baca yang ini...gak usah deh kasi ina ginian...”
Waduh...tanduk numbuh di seluruh kepalaku.
Bukan cuma 2, tapi 12...
Aku marah besar. Masalahnya, caca segt ingetnya ina suka layangan, ina suka naruto, dan ina suka ikan. Dia selalu ingat!
Pulang sekolah, aku benar-benar beritahu ina. Lama banget. Banyak banget.
Nah, hari minggu, waktu aku mau brkt kuliah, kakenya dateng bw permen 2. dikasi ke caca. Karena itu kopiko, caca langsung nyari ina. Dikasilah ina 1. oke nana bilang makasi sambil nyium caca. Trus aku bilang, kalo permen itu dikasi kakeknya. Ina langsung tergopoh2 nyari sang kakek. Wah, senang aku...
“makasi pekak”.....(pekak=kakek), itu yang terdengar di kepalaku. Manis kan?
Ah...ternyata cuman bayangan...yang terdengar di kupingku adalah...
“masih ada lagi ga pekak...???” halah....
Gampang? Pasti tidak.
Belakangan, Vina sering bete kalo nerima sesuatu yang tidak berkenan di hati dia. Padahal, yang ngasi tuh sudah berjuang buat bawain sesuatu itu. Contoh, seorang sodara yang datang dari daerah Jembrana, yang so pasti ga tau bener apa yang suka ato tidak disuka Ina. Pas nerima sesuatu itu, Ina tampak kecewa dan ngucapin kata...”yyaaahhh...”
BAYANGKAN...gimana tanduk aku ga tumbuh??!!!
Si sodara jadi ga enak ati. Tapi dengan kepiawaianku, aku bisa bikin dia tenang. Padahal dalam hati, aku dah misuh-misuh gara2 kejadian tadi. Si pemberi hadiah aja ga enak ati, gimana aku, coba?
Gitu juga beberapa kali papa Ina ato aku segimana capeknya, malem tu wajib dah bacain dia cerita. Suatu kali aku tu capeeek banget. Cuma sanggup bacain dia satu cerita ajah...dan seperti biasa, kata ajaib “yaahhh...” keucap lagi.
Waaahhh....hari itu aku kasi ina penataran singkat padat dan lumayan keras. Tentang kata terima kasih.
Awalnya, aku pikir dia mulai ngerti. Beberapa waktu belakangan segalanya aman-aman aja.
Suatu kali, Ina en papa plus rombongan, pergi maturan ke Nusa Penida, tinggalah aku dan Mesha. Buat ngilangin kebosenan, kami pergi ke pasar. Pagi itu, aku maunya sambil nyariin sandal buat Mesha, atas permintaan dia sendiri. Tapi dia liat layangan. Trus aku suruh dia milih, sandal ato layangan, ternyata dia milih layangan. Ya udah setelah melewati proses nego antara aku dan Mesha, dia tetep keukeuh ama layangan.
Saat beli, dia ga mau milih layangan yang harganya seribu. Standar kali ya...maunya yang kerenan dikit. Yang 7rban tu loh. Istilah anak-anak, layangan bebe...
Eh dia minta 2!! Aku pikir karna dia baru belajar ngitung, jadi minta 2 layangan. Jadi, jelas aku tolak. Tapi dia malah nangis. Rencananya, aku mau cuekin ajah. Biar ga kebiasaan. Tapi waktu aku tanya, “buat apa?” dia mandangin aku sambil nunjukin jari2nya...”dua...caca...nana...” astaga...dia inget buat kakaknya...
Malam itu, waktu Ina dateng, jelas dia excited bgt ngeliat layangan. Maklum, ni anak emang demen banget maen layangan. Tanpa ba bi bu...dia ambil layangan, langsung masang tali. Waktu aku bilang itu adiknya yg beli, dia cuma bilang ooohhh. Coba! Ga ada apanya...cuman ooohhh doang. Aku ingetin dia bilang makasi, dia keliatan bete.
Aduh, anak ini! Aku ngomel2 lg...
Malah besoknya, waktu mesha minta dibeliin buku naruto (dia dapet duit serb dari kakeknya, ina 2rb.), dia beli 2, buat nana katanya. Jadi, duitnya kan abis buat beli komik itu. Dah gitu dia minta dibw saat itu jg ke skolah nana. Tau reaksi ina waktu ngeliat komik itu? “yyaaahhh...ina kan udah baca yang ini...gak usah deh kasi ina ginian...”
Waduh...tanduk numbuh di seluruh kepalaku.
Bukan cuma 2, tapi 12...
Aku marah besar. Masalahnya, caca segt ingetnya ina suka layangan, ina suka naruto, dan ina suka ikan. Dia selalu ingat!
Pulang sekolah, aku benar-benar beritahu ina. Lama banget. Banyak banget.
Nah, hari minggu, waktu aku mau brkt kuliah, kakenya dateng bw permen 2. dikasi ke caca. Karena itu kopiko, caca langsung nyari ina. Dikasilah ina 1. oke nana bilang makasi sambil nyium caca. Trus aku bilang, kalo permen itu dikasi kakeknya. Ina langsung tergopoh2 nyari sang kakek. Wah, senang aku...
“makasi pekak”.....(pekak=kakek), itu yang terdengar di kepalaku. Manis kan?
