Ketika seorang muridku mengeluh tentang kegiatan prakerinnya, aku tentu memberi semangat,sebagai ibu wali, tentu. Walaupun, dari semua siswaku, baru kelompok ♈ǝлƍ ini mengeluhkan ttg kegiatannya.
Kelompok Ɣªήg lain dengan kadar kesibukan ♈ǝлƍ sama, belum ada keluhan. Maksudku, keluhan dalam makna negatif. Mereka tidak mengatakan lelah secara tersurat. Inti dari cerita anak2 kelompok lainnya, ini memang melelahkan, tapi kami sangat menikmati. Baru dari kelompok ♈ǝлƍ satu ini aku mendengar kata2 lelah diucapkan secara terang2an dan beragam keluhan lain.
Ketika aku mengatakan ini ujian, ada satu kalimat yg dari anak2 tsb ♈ǝлƍ membuatku berpikir, mereka tidak merasa bahwa aku paham betapa melelahkan ini semua.
Well, ya... Yg mereka tau,mungkin aku, terlihat bersih, rapi, dan tidak terlihat susah.
Tapi ketika aku mengatakan aku mengerti betapa lelahnya mereka di lapangan dengan berbnagai pekerjaan di bidang kelistrikan... Aku bersungguh2 mengatakannya. Mungkin benar aku tidak mengalami langsung. Hanya, aku mengerti dengan sangat jelas apa Ɣªήg mereka rasakan. Anak2 mungkin tidak tau, ayahku adalah orang listrik. Beliau pensiun pada posisi ♈ǝлƍ sudah sebagai orang belakang meja. Tapi puluhan tahun, beliau bekerja sebagai tenaga lapangan. Pada masa2 awal beliau bekerja, hanya aku tahu dari cerita papa, atau mama. Tapi ada waktu tertentu dimana aku menjadi saksi betapa melelahkan pekerjaan papa !†ù. Aku dan kakak perempuanku, sering ikut menunggu papa pulang dari memperbaiki gardu listrik, bersama mama. Saat kondisi cuaca sangat buruk, aku sering melihat mama sembahyang. Maka aku pun akan ikut sembahyang. Saat !†ù, sungguh aku tidak tau maknanya, tapi saat sudah mulai besar, aku menyadari betapa mama benar2 cemas. Tidak jarang papa keluar saat tengah malam, atau pada siang hari, saat papa seharusnya makan, beliau masih nangkring di atas tiang listrik. Saat papa sudah pada posisi kepala cabang, di Merauke dulu, papa tidak pernah hanya duduk diam di belakang meja saat anak buahnya berada pada kondisi darurat. Beliau pun akan trun ke lapangan. Dari obrolan para tenaga lapangan ini, aku tau betul bahwa !†ù semua sangat melelahkan. Aku juga pernah merasakan bahwa pekerjaan ini berisisko tinggi. Seorang anak buah papa, Ɣªήg kebetulan sangat dekat dengan kami, anak2nya, secara tragis meninggal di lapangan saat memperbaiki jaringan listrik. Om Tripang, begitu kami memanggilnya. Beliau tertimpa travo,dan meninggal di lokasi.
Lama sekali peristiwa ini membekas di kepalaku. Kadang aku selalu berfikir, !†ù bisa saja terjadi pada papa kan? Mereka berada di lokasi Ɣªήg sama. Sejak saat !†ù, (aku baru kelas 5 SD) aku menaruh penghargaan sangat tinggi pd tenaga lapangan. Aku tidak mau ikut mencaci petugas listrik saat lampu bermasalah. Bukan karena papa-ku pegawai PLN, tapi lebih karena petugas lapangan Ɣªήg berisiko tinggi !†ù.
Jadi, saat ini, ketika aku menjadi wali bagi anak2 listrik ini, aku merasa sangat sayang pd mereka. Mungkin, karena kesamaan kondisi, ya?
Aku merasa seperti berada di antara orang2 yg dulu pernah dekat dengan keluarga kami. Jadi, saat aku mengatakan bahwa aku mengerti dengan kelelahan mereka, aku bersungguh-sungguh.
Bukan sekedar basa-basi.
Akupun pernah merasakan sulitnya di dunia kerja. Jadi saat anak-anak dari kelas lain mengatakan lelah, aku benar2 tulus memberi dukungan (bukan hanya aku, guru lain pun secara tulus mendukung anak2 ini).
Kami sangat mengerti, bahwa ini masa yang berat. Tapi, sungguh, kalau mereka bisa meewati ini dengan semangat, aku yakin, ini akan menjadi kontribusi Ɣªήg baik dalam pembentukan karakter mereka.
Jadi anak2, saat kami para Guru, baik pada posisi wali, pembimbing, atau pendengar yg baik, menyatakan bahwa kalian harus tetap semangat, kalian tidak boleh putus asa, percayalah, kami bersungguh-sungguh. Kami pernah merasakan apa yg kalian rasakan. Dengan posisi Ɣªήg lebih sulit. Yaitu benar2 sebagai tenaga kerja. Yg tidak bisa begitu saja meninggalkan tempat bekerja, dengan alasan Nafkah.
Aku, benar2 berharap, mereka bisa melewati ini semua, dan kembali dengan bekal Ɣªήg positif.
Anak2ku, tetap semangat, Ɣªªªãå
☺ Ơ̴̴͡.̮Ơ̴̴̴͡
Powered by Telkomsel BlackBerry®
Sabtu, 07 Januari 2012
Sabtu, 31 Desember 2011
Setahun Kemarin
Setahun kemarin, banyak sudah yang aku lewati, so pasti banyak rasa juga.
Dari semua yang sudah aku jalani, rasanya tidak ada yg membuat aku menyesali jalan ♈ǝлƍ sudah aku ambil.
Bukan karena aku over pede. Tapi justru, karena aku belajar untuk tidak hanya menyesali, tapi juga belajar untuk memperbaiki. Dan, dengan berjalannya waktu, aku lebih memilih untuk memperbaiki dan berbenah diri ketimbang hanya menyesali tanpa bertindak.
Banyak hal juga Ɣªήg Цđǻћ aku jadikan bahan pembelajaran. Disaat ada penghargaan atas segala usaha Ɣªήg aku lakukan, aku mengalami masa2 sulit, ♈ǝлƍ membuat aku paham bahwa, hidup !†ù sangatlah seimbang antara kesusahan dan kesenangan.
Aku juga belajar dan semakin yakin akan nilai pertemanan. 6 bulan terakhir, banyak hal tidak mengenakkan bagi aku dan kawan2 terdekat. Ɣªήg membuat kami semakin solid. Membuat kami belajar bahwa, kesusahan !†ù hanyalah salah satu jalan untuk membuktikan bahwa kami adalah pribadi Ɣªήg tangguh. Kesalahan membuat kami tau, teman mana Ɣªήg sanggup tetap berada di sisi kita, memberitahu kesalahan kita, sambil membantu kita mencari penyelesaian. Bukan'n mengucilkan. Mengajarkanku, bahwa kita tak akan sanggup berdiri tegak, tak akan bisa berprestasi tanpa dukungan dari orang2 Ɣªήg tulus menyayangi kita. Aku juga tetap yakin, bahwa selama kita mau bekerja keras dan pantang menyerah, sekalipun ada kegagalan, selalu akan ada hal baik menghampiri. Di atas segalanya, restu dari-Nya adalah ♈ǝлƍ terpenting.
Satu lagi, apapun Ɣªήg dijalani dengan ketulusan dan keikhlasan, akan menghasilkan buah Ɣªήg manis.
Apapun ♈ǝлƍ akan terjadi di tahun 2012 nanti, semoga akan membuat jalan hidup kita makin kokoh. Aku tidak juga berusaha membuat beragam resolusi. Hal penting ♈ǝлƍ aku pelajari menjelang pergantian tahun, adalah, memulai perubahan yg baik adalah dengan merubah hal negatif dalam diri kita dulu. Dan, aku rasa hanya !†ù Ɣªήg aku rencanakan.
(Terlalu banyak hal negatif dlm diriku, rasanya).
Mohon maaf apabila kenegatifan-ku pernah menyinggung, menyakiti atau menyusahkan kalian.
Bantu aku memperbaikinya, ya?
Semoga segalanya akan jadi lebih baik lagi...
☀šŢűήПǴΚάԄа※
Powered by Telkomsel BlackBerry®
Dari semua yang sudah aku jalani, rasanya tidak ada yg membuat aku menyesali jalan ♈ǝлƍ sudah aku ambil.
Bukan karena aku over pede. Tapi justru, karena aku belajar untuk tidak hanya menyesali, tapi juga belajar untuk memperbaiki. Dan, dengan berjalannya waktu, aku lebih memilih untuk memperbaiki dan berbenah diri ketimbang hanya menyesali tanpa bertindak.
Banyak hal juga Ɣªήg Цđǻћ aku jadikan bahan pembelajaran. Disaat ada penghargaan atas segala usaha Ɣªήg aku lakukan, aku mengalami masa2 sulit, ♈ǝлƍ membuat aku paham bahwa, hidup !†ù sangatlah seimbang antara kesusahan dan kesenangan.
Aku juga belajar dan semakin yakin akan nilai pertemanan. 6 bulan terakhir, banyak hal tidak mengenakkan bagi aku dan kawan2 terdekat. Ɣªήg membuat kami semakin solid. Membuat kami belajar bahwa, kesusahan !†ù hanyalah salah satu jalan untuk membuktikan bahwa kami adalah pribadi Ɣªήg tangguh. Kesalahan membuat kami tau, teman mana Ɣªήg sanggup tetap berada di sisi kita, memberitahu kesalahan kita, sambil membantu kita mencari penyelesaian. Bukan'n mengucilkan. Mengajarkanku, bahwa kita tak akan sanggup berdiri tegak, tak akan bisa berprestasi tanpa dukungan dari orang2 Ɣªήg tulus menyayangi kita. Aku juga tetap yakin, bahwa selama kita mau bekerja keras dan pantang menyerah, sekalipun ada kegagalan, selalu akan ada hal baik menghampiri. Di atas segalanya, restu dari-Nya adalah ♈ǝлƍ terpenting.
Satu lagi, apapun Ɣªήg dijalani dengan ketulusan dan keikhlasan, akan menghasilkan buah Ɣªήg manis.
Apapun ♈ǝлƍ akan terjadi di tahun 2012 nanti, semoga akan membuat jalan hidup kita makin kokoh. Aku tidak juga berusaha membuat beragam resolusi. Hal penting ♈ǝлƍ aku pelajari menjelang pergantian tahun, adalah, memulai perubahan yg baik adalah dengan merubah hal negatif dalam diri kita dulu. Dan, aku rasa hanya !†ù Ɣªήg aku rencanakan.
(Terlalu banyak hal negatif dlm diriku, rasanya).
Mohon maaf apabila kenegatifan-ku pernah menyinggung, menyakiti atau menyusahkan kalian.
Bantu aku memperbaikinya, ya?
Semoga segalanya akan jadi lebih baik lagi...
☀šŢűήПǴΚάԄа※
Powered by Telkomsel BlackBerry®
Minggu, 20 November 2011
Menjaga 'titipan'
Benar sekali,kalau ada ♈ǝлƍ mengatakan bahwa anak adalah karunia terindah. Benar pula,bahwa tak ada sekolah untuk menjadi ortu ♈ǝлƍ baik.
Kita harus banyak mencari info,belajar dari pengalaman orang lain, mengkombinasikan setiap info tersebut, dan mencari cara paling tepat untuk diterapkan di rumah.
Hampir semua ortu tau !†ù. Hanya saja, agak mengecewakan kalau aku mendengar seorang ibu mengeluh "aduh,liat dong,anaknya si A,rapi, bersih,gampang diatur,dll, coba anakku bisa kayak gitu"
Beda kalau kalimat tertakhir ♈ǝлƍ kita pakai adalah"waduh,kalau anakku,kayaknya kebalikannya deh" kemudian dilanjutkan dg keterangan kehebohan anaknya. Sebenarnya, ibu kedua sedang menunjukkan bahwa kekurangan anaknya, justru membuat hidupnya berwarna,dia tidak menyesali,sedang ibu dg kalimat pertama, menyiratkan penyesalan.
Saat kita selalu menggunakan orang lain sbg contoh positif, kita justru sedang membuat anak membenci si tercontoh (tertuduh=orang ♈ǝлƍ dituduh,kan?).
Benar bahwa kita harus mengarahkan anak ke arah ♈ǝлƍ positif. Tapi, apa susahnya menerima dia apa adanya? Anak anda serabutan dan tidak rapi? Mari,bersama ajarkan dia, walaupun !†ù memakan waktu lebih dari setahun! Anak anda tidak tahan memakai udeng lebih dari 10' di pura? Bawakan udengnya, rayu perlahan, puji saat dia mau. Dia moody dan sering histeris jusyru saat di muka umum? Jangan bentak dia, sabarr, menjauhlah dari keramaian, bicara pelan2,dekap dia,beri kenyamanan dan rasa percaya bahwa anda mengerti dia!
Saya mengarang? Percayalah, semua contoh tesebut adalah nyata, terjadi pada my little prince, bahkan 80% keluarga dekat mengakui, bahwa perlu kesabaran seluas samudra utk menghadapi dia. Tidak selalu berhasil, tapi aku tetap mencoba. Setidaknya, dia yakin bahwa aku sangat menyayangi dia. Dia tetap confident. Bonusnya bagiku, bunga di dapur, lagu kasih ibu saat aku sakit, dan keyakinan bahwa aku jauh lebih cantik daripada Luna Maya!
Setiap kali aku mendengar orang bercerita ttg sikap (♈ǝлƍ dianggap)negatif-nya, aku bekerja sama dg vina dan mama-ku, mengalihkan !†ù menjadi cerita lucu ttg kelakuan mesha. Bahwa walaupun !†ù buruk, tapi aku tidak menganggap !†ù aib. Aku akan selalu berjuang untuk mengarahkan anak2ku ke arah positif. Aku tidak tau bagaimana hasilnya nanyti. Aku hanya tidak akan menyerah, demi vina dan mesha.
Mulailah menempatkan anak2 pada tempat ♈ǝлƍ paling berharga di hati kita. Berhentilah mencari pembanding. Dia bukan juara kelas? Maka gali-lah potensinya di bidang lain! Cintai mrk apa adanya! Just the way they are...
Jangan pernah menyerah...S̤̥̈̊є̲̣̥є̲̣̣̣̥♍ªªªηGªª†̥†̥̥
Powered by Telkomsel BlackBerry®
Kita harus banyak mencari info,belajar dari pengalaman orang lain, mengkombinasikan setiap info tersebut, dan mencari cara paling tepat untuk diterapkan di rumah.
Hampir semua ortu tau !†ù. Hanya saja, agak mengecewakan kalau aku mendengar seorang ibu mengeluh "aduh,liat dong,anaknya si A,rapi, bersih,gampang diatur,dll, coba anakku bisa kayak gitu"
Beda kalau kalimat tertakhir ♈ǝлƍ kita pakai adalah"waduh,kalau anakku,kayaknya kebalikannya deh" kemudian dilanjutkan dg keterangan kehebohan anaknya. Sebenarnya, ibu kedua sedang menunjukkan bahwa kekurangan anaknya, justru membuat hidupnya berwarna,dia tidak menyesali,sedang ibu dg kalimat pertama, menyiratkan penyesalan.
Saat kita selalu menggunakan orang lain sbg contoh positif, kita justru sedang membuat anak membenci si tercontoh (tertuduh=orang ♈ǝлƍ dituduh,kan?).
Benar bahwa kita harus mengarahkan anak ke arah ♈ǝлƍ positif. Tapi, apa susahnya menerima dia apa adanya? Anak anda serabutan dan tidak rapi? Mari,bersama ajarkan dia, walaupun !†ù memakan waktu lebih dari setahun! Anak anda tidak tahan memakai udeng lebih dari 10' di pura? Bawakan udengnya, rayu perlahan, puji saat dia mau. Dia moody dan sering histeris jusyru saat di muka umum? Jangan bentak dia, sabarr, menjauhlah dari keramaian, bicara pelan2,dekap dia,beri kenyamanan dan rasa percaya bahwa anda mengerti dia!
Saya mengarang? Percayalah, semua contoh tesebut adalah nyata, terjadi pada my little prince, bahkan 80% keluarga dekat mengakui, bahwa perlu kesabaran seluas samudra utk menghadapi dia. Tidak selalu berhasil, tapi aku tetap mencoba. Setidaknya, dia yakin bahwa aku sangat menyayangi dia. Dia tetap confident. Bonusnya bagiku, bunga di dapur, lagu kasih ibu saat aku sakit, dan keyakinan bahwa aku jauh lebih cantik daripada Luna Maya!
Setiap kali aku mendengar orang bercerita ttg sikap (♈ǝлƍ dianggap)negatif-nya, aku bekerja sama dg vina dan mama-ku, mengalihkan !†ù menjadi cerita lucu ttg kelakuan mesha. Bahwa walaupun !†ù buruk, tapi aku tidak menganggap !†ù aib. Aku akan selalu berjuang untuk mengarahkan anak2ku ke arah positif. Aku tidak tau bagaimana hasilnya nanyti. Aku hanya tidak akan menyerah, demi vina dan mesha.
Mulailah menempatkan anak2 pada tempat ♈ǝлƍ paling berharga di hati kita. Berhentilah mencari pembanding. Dia bukan juara kelas? Maka gali-lah potensinya di bidang lain! Cintai mrk apa adanya! Just the way they are...
Jangan pernah menyerah...S̤̥̈̊є̲̣̥є̲̣̣̣̥♍ªªªηGªª†̥†̥̥
Powered by Telkomsel BlackBerry®
Kamis, 17 November 2011
Kadang,banyak orang mengkhawatirkan jarak tempuh yang terlalu jauh, tapi buatku,kadangala jarak justru membuat amarah dan kesedihan tertiup angin. Mungkin masih ada yang akan tersisa, dan ada sakit ♈ǝлƍ masih terasa. Tetapi suatu saat !†ù hanya akan menjadi sesuatu untuk dikenang, bukan lagi apa-apa
Powered by Telkomsel BlackBerry®
Powered by Telkomsel BlackBerry®
Minggu, 05 Juni 2011
Kutukan Mama Sinchan
Duluuu…sekali, sewaktu masih duduk di bangku SMP, saat pertama kali serial Crayon Sinchan diputar…aku suka nonton serial ini. Walaupun tidak sampai berhasil menggeser posisi Doraemon dan Detektif Conan, dihatiku. (bahasanya dong!). Tapi itu hanya di awalnya saja. Makin ke belakang, makin ngeri nontonnya. Rada ekstrim gitu deh. Belum lagi, aku kurang suka sama ‘premanisme’ orangtua Sinchan. (entah apa maksudku dengan premanisme). Trus, jujur saja, aku agak pusing melihat tingkah laku Sinchan. Nakal buangett!!!. Maka, aku sering bener mencela orangtua-nya. Apalagi, kalau melihat si ayah atau si ibu minta maaf di sana-sini. Dikit-dikit, minta maaf. Pergi kemana saja, minta maaf. Apapun yang terjadi minta maaf. Jujur saja, dulu aku mencela dengan cara mentertawakan mereka. Yah…lucu saja melihat gaya dan ekspresi mereka saat meminta maaf. Aku benar-benar geli melihatnya. Mentertawakan penderitaan orang lain, amat sangat tak patut, kan?
Lah, saat ini, aku benar-benar bisa merasakan perasaan dan penderitaan si ayah/ibu sinchan (lebay.com).
Tau gimana rasanya saat si anak (di pertokoan yang sangat ramai) mendekati orang asing dan bertanya…”om tadi kentut, ya?!!” dengan suara yang lantang dan penuh keyakinan.
Tau gimana rasanya, saat bertamu ke rumah teman, anakmu berkata pada tuan rumah “tante tau ga kalo kamar mandi tante baunya pesing…” atau saat dia tidak berkata apapun yang merontokkan hatimu, dia justru menumpahkan makanan/minuman di karpet atau sofa tuan rumah!
Tau gimana rasanya sehabis berbelanja di suatu tempat dan berjalan pulang, si ibu dikejar oleh satu pedagang dan berkata “maaf, bu…tadi anak ibu ngambil apel di tempat saya” (belum bayar, tentunya).
Atau, kalaupun tidak harus meminta maaf secara massal…maka harus menerima kenyataan bahwa banyak barang2 di rumah menjadi korban ‘kekreatifan’ mereka.
Misalnya, lipstick cair yang disangka kutex. Atau lipstick sesungguhnya yang dijadikan spidol. Atau menggunting poni secara ekstrim….melakukan percobaan2 ‘ilmiah’ (versi mereka) pada hewan peliharaan (dalam hal ini, yang paling sering dijadikan bahan percobaan adalah jaguar). Eksperimen mengerikan menggunakan gunting pada : tali tas hadiah dari sepupu yang harganya bikin sakit kepala, sarung kesayangan papa, sprei yang warnanya matching ama korden, sampai ekor ayam kesayangan papa. Kadang, saat pulang sekolah, aku harus menggunakan tenaga ekstra untuk membersihkan anak2 tetangga yang mukanya dijadikan bahan eksperimen make-up. Hhhhhhhhh…….
Mungkin, kejadian2 diatas wajar terjadi pada banyak orangtua yang mempunyai anak seumuran anak2ku. Tapi, kadang aku berfikir, mungkinkah…ini adalah kutukan mama sinchan???
Lah, saat ini, aku benar-benar bisa merasakan perasaan dan penderitaan si ayah/ibu sinchan (lebay.com).
Tau gimana rasanya saat si anak (di pertokoan yang sangat ramai) mendekati orang asing dan bertanya…”om tadi kentut, ya?!!” dengan suara yang lantang dan penuh keyakinan.
Tau gimana rasanya, saat bertamu ke rumah teman, anakmu berkata pada tuan rumah “tante tau ga kalo kamar mandi tante baunya pesing…” atau saat dia tidak berkata apapun yang merontokkan hatimu, dia justru menumpahkan makanan/minuman di karpet atau sofa tuan rumah!
Tau gimana rasanya sehabis berbelanja di suatu tempat dan berjalan pulang, si ibu dikejar oleh satu pedagang dan berkata “maaf, bu…tadi anak ibu ngambil apel di tempat saya” (belum bayar, tentunya).
Atau, kalaupun tidak harus meminta maaf secara massal…maka harus menerima kenyataan bahwa banyak barang2 di rumah menjadi korban ‘kekreatifan’ mereka.
Misalnya, lipstick cair yang disangka kutex. Atau lipstick sesungguhnya yang dijadikan spidol. Atau menggunting poni secara ekstrim….melakukan percobaan2 ‘ilmiah’ (versi mereka) pada hewan peliharaan (dalam hal ini, yang paling sering dijadikan bahan percobaan adalah jaguar). Eksperimen mengerikan menggunakan gunting pada : tali tas hadiah dari sepupu yang harganya bikin sakit kepala, sarung kesayangan papa, sprei yang warnanya matching ama korden, sampai ekor ayam kesayangan papa. Kadang, saat pulang sekolah, aku harus menggunakan tenaga ekstra untuk membersihkan anak2 tetangga yang mukanya dijadikan bahan eksperimen make-up. Hhhhhhhhh…….
Mungkin, kejadian2 diatas wajar terjadi pada banyak orangtua yang mempunyai anak seumuran anak2ku. Tapi, kadang aku berfikir, mungkinkah…ini adalah kutukan mama sinchan???
Kamis, 26 Mei 2011
~SEHABIS BERITA~
Aku suka nonton berita. Tidak hobby banget sih, suka aja. Daripada nonton sinetron, mendingan juga nonton berita. Berita yang bukan infotainment. Tapi, sejujurnya, suka nonton berita sebagai sampingan. Kalau sedang tidak pengen nonton acara kesukaan utama. Yaitu, acara komedi.
Hmm, kalau dipikir-pikir, rasanya lebih menyenangkan nonton talkshow, atau acara macam Bolang, Deni manusia Ikan, dst. Lebih santai. Nambah pengetahuan, nggak bikin ribet. Nonton Kick Andy, bikin kita mempelajari sesuatu dari pengalaman orang lain. Just Alvin, acara hiburan yang ga asal ‘hiburan dan berbincang’.
Lalu ada apa dengan Bolang dan acara semacam itu? Aku belajar dari anak-anakku. Begini, suatu hari, Vina berbicara tentang kopi Luwak. Darimana asalnya, bagaimana prosesnya, sampai harganya. Juga, anak2 pernah membahas tentang kota2 di dunia yang paling bersih, populasi terbesar, sampai…beda antara kepiting dan rajungan. Tentu saja, infonya dari acara di salah satu TV Swasta antara pk.11.00 – 15.00 wita. Aku jadi ketularan.
Walaupun, pada akhirnya…”I prefer to read than watching tv”
Nah, balik lagi ke Berita. Ada ga sih, yang rutin…banget nonton berita? Terutama, berita nasional. Maksud saya (dengan kata nasional) tentu saja berita dalam negeri, bukan merk alat elektronik itu, ya! ~garing~
Soalnya nih, yang dibahas di berita-berita (nasional) belakangan ini, menurut aku…(yang jarang nonton berita) agak … membosankan. Apalagi yang rajin nonton berita, ya? Nggak pusing apa? Terutama, berita dari dunia politik. Maaf, bukan bermaksud buruk…tapi, apa yang bisa kita contoh dari para ‘panutan’ itu?
Sekali lagi, maaf, tapi, saya benar2 ingin tahu, apa yang ada di pikiran para penonton yang lain? Saya benar2 penasaran. Karena yang ada di pikiran saya adalah….
“Seandainya, Dora Emon mau meminjamkan pintu kemanasaja, saya ingin dia mengantarkan saya bertemu dengan Profesor Snape di Sekolah Sihir Hogwarts, dan memohon agar Profesor berkenan memberikan satu tanki ramuan VERITASERUM, agar rakyat tidak lagi bingung, manakah yang benar2 tulus, dan siapakah yang patut disingkirkan untuk memajukan negara ini…”
Hmm, kalau dipikir-pikir, rasanya lebih menyenangkan nonton talkshow, atau acara macam Bolang, Deni manusia Ikan, dst. Lebih santai. Nambah pengetahuan, nggak bikin ribet. Nonton Kick Andy, bikin kita mempelajari sesuatu dari pengalaman orang lain. Just Alvin, acara hiburan yang ga asal ‘hiburan dan berbincang’.
Lalu ada apa dengan Bolang dan acara semacam itu? Aku belajar dari anak-anakku. Begini, suatu hari, Vina berbicara tentang kopi Luwak. Darimana asalnya, bagaimana prosesnya, sampai harganya. Juga, anak2 pernah membahas tentang kota2 di dunia yang paling bersih, populasi terbesar, sampai…beda antara kepiting dan rajungan. Tentu saja, infonya dari acara di salah satu TV Swasta antara pk.11.00 – 15.00 wita. Aku jadi ketularan.
Walaupun, pada akhirnya…”I prefer to read than watching tv”
Nah, balik lagi ke Berita. Ada ga sih, yang rutin…banget nonton berita? Terutama, berita nasional. Maksud saya (dengan kata nasional) tentu saja berita dalam negeri, bukan merk alat elektronik itu, ya! ~garing~
Soalnya nih, yang dibahas di berita-berita (nasional) belakangan ini, menurut aku…(yang jarang nonton berita) agak … membosankan. Apalagi yang rajin nonton berita, ya? Nggak pusing apa? Terutama, berita dari dunia politik. Maaf, bukan bermaksud buruk…tapi, apa yang bisa kita contoh dari para ‘panutan’ itu?
Sekali lagi, maaf, tapi, saya benar2 ingin tahu, apa yang ada di pikiran para penonton yang lain? Saya benar2 penasaran. Karena yang ada di pikiran saya adalah….
“Seandainya, Dora Emon mau meminjamkan pintu kemanasaja, saya ingin dia mengantarkan saya bertemu dengan Profesor Snape di Sekolah Sihir Hogwarts, dan memohon agar Profesor berkenan memberikan satu tanki ramuan VERITASERUM, agar rakyat tidak lagi bingung, manakah yang benar2 tulus, dan siapakah yang patut disingkirkan untuk memajukan negara ini…”
Kamis, 03 Februari 2011
Perhatian Kalian itu loh.....
“ca, mama berangkat kerja dulu ya…”
“ote ma, ati-ati di jalan