melalui dongeng, katanya kita bisa membentuk kepribadian anak lebih baik lagi. Yah, ada benarnya, kali ya...
Daripada kita sibuk bekoar tentang mana yang baik dan benar...(mana belum tentu bisa nyontoin yang baik pula...)
mending lewat buku cerita...
Sejauh ini, aku bisa ngebuktiin kebenaran anjuran ini. Misal, Meca belajar bilang tolong dan terimakasih (dulu, melalui contoh, dia bisa ngikutin, tapi...beberapa bulan terakhir -10 bulan dah masuk itungan tahun,belom ya?- lenyap deh kata-kata itu)dari buku2 cerita Barney&friends. bukan buku bilingual. Buku yang sudah dialihbahasakan.
Mahal? relatif...buku barney ini, 15rb(disc.25%). trus, buku2 dongeng daerah, yang harganya antara 4rb-6rb...
Tapi, lumayan repot, sewaktu mata udah berat...ni anak2 dateng bawain buku...minta dibacain...kalo ditolak, ga tega...
Bukan, bukannya ga tega ngeliat anak2 ini...tapi, kalo ditolak...mereka akan minta dibacain ma bapaknya, dan sudah pasti, si papaakan membaca dengan datar tanpa intonasi, jadi, si papa baca buku bermoral...anak2 saling tinju....
banyak kemajuan sih, lewat cerita2 yang aku bacakan.
Ucapan terima kasih, tolong, mama sayang, ga boleh bohong, salam, cium tangan, dll mulai bertebaran...
Eiittsss...jangan kagum dulu...ini bukan keluarga iklan...ini keluarga nyata. Ada yang manis...lebih banyak kerusuhannya...(namanya juga proses pembelajaran,kan?)
Nah, beberapa waktu lalu, aku membacakan cerita MalinKundang.
bukan pertama kalinya, memang. Tapi tumben aja anak2 menyimak dengan baik(setelah sekitar 5 kali dibacakan...see,memang tidak mudah)...
Selesai dibacakan...mereka banyak nanya tentang MalinKundang yang jadi batu...
Meca: "Kenapa dia jadi batu.ma?" (cara baca aku kurang jelas, mungkin ya?)
Vina: "ini jaman dulu ma? sekarang batunya bukannya udah abis dikikis air laut?" (cape deeehhh....)
Yah, kadang, pertanyaan anak2 bisa nyambung, bisa juga tidak...
Efek 'moral baik' biasanya terjadi besoknya, atau beberapa hari seudahnya.
Misal, kalau mau minta susu, kami semua akan ingatkan Meca "Kalau minta apa gitu...Barney bilang apa?"
Kalau lupa rapikan kamar, Kami ingatkan Vina "Nin, Jilly kan selalu ngerapiin barang2nya..."
yah, sesuatu seperti itu deh....
Satu komentar sebelum tidur dari Vina yang bikin aku sumringah...(seudah baca MalinKundang)..."wah, kalau dosa ama ibu,bisa dikutuk jadi batu loh..."
keren ya mama????
Besoknya, dengan harapan mereka bakal lebih manis sama mama, aku berusaha membantu mereka mengingat kisah MK itu (oke, ini bukan contoh yang baik...ini contoh superioritas...)
kata2 macam "eh, ga bole lo ngelawan mama", ato "ih, kok mama dimarahin?" dengan lanjutan "tar dosa lo, kayak malin kundang"....beredar selama seharian...
Sorenya, anak2 (Vina tepatnya) nanya..."ma,kalo malin kundang disihir ama ibunya, karna dosa kan ya?"
jelas, aku iyakan...dengan penuh kebanggaan "kelompok-Mama".
Reaksinya? kedua anakku bergandengan tangan,masuk ke dalam sambil bisik2 dan tertawa bahagia....(perasaan jadi ga enak...) apalagi aku liat, si Ketut, asisten suami, cekikikan...
Aku : "knapa tut???"
Ketut: "hihihihi...tadi kata Vina sama mesa....untung ya mama kita bukan mamanya malin kundang...jadi biar nakal, kita ga bisa diubah jadi batu..."
*gubbraakkk*
haddeeehhh....belum nyampe ni pesan moralnya...
Yah, namanya juga usaha...ya?
Selasa, 11 Januari 2011
Senin, 03 Januari 2011
Tentang Bintang
Aku suka bintang...
Selalu suka bintang. Sejak dulu, sekarang, dan mungkin sampai nanti.
Kenapa mungkin? Manusia bisa berubah...siapa yang tau? -ga mau sesumbar-
Kalau orang make a wish saat bintang jatuh. Aku memilih make a wish saat bintang terlihat paling terang. Tunjuk Satu Bintang. then make your wish...
Aku ingin menjadi bintang yang bersinar...kalau bisa untuk semua orang...
tapi, yang paling penting, untuk keluargaku.
Aku suka bintang...
Selalu suka bintang...
Tapi aku tidak suka bintang laut. Ga tau kenapa...mungkin karena tidak bersinar?
Mungkin, karna aku tidak suka gelap....
Aku suka bintang, dan itu membuat aku selalu suka pada sebait lirik lagu grup "air"
Bintang di langit, kerlip engkau disana
memberi cahayanya di setiap insan...
Malam yang dingin, kuharap engkau datang
memberi kerinduan di sela mimpi-mimpinya...
ada yang aneh dengan lagu ini, memang...'kenapa saat malam dingin justru engharap bintang datang?'
-bintang menerangi, bukan menghangatkan...-
apapun itu...aku suka lagu ini...bait ini maksudnya...
lagu yang selalu aku gunakan untuk meninabobokan anak2ku...
-selain Ruli Abangku-
Aku suka bintang...
selalu suka bintang....
Apa kalian juga suka bintang????
Selalu suka bintang. Sejak dulu, sekarang, dan mungkin sampai nanti.
Kenapa mungkin? Manusia bisa berubah...siapa yang tau? -ga mau sesumbar-
Kalau orang make a wish saat bintang jatuh. Aku memilih make a wish saat bintang terlihat paling terang. Tunjuk Satu Bintang. then make your wish...
Aku ingin menjadi bintang yang bersinar...kalau bisa untuk semua orang...
tapi, yang paling penting, untuk keluargaku.
Aku suka bintang...
Selalu suka bintang...
Tapi aku tidak suka bintang laut. Ga tau kenapa...mungkin karena tidak bersinar?
Mungkin, karna aku tidak suka gelap....
Aku suka bintang, dan itu membuat aku selalu suka pada sebait lirik lagu grup "air"
Bintang di langit, kerlip engkau disana
memberi cahayanya di setiap insan...
Malam yang dingin, kuharap engkau datang
memberi kerinduan di sela mimpi-mimpinya...
ada yang aneh dengan lagu ini, memang...'kenapa saat malam dingin justru engharap bintang datang?'
-bintang menerangi, bukan menghangatkan...-
apapun itu...aku suka lagu ini...bait ini maksudnya...
lagu yang selalu aku gunakan untuk meninabobokan anak2ku...
-selain Ruli Abangku-
Aku suka bintang...
selalu suka bintang....
Apa kalian juga suka bintang????
Sick,Sick, Go Away....
Melewati hari minggu di rumah sakit....
Rencana hari minggu tanggal 2 kemarin adalah maturan ke Pura Uluwatu. Kabar tak enak datang dari uwak di denpasar...
Sekitar pk.03.30 subuh, beliau masuk rumah sakit karena muntah darah.
Sakitnya sudah lama, karena umur juga ya...tapi aku belum sempat kesana menjenguk. -Bentuk pembelaan diri, kenapa belum sempat? rasanya bukan karena sempat atau tidak- .
Secara spontan, kurubah rencana. Aku memilih bersama papa ke Denpasar, menjenguk sekaligus menemani uwak hari ini. Beberapa orang mengatakan, "apa bedanya? toh sehabis maturan akan mampir ke Rumah Sakit, jadi kenapa harus dari pagi ke sana? Kan sudah mengucap kata akan maturan?"
Jadi bimbang...
Suami bilang..."hati mama sudah ada di rumah sakit, bukan lagi ke tempat maturan...ikutin saja, menemani uwak, juga bentuk bakti kepada Tuhan, kan?"
'asisten' di rumah bilang "mama ina, ke sana aja, syukur kalau memang tidak ada apa-apa...tapi kalaupun ada apa-apa, kan tidak enyesal..."
aku langsung memilih ke Denpasar bersama papaku. Mesa bersamaku, suami dan Vina menemani rombongan sembahyang (janji sudah diucap kan?)
-benar2 tidak berniat ingkar, tapi aku hanya tidak ingin ada sesal, aku berhutang budi pada uwak yang setia menemani aku di hari-hari pertama aku menginjakkan kaki di Denpasar, dan mengurus pendaftaranku di SMU dulu,saat ortu masih mengurus kepindahan di Jayapura sana, lagipula, beliau uwak-ku, kan?-
Sehari di Rumah Sakit, melihat kondisi uwak, menemani beliau, mendengarkan setiap keluhan, memeluknya, menggenggam tangannya...membuat aku yakin...ini bukan pilihan yang salah. Kebetulan, Mesa yang biasanya rewel, sama sekali tidak rewel, malah dia suka ikutan membantu kalau uwak mau duduk, mau makan,dll.
Melewati waktu bersama papa, saling berbagi cerita, curhat, tertawa, saling menghibur...adalah bonus yang aku dapat hari ini.
Saat suami datang bersama rombongan, aku benar2 lega, lega karena aku tidak mengambil keputusan yang menyesalkanku...aku tidak hanya datang sebagai 'pengunjung tamu', tapi aku datang sebagai bagian dari keluarganya...
Di sela tidurnya, kami mendengar dia bicara "iya, koming datang...koming datang..." kemudian beliau senyum...dalam tidur...aku benar2 lega.
-oming ingin ada disana, tapi ada anak2 yang tidak bisa oming tinggal, tapi oming benar2 berharap uwak cepat sembuh-
walau, kami juga belum tahu, sebenarnya apa sakit uwak(menunggu hasil lab)
di perjalanan, suami baru memberi tahu, Aby, keponakanku, anak dari adik suamiku (yang sangat dekat dengan kami, yang memanggilku mama, yang merasa lebih punya hak atas diriku, dibanding mesha...)ada di Rumah Sakit Bangli, karena sesak...
aku benar2 lemes...
Menurut iparku, Aby sudah lebih baik, saat aku telepon, dia sudah tidur.
Ah, hati dan pikiranku benar2 belum sepenuhnya di rumah...
Please...Sick, sick, go away...
Rencana hari minggu tanggal 2 kemarin adalah maturan ke Pura Uluwatu. Kabar tak enak datang dari uwak di denpasar...
Sekitar pk.03.30 subuh, beliau masuk rumah sakit karena muntah darah.
Sakitnya sudah lama, karena umur juga ya...tapi aku belum sempat kesana menjenguk. -Bentuk pembelaan diri, kenapa belum sempat? rasanya bukan karena sempat atau tidak- .
Secara spontan, kurubah rencana. Aku memilih bersama papa ke Denpasar, menjenguk sekaligus menemani uwak hari ini. Beberapa orang mengatakan, "apa bedanya? toh sehabis maturan akan mampir ke Rumah Sakit, jadi kenapa harus dari pagi ke sana? Kan sudah mengucap kata akan maturan?"
Jadi bimbang...
Suami bilang..."hati mama sudah ada di rumah sakit, bukan lagi ke tempat maturan...ikutin saja, menemani uwak, juga bentuk bakti kepada Tuhan, kan?"
'asisten' di rumah bilang "mama ina, ke sana aja, syukur kalau memang tidak ada apa-apa...tapi kalaupun ada apa-apa, kan tidak enyesal..."
aku langsung memilih ke Denpasar bersama papaku. Mesa bersamaku, suami dan Vina menemani rombongan sembahyang (janji sudah diucap kan?)
-benar2 tidak berniat ingkar, tapi aku hanya tidak ingin ada sesal, aku berhutang budi pada uwak yang setia menemani aku di hari-hari pertama aku menginjakkan kaki di Denpasar, dan mengurus pendaftaranku di SMU dulu,saat ortu masih mengurus kepindahan di Jayapura sana, lagipula, beliau uwak-ku, kan?-
Sehari di Rumah Sakit, melihat kondisi uwak, menemani beliau, mendengarkan setiap keluhan, memeluknya, menggenggam tangannya...membuat aku yakin...ini bukan pilihan yang salah. Kebetulan, Mesa yang biasanya rewel, sama sekali tidak rewel, malah dia suka ikutan membantu kalau uwak mau duduk, mau makan,dll.
Melewati waktu bersama papa, saling berbagi cerita, curhat, tertawa, saling menghibur...adalah bonus yang aku dapat hari ini.
Saat suami datang bersama rombongan, aku benar2 lega, lega karena aku tidak mengambil keputusan yang menyesalkanku...aku tidak hanya datang sebagai 'pengunjung tamu', tapi aku datang sebagai bagian dari keluarganya...
Di sela tidurnya, kami mendengar dia bicara "iya, koming datang...koming datang..." kemudian beliau senyum...dalam tidur...aku benar2 lega.
-oming ingin ada disana, tapi ada anak2 yang tidak bisa oming tinggal, tapi oming benar2 berharap uwak cepat sembuh-
walau, kami juga belum tahu, sebenarnya apa sakit uwak(menunggu hasil lab)
di perjalanan, suami baru memberi tahu, Aby, keponakanku, anak dari adik suamiku (yang sangat dekat dengan kami, yang memanggilku mama, yang merasa lebih punya hak atas diriku, dibanding mesha...)ada di Rumah Sakit Bangli, karena sesak...
aku benar2 lemes...
Menurut iparku, Aby sudah lebih baik, saat aku telepon, dia sudah tidur.
Ah, hati dan pikiranku benar2 belum sepenuhnya di rumah...
Please...Sick, sick, go away...
Sabtu, 06 November 2010
Yang Penting Semangatnya, Sayangku...

Gambar yang aneh, ya?
Well, buat aku, ini bukan tentang keindahan atau kesempurnaan. Tapi tentang nilai sebuah usaha dan semangat buat mengerjakan sesuatu.
Wow! Bahasa-nya Nnuuuaaaarrr biasa…
Jadi, sebenarnya, gambar di sebelah ini…adalah hasil prakarya Davina.
Ini bukan gambar tangan, tapi, yang bentuknya kayak rumah dkk itu, dibuat dari kertas jagung. Polanya dia gambar di kertas jagung. Trus digunting, dan ditempel d kertas gambar.
Sebenernya ni, aku nyadar diri, dalam hal prakarya begini, terlihat jelas kalo Vina nurunin bakatnya dari emaknya. Artinya, prakarya = bahaya mengancam.
Yang beda, aku dulu kalo bikin hajar bleh aja. Gak pernah nyambung ama tema.
Karna itu, nilai prakarya aku stabil banget jaman SD dulu. 6,5. Aku sempat curiga….kali aja ya, tiap kali ngumpul prakarya, begitu ngeliat nama aku, tanpa diperiksa ama sang Guru, langsung aja gitu dikasi nilai 6,5. Yah mungkin beliau mikir, daripada sakit mata, mending kasi nilai aja langsung. Mungkin loh ya…
Bedanya ama Vina, semangat dia itu loh… kalo gak salah ada deh dia ngabisin sekitar 3 gulung lebih kertas jagung, buat nyoba bentuk-bentuk yang pas di ati buat dijadiin prakarya.
Aku sih udah gatel aja mau bantuin, tapi terus aja ditolak. Kadang ikutan gedeg juga denger dia ngedumel2 gara-gara bete ama pola yang dia buat.
Nah, malem itu, yang aku inget, terakhir ngeliat jam, udah jam 21.an, dia masih sibuk nempel2.
Trus, aku ketiduran. Berarti, dia tidur lebih malem jelas. Yang pasti, paginya, gunting dan lem aku, udah kembali di dalem tas. Gitu juga kertas yang berantakan, uda diberesin. Jelas, ni anak sempet beres2. Itu hari rabu pagi.
Hari itu, dia bangga sekali ama prakarya-nya. Aku lumayan takjub sih. Aku gak ngarepin kok dia bikin sesuatu yang amat sangat indah. Yang aku tau, itu adalah 100% hand made Davina. Aku bangga.
Rabu siang, aku berangkat jam 11-an gitu, jadi ga ketemu Vina saat pulang sekolah. Sorenya, kami ga ngomongin prakarya, karna dia sibuk ama jadwal ul.umum. yang jelas, paginya dia sempat nyinggung tentang temen2nya yang banyak dibantuin ibu atau kakak2nya Kita bikin perencanaan belajar. Besoknya, juga begitu.
Sampai pada kamis malam, sehabis mandi, aku naik ke atas, entah gimana, mataku langsung ‘nangkep’ prakarya dia d rak buku. Ditaruh sembarangan (kayak dilempar gitu).
Langsung aku ambil, dan nanya ke Vina “kak…kok prakarya kakak ditaruh di rak bawah?” (tempat koran2 bekas).
Tak disangka….”Hhhuuaaaaaa…” dia nangis!!!
Kan dapet 79…kok nangis?
“mama, nilai ina paling kecil itu…yang lain dapet 90…..si A juga dapet 90….”
( A = temennya yang dibuatin ama mamanya)
Aku udah usaha nenangin dia. Tapi, ternyata, ini udah nyesek buat dia sejak kemarin.
Rencana, ni prakarya mau dibuang. Karna dia bete, yang dibantuin bisa dapet nilai gede. Cuma dia ama Angel yang dapet 79. Udah gitu, mamanya Angel, 100% aku banget…dalam hal mendidik anak. Jadi jelas, tak ada bantuan untuk menyelesaikan prakarya.
Malam itu, dia nangis ampe sesenggukan.
Jujur, aku bisa banget ngerasain sedihnya dia. Aku jadi pengen nangis juga. Berlebihankah?
Terserah…yang pasti aku tau banget betapa capeknya dia. Betapa banyak yang dia lewati buat nyelesaikan prakarya dia.
Aku dan dia sama-sama berbakat. Tapi, aku asal jadi, dan dia, berusaha semaksimal mungkin.
Bagi aku…prakarya dia boleh dianggap (bahkan jujur) kurang menarik. Tapi, yang penting adalah… bagaimana sampai dia bisa nyelesaiin itu.
Aku selalu ngajarin anak-anak, tak penting berapa nilai akhirnya. Yang penting adalah, bagaimana usaha kita untuk mencapai nilai akhir itu.
Asalkan udah berusaha semampu yang kita bisa, walaupun akhirnya bukan jadi yang no.1, ya sudah…ga akan nyesel pastinya. Karna kita udah usaha.
Aku ngajarin anak2 seperti itu, Cuma karna aku ga pengen mereka menyesal di belakang. Jangan sampai seudah selesai lomba/ ulangan baru ngomong…”aduh, padahal itu ada di catetan…” ato “aduh, kenapa ya kemaren ga latihan…”
Pokoke jangan sampai ada hal semcam itu.
Aku ingin, saat mereka menerima kekalahan, mereka menerima dengan lapang dada.
Setidaknya, mereka sudah berusaha maksimal. Jadi, ga ada penyesalan. Kalah dari yang terbaik, tidak memalukan, bukan?
Beberapa kali, hal ini cukup berhasil. Saat akan mengikuti lomba menari di Bangli, Vina latihan setiap hari ke sanggar. Aku dan papanya bergantian mengantar Vina.selama 2 minggu full. Saat lomba, banyak keluarga yang nonton. Dan semua puas. Dia menari dengan amat bagus! Bahkan, banyak orang tua dari anak2 yang satu sanggar sama Vina, datang menonton, karna saat latihan, Vina cukup terkenal.
Memang, dia ga keluar sebagai juara. Saat itu, dia kelas 1 SD, lawannya? Anak kelas yang lebih besar, untuk kategori tarian yang ringan, Puspanjali. Bahkan dalam grup Vina (3orang), yang 2 lagi sudah kelas 4!
Setidaknya, usaha dia dihargai oleh pemilik sanggar, dan kakak yang melatih…dia dapet bingkisan, sebagai peserta yang paling muda. Dia ga kecewa, karna setidaknya udah usaha…dan, yang juara juga emang keren…
Habis itu…typhus dia kumat…
Tapi, dia bahagia…banget.
Gitu juga saat ikut lomba IPA di Denpasar. Di sebuah sekolah swasta yang cukup besar. Latihannya sejak sebulan sebelumnya. Sama aku, juga guru sekolahnya.
Saat lomba, dia duduk di urutan 6! Dari 28 peserta. Sayang, piala dan naik panggung Cuma sampai Harapan II.
Lagi-lagi, owner sekolah ybs, begitu tahu Vina dari bangli, dan ngeliat betapa semangatnya dia, langsung deh, si Vina dikasi perangkat mewarnai yang banyak banget!
Dan kata2 Vina saat itu, “yang penting kan Ina udah usaha ya, Ma?”
Duh, padahal tau kok, dia kecewa…
Seudah dapet perangkat mewarnai itu…dia udah ga inget lagi ma piala. Hehehehehehe……
Tapi kali ini, yang bikin Vina sangat kecewa…(begitu juga aku), adalah, kalahnya Vina juga dari anak2 yang bikinnya ga 100% hand made.
Malam itu juga, aku usaha majang prakarya dia di kamarku.
Dan, saat ini…aku yakinin dia…
Biarpun nilai dia paling kecil….tapi,d sekolah Vina, ini adalah satu2nya prakarya yang dipajang di blog mamanya…bahkan di wall Facebook mama!
Hehehehehe….Good work, my dear…tetap semangat!
Sabtu, 16 Oktober 2010
PIKUN.COM
Penyakit saya ini, sebenarnya bukan penyakit yang spektakuler. Toh, dialami banyak orang, dan bahkan bukanlah penyakit yang masuk kategori “10 besar penyakit yang membunuh”. Kecuali, mungkin kalau anda apes. Misalnya, anda lupa kalau saat ini sedang bertamu ke rumah calon mertua, eh…malah seenaknya menghabiskan jatah makan orang satu rumah…well, itu mungkin bukan masuk kategori pikun, ya? Tapi…norak.
Kemarin saya baca di surat kabar, bahwa olahraga seperti jalan kaki, bisa membantu mengatasi pikun. Catat: mengatasi…bukan menyembuhkan. Kesimpulan, balik lagi ke niat, usaha dan nasib. Hehehehehe…
Walaupun bukan jenis penyakit ‘berbahaya’, tapi tetap saja, keberadaan penyakit ini menyebalkan, bahkan menyusahkan orang-orang disekitar kita. Masalahnya, pikun saya ini, bukan baru sekarang saja. Biasanya pikun kan dipengaruhi oleh peningkatan usia, hormon, dan lain sebagainya (terdengar ilmiah, bukan? Padahal saya juga tidak tahu pasti….kira-kira saja). Lha, saya ini sudah punya penyakit (katakan saja bakat!) pikun sejak masa remaja.
Kejadian-kejadian dulu…anggap saja saya sudah lupa. Maklum, kalau dirinci semua, sama artinya saya sedang menjatuhkan martabat sendiri. Sebaiknya dibahas yang masih baru saja, jadi akan ada permakluman bahwa kemungkinan saya pikun karena pengaruh hormon, setelah menjadi ibu rumah tangga, juga bekerja.
Apakah saya tidak ada usaha untuk memperbaiki sifat saya? Wah, jangan salah. Sejak 6 bulan terakhir ini, saat pikun makin menjadi, saya tidak pernah lupa membuat catatan jika akan bepergian atau berbelanja. Jadi kalau akan bepergian, sehari sebelumnya saya sudah mencatat apa saja yang akan dibawa. Jadi, tak ada yang tercecer. Walaupun, kadang lupa dinaikkan ke mobil…hahahahahaha! Yang penting saya sudah membuat catatan, menyiapkan semuanya, bagian membawa, diambil alih oleh suami. Aman…
Sejauh ini, yang paling berhasil adalah catatan belanja. Kalau dulu, belanja bulanan bisa banyaaakkk…sekali, tapi sampai di rumah, yang kurang juga banyak! Ternyata, yang tidak penting, atau stoknya masih ada yang saya beli. Atau, kalaupun sudah tepat…waktu ubtuk berbelanja bisa meningkat hingga 3x lipat. Kenapa? Karena saya harus mengingat-ingat dulu… nah sekarang, urusan belanja, sudah bukan masalah…
Hanya saja hal-hal kecil yang tidak bisa mengandalkan catatan itulah yang paling berbahaya. Soal lupa membawakan buku untuk teman, salah kostum, janji dengan teman…karena, kadang saya lupa mencatatnya…
Untung saja, saya tidak pernah lupa jadwal PR, ulangan, ataupun jadwal mengumpul tugas murid-murid saya. Sehingga saya termasuk kategori guru yang “Tidak boleh Diabaikan…”
Di luar itu, Yang paling sering menjadi korban, tentu saja, keluarga dan teman-teman terdekat. Suami? Wah jangan ditanya. Untung saja suami saya masuk kategori orang yang sangat berlapang dada. Kadang suami suka bĂȘte …tapi, namanya juga lupa ya? Begitu juga, kalau bepergian, ketinggalan HP, dompet, KTP, dan sejenisnya, sudah biasa (suami hanya bisa mengelus dada, mau marah…barang-barang itu kan tidak akan datang juga,kan? Begitu katanya…). Untungnya barang-barang tersebut tertinggal di rumah bukan di luar sana. Untung? Rasanya tidak juga, contohnya saat dompet saya tertinggal…itu adalah saat saya mengajak anak-anak dan keponakan bermain di arena bermain sebuah pertokoan di Gianyar. Kebetulan, di saku tas saya hanya ada uang sebesar Rp.100.000,-. Jadilah, yang seharusnya mereka bermain sepuasnya,terpaksa hanya dijatah Rp.20.000,-/ anak. Belum lagi, saat jam makan (total saya membawa 4 anak), kami membeli 2 nasi bungkus, dibagi oleh mereka berempat! Saya? Ya mangap lah…
Di tempat kerja, saya juga sering mendapat telpon dadakan (dan penuh amarah) dari rumah.
2 minggu lalu, Vina, putri sulung saya menelepon “ma…tadi ina kelaparan di sekolah…..”
Jadi begini, di sekolahnya, murid kelas 2 SD masuk pk.10.15 wita. Kebetulan karena ada perayaan something Vina berangkat sejak pk.07.00, saat itu Vina hanya sempat minum susu dan makan roti. Apalagi, saya memang jarang menyiapkan lauk komplit sepagi itu. Karenanya, saya berjanji, saat saya berangkat kerja siang nanti (saya mengajar siang), akan singgah ke sekolahnya membawakan bekal nasi dan ayam goreng kesukaannya. Saat berangkat, kotak nasi lengkap sudah saya masukkan ke dalam tas. Sayangnya…saya lupa singgah di sekolahnya….
Mama juga pernah complain atas pikun saya ini (sebenarnya sih, sering…). Yang saya lupa membawakan pesanan-pesanan mama, lupa menyampaikan pesan penting mama untuk bibi atau paman, atau…seperti kemarin. Saat saya sedang bersiap masuk kelas…(pukul 14.30), mama menelepon…”oming….mana tempe bacem buat mama? Ini, bapak dari tadi Cuma makan lalapan daun singkong…” astaga…setelah saya cek di mobil…plastik berisi tempe bacem yang siap digoreng, masih teronggok jumawa di kursi belakang…seperti biasa…saya lupa singgah. Komentar suami malamnya, “kok, nggak sekalian bawa penggorengan dan kompor, ma?” (nada menyindir…). Kejadian siang tadi malah parah…saat keluar dari apotik, dengan pede saya langsung memakai helm, dan naik ke atas motor merah kesayangan. Sampai tiba-tiba, seorang ibu (yang tadi berbelanja di apotik yang sama…) mendekati saya dan berkata…”aduh, ibu…maaf, itu motor saya bu…”
O M G…..saya baru ingat, motor saya lagi di servis, dan saya membawa motor milik adik ipar saya…duh…yang kayak begini kan susah dicatat ya…? *blushing*
Kemarin saya baca di surat kabar, bahwa olahraga seperti jalan kaki, bisa membantu mengatasi pikun. Catat: mengatasi…bukan menyembuhkan. Kesimpulan, balik lagi ke niat, usaha dan nasib. Hehehehehe…
Walaupun bukan jenis penyakit ‘berbahaya’, tapi tetap saja, keberadaan penyakit ini menyebalkan, bahkan menyusahkan orang-orang disekitar kita. Masalahnya, pikun saya ini, bukan baru sekarang saja. Biasanya pikun kan dipengaruhi oleh peningkatan usia, hormon, dan lain sebagainya (terdengar ilmiah, bukan? Padahal saya juga tidak tahu pasti….kira-kira saja). Lha, saya ini sudah punya penyakit (katakan saja bakat!) pikun sejak masa remaja.
Kejadian-kejadian dulu…anggap saja saya sudah lupa. Maklum, kalau dirinci semua, sama artinya saya sedang menjatuhkan martabat sendiri. Sebaiknya dibahas yang masih baru saja, jadi akan ada permakluman bahwa kemungkinan saya pikun karena pengaruh hormon, setelah menjadi ibu rumah tangga, juga bekerja.
Apakah saya tidak ada usaha untuk memperbaiki sifat saya? Wah, jangan salah. Sejak 6 bulan terakhir ini, saat pikun makin menjadi, saya tidak pernah lupa membuat catatan jika akan bepergian atau berbelanja. Jadi kalau akan bepergian, sehari sebelumnya saya sudah mencatat apa saja yang akan dibawa. Jadi, tak ada yang tercecer. Walaupun, kadang lupa dinaikkan ke mobil…hahahahahaha! Yang penting saya sudah membuat catatan, menyiapkan semuanya, bagian membawa, diambil alih oleh suami. Aman…
Sejauh ini, yang paling berhasil adalah catatan belanja. Kalau dulu, belanja bulanan bisa banyaaakkk…sekali, tapi sampai di rumah, yang kurang juga banyak! Ternyata, yang tidak penting, atau stoknya masih ada yang saya beli. Atau, kalaupun sudah tepat…waktu ubtuk berbelanja bisa meningkat hingga 3x lipat. Kenapa? Karena saya harus mengingat-ingat dulu… nah sekarang, urusan belanja, sudah bukan masalah…
Hanya saja hal-hal kecil yang tidak bisa mengandalkan catatan itulah yang paling berbahaya. Soal lupa membawakan buku untuk teman, salah kostum, janji dengan teman…karena, kadang saya lupa mencatatnya…
Untung saja, saya tidak pernah lupa jadwal PR, ulangan, ataupun jadwal mengumpul tugas murid-murid saya. Sehingga saya termasuk kategori guru yang “Tidak boleh Diabaikan…”
Di luar itu, Yang paling sering menjadi korban, tentu saja, keluarga dan teman-teman terdekat. Suami? Wah jangan ditanya. Untung saja suami saya masuk kategori orang yang sangat berlapang dada. Kadang suami suka bĂȘte …tapi, namanya juga lupa ya? Begitu juga, kalau bepergian, ketinggalan HP, dompet, KTP, dan sejenisnya, sudah biasa (suami hanya bisa mengelus dada, mau marah…barang-barang itu kan tidak akan datang juga,kan? Begitu katanya…). Untungnya barang-barang tersebut tertinggal di rumah bukan di luar sana. Untung? Rasanya tidak juga, contohnya saat dompet saya tertinggal…itu adalah saat saya mengajak anak-anak dan keponakan bermain di arena bermain sebuah pertokoan di Gianyar. Kebetulan, di saku tas saya hanya ada uang sebesar Rp.100.000,-. Jadilah, yang seharusnya mereka bermain sepuasnya,terpaksa hanya dijatah Rp.20.000,-/ anak. Belum lagi, saat jam makan (total saya membawa 4 anak), kami membeli 2 nasi bungkus, dibagi oleh mereka berempat! Saya? Ya mangap lah…
Di tempat kerja, saya juga sering mendapat telpon dadakan (dan penuh amarah) dari rumah.
2 minggu lalu, Vina, putri sulung saya menelepon “ma…tadi ina kelaparan di sekolah…..”
Jadi begini, di sekolahnya, murid kelas 2 SD masuk pk.10.15 wita. Kebetulan karena ada perayaan something Vina berangkat sejak pk.07.00, saat itu Vina hanya sempat minum susu dan makan roti. Apalagi, saya memang jarang menyiapkan lauk komplit sepagi itu. Karenanya, saya berjanji, saat saya berangkat kerja siang nanti (saya mengajar siang), akan singgah ke sekolahnya membawakan bekal nasi dan ayam goreng kesukaannya. Saat berangkat, kotak nasi lengkap sudah saya masukkan ke dalam tas. Sayangnya…saya lupa singgah di sekolahnya….
Mama juga pernah complain atas pikun saya ini (sebenarnya sih, sering…). Yang saya lupa membawakan pesanan-pesanan mama, lupa menyampaikan pesan penting mama untuk bibi atau paman, atau…seperti kemarin. Saat saya sedang bersiap masuk kelas…(pukul 14.30), mama menelepon…”oming….mana tempe bacem buat mama? Ini, bapak dari tadi Cuma makan lalapan daun singkong…” astaga…setelah saya cek di mobil…plastik berisi tempe bacem yang siap digoreng, masih teronggok jumawa di kursi belakang…seperti biasa…saya lupa singgah. Komentar suami malamnya, “kok, nggak sekalian bawa penggorengan dan kompor, ma?” (nada menyindir…). Kejadian siang tadi malah parah…saat keluar dari apotik, dengan pede saya langsung memakai helm, dan naik ke atas motor merah kesayangan. Sampai tiba-tiba, seorang ibu (yang tadi berbelanja di apotik yang sama…) mendekati saya dan berkata…”aduh, ibu…maaf, itu motor saya bu…”
O M G…..saya baru ingat, motor saya lagi di servis, dan saya membawa motor milik adik ipar saya…duh…yang kayak begini kan susah dicatat ya…? *blushing*
Selasa, 05 Oktober 2010
MARI BERPIKIR BIJAK
“huhuhuhuhuuuuuu……………..” pulang sekolah, Vina nangis.
“knapa geg???” aku, jelas aja nanya ya…namanya juga ngeliat anak nangis. Apalagi ni anak pake acara minta pindah sekolah gitu.
“gara-gara papa sih…ina jadinya digangguin ama temen2 cowok di sekolah…” kata dia.
“….?????” Aku masih berpikir keras. Papa = penyebab ina digangguin???
Agak aneh ya…si papa kan ga pernah ikut2an soal temen2nya anak2. Ada juga dia suka lupa nama temennya mereka. “kok…papa?” tanyaku.
“habis, tadi waktu nyisirin Ina, papa bilang ina tambah cantik…jadinya, kalo ina cantik kan jadi tambah sering diganggu…” jawab dia
* nnnnnnggggiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiingggg*
Ada yang aneh sama jawaban dia:
1. Papanya nyisirin rambut ina? Ya, betul…tapi bukan karna pada saat yang sama aku lagi benerin genteng loh…alasannya, karna aku sedang ke pasar di kota, jadi papanya bantuin dia sisiran.
2. Kalo papa nyisirin = Ina terlihat cantik? Ini benar2 aneh…yang ada, ikatan rambut dia tidak sinkron dimana titik tengahnya, baru tepat.
Kesimpulan.
1. Kenapa papa bilang cantik? Supaya ga disuruh nyisirin rambut lagi. Maksudnya, walaupun bentuk ikatan rambutnya aneh…si papa ga disuruh ngulang.
2. Kenapa Vina digangguin? Ya emang tiap hari aja dia digodain.
3. Soal makin cantik? Yeeeee….emang aja dia narsis!
Maka, solusi yang harus diambil oleh mama yang bijaksana…haruslah dipikirkan secara matang, supaya tepat. Pikiranku saat itu adalah…”ni anak harus dibelai dan diberikan hiburan ataukah…minta ditampol????”
Hmmmm…..menurut lo???
“knapa geg???” aku, jelas aja nanya ya…namanya juga ngeliat anak nangis. Apalagi ni anak pake acara minta pindah sekolah gitu.
“gara-gara papa sih…ina jadinya digangguin ama temen2 cowok di sekolah…” kata dia.
“….?????” Aku masih berpikir keras. Papa = penyebab ina digangguin???
Agak aneh ya…si papa kan ga pernah ikut2an soal temen2nya anak2. Ada juga dia suka lupa nama temennya mereka. “kok…papa?” tanyaku.
“habis, tadi waktu nyisirin Ina, papa bilang ina tambah cantik…jadinya, kalo ina cantik kan jadi tambah sering diganggu…” jawab dia
* nnnnnnggggiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiingggg*
Ada yang aneh sama jawaban dia:
1. Papanya nyisirin rambut ina? Ya, betul…tapi bukan karna pada saat yang sama aku lagi benerin genteng loh…alasannya, karna aku sedang ke pasar di kota, jadi papanya bantuin dia sisiran.
2. Kalo papa nyisirin = Ina terlihat cantik? Ini benar2 aneh…yang ada, ikatan rambut dia tidak sinkron dimana titik tengahnya, baru tepat.
Kesimpulan.
1. Kenapa papa bilang cantik? Supaya ga disuruh nyisirin rambut lagi. Maksudnya, walaupun bentuk ikatan rambutnya aneh…si papa ga disuruh ngulang.
2. Kenapa Vina digangguin? Ya emang tiap hari aja dia digodain.
3. Soal makin cantik? Yeeeee….emang aja dia narsis!
Maka, solusi yang harus diambil oleh mama yang bijaksana…haruslah dipikirkan secara matang, supaya tepat. Pikiranku saat itu adalah…”ni anak harus dibelai dan diberikan hiburan ataukah…minta ditampol????”
Hmmmm…..menurut lo???
Jumat, 20 Agustus 2010
DOA SEORANG IBU RUMAH TANGGA
by. Sheila Hammock Gosney
Terima kasih ya, Tuhan,
Untuk hal-hal yang harus kukerjakan,
Tugas untuk ditunaikan,
Yang tak pernah benar-benar selesai.
Terima kasih untuk pakaian kotor,
Yang menggunung dengan cepat.
Untuk bak mandi yang baru saja kubersihkan,
Meski aku tahu itu tak akan bertahan lama.
Terima kasih untuk semua mainan,
Yang berserakan di lantai.
Untuk sepatu-sepatu berlapis lumpur kering,
Yang berserakan di depan pintu.
Terima kasih untuk bekas jari kotor,
Di gelas yang tadinya bersih.
Terima kasih untuk karpetku,
Yang sekarang tertutup rumput.
Terima kasih untuk dapur,
Yang tak pernah bersih.
Untuk sabut penggosok,
Yang tergolek di bak cuci piring.
Adalah bukti bahwa aku diberkati,
Tuhan menganugerahiku sebuah keluarga,
Karenanya, aku bisa hidup di tengah semua kekacauan ini.
taken from: CHICKEN SOUP FOR THE SOUL
"Rumahku Istanaku & kisah lainnya"
puisi ini, benar-benar menyadarkan aku...bahwa di tengah semua kekacauan dan tingkat frustasi yang kadang sudah hampir sampai di ambang batas...aku benar-benar beruntung, bisa merasakan semua kekacauan yang justru bisa aku jadikan kenangan yang amat indah...
Benar, profesi utamaku...saat ini...sebagai ibu...adalah impian dan kebanggan dari jutaan wanita di dunia.
Bersyukurlah kau bisa merasakannya Moms...
Terima kasih ya, Tuhan,
Untuk hal-hal yang harus kukerjakan,
Tugas untuk ditunaikan,
Yang tak pernah benar-benar selesai.
Terima kasih untuk pakaian kotor,
Yang menggunung dengan cepat.
Untuk bak mandi yang baru saja kubersihkan,
Meski aku tahu itu tak akan bertahan lama.
Terima kasih untuk semua mainan,
Yang berserakan di lantai.
Untuk sepatu-sepatu berlapis lumpur kering,
Yang berserakan di depan pintu.
Terima kasih untuk bekas jari kotor,
Di gelas yang tadinya bersih.
Terima kasih untuk karpetku,
Yang sekarang tertutup rumput.
Terima kasih untuk dapur,
Yang tak pernah bersih.
Untuk sabut penggosok,
Yang tergolek di bak cuci piring.
Adalah bukti bahwa aku diberkati,
Tuhan menganugerahiku sebuah keluarga,
Karenanya, aku bisa hidup di tengah semua kekacauan ini.
taken from: CHICKEN SOUP FOR THE SOUL
"Rumahku Istanaku & kisah lainnya"
puisi ini, benar-benar menyadarkan aku...bahwa di tengah semua kekacauan dan tingkat frustasi yang kadang sudah hampir sampai di ambang batas...aku benar-benar beruntung, bisa merasakan semua kekacauan yang justru bisa aku jadikan kenangan yang amat indah...
Benar, profesi utamaku...saat ini...sebagai ibu...adalah impian dan kebanggan dari jutaan wanita di dunia.
Bersyukurlah kau bisa merasakannya Moms...
Langganan:
Postingan (Atom)