Ah...ternyata cuman bayangan...yang terdengar di kupingku adalah...
“masih ada lagi ga pekak...???” halah....
Rabu, 14 Mei 2008
Akta IV
Hampir 5 bulan ini...waktuku makin banyak tersita. Setelah urusan RT, bantuin suami, kerjaan, tambah lagi...aku sedang menempuh akta 4-ku. Ceritanya biar legal gitu....kadung dah terjun di dunia ngajar...ya sekalian aja ngurus ijinnya.
Awalnya rada males. Lama-lama jadi asik. Di sono nemu temen-temen baru. Yang ga kalah gila dengan diriku. Entah kenapa (takdir menyatukan...) aku nyasar en duduk bareng makhluk-makhluk macam Itang, Dayu, en Muntri. Awalnya, kami jaim. Lama-lama...makin konslet.
Makin ke belakang, hubunganku dan Itang makin gawat...yaelah bahasanya...maksutnya, kalo kita deketan...extravaganza lewat dah....
Lewat trans tv maksutnya....
Kuliah bukan lagi beban. Jadi semacam tempat refreshing. Kemajuan akademis? Kalo yang satu ini, jangan diragukan...kami termasuk yang rajin. Baik mencatat, ataupun dalam ajang diskusi...
Malah, aku niat mo ambil S2 bidang pendidikan.
Insya Allah...amin...
Makin dekat bulan ujian akhir...makin kepikiran...
Gimana tetep connect...
pake nokia? connecting people kan?
yang pasti, jodoh kali ya...dulu aku daftar angkatan 39, tapi tiba-tiba ada halangan. Jadi mundur ampe angk.41. gitu juga Itang en Dayu...daftar angkatan 40....mundur jadi angk.41.
Namanya juga jodoh kali...
Awalnya rada males. Lama-lama jadi asik. Di sono nemu temen-temen baru. Yang ga kalah gila dengan diriku. Entah kenapa (takdir menyatukan...) aku nyasar en duduk bareng makhluk-makhluk macam Itang, Dayu, en Muntri. Awalnya, kami jaim. Lama-lama...makin konslet.
Makin ke belakang, hubunganku dan Itang makin gawat...yaelah bahasanya...maksutnya, kalo kita deketan...extravaganza lewat dah....
Lewat trans tv maksutnya....
Kuliah bukan lagi beban. Jadi semacam tempat refreshing. Kemajuan akademis? Kalo yang satu ini, jangan diragukan...kami termasuk yang rajin. Baik mencatat, ataupun dalam ajang diskusi...
Malah, aku niat mo ambil S2 bidang pendidikan.
Insya Allah...amin...
Makin dekat bulan ujian akhir...makin kepikiran...
Gimana tetep connect...
pake nokia? connecting people kan?
yang pasti, jodoh kali ya...dulu aku daftar angkatan 39, tapi tiba-tiba ada halangan. Jadi mundur ampe angk.41. gitu juga Itang en Dayu...daftar angkatan 40....mundur jadi angk.41.
Namanya juga jodoh kali...
Episode terakhir
Seorang teman dan 50 lebih kawan, bilang aku aneh. Gini...aku bukan penggemar sinetron Indonesia. Bukan ga cinta buatan lokal. Aku cuma ga cinta plagiat, hiperbola, dan cerita yang dipanjang-panjangkan, demi sebuah rating (atau nominal uang?). Nah, belakangan sinetron Indo kan gitu banget yah? Jadi males deh.
Tapi, aku paling demen kalo tahu bahwa sebuah sinetron sudah akan ada penggantinya. Intinya, 2 episode terakhir...kudu nonton dah.
Itulah yang terjadi beberapa minggu yang lalu. Waktu Jelita en Mentari ada di episode terakhir. Bukan apa-apa, demen ajah kalo ngliat kata SEKIAN.
Jadi, menurut beberapa orang...aku itu aneh. Karena suka nonton Episode Terakhir. Kalo menurut aku, lebih aneh lagi orang-orang yang demen nonton satu sinetron yang ceritanya makin hari makin ga jelas. ngorbanin waktu dan kegiatan lain hanya demi seorang bunga, jelita dan siapapun lainnya.
So....biar kata aneh...tapi aku tetap normal. Yatoh??? Karena aku bisa liat, mana cerita yang patut ditonton, mana yang patut diabaikan saja....
Tapi, aku paling demen kalo tahu bahwa sebuah sinetron sudah akan ada penggantinya. Intinya, 2 episode terakhir...kudu nonton dah.
Itulah yang terjadi beberapa minggu yang lalu. Waktu Jelita en Mentari ada di episode terakhir. Bukan apa-apa, demen ajah kalo ngliat kata SEKIAN.
Jadi, menurut beberapa orang...aku itu aneh. Karena suka nonton Episode Terakhir. Kalo menurut aku, lebih aneh lagi orang-orang yang demen nonton satu sinetron yang ceritanya makin hari makin ga jelas. ngorbanin waktu dan kegiatan lain hanya demi seorang bunga, jelita dan siapapun lainnya.
So....biar kata aneh...tapi aku tetap normal. Yatoh??? Karena aku bisa liat, mana cerita yang patut ditonton, mana yang patut diabaikan saja....
Langganan:
Postingan (Atom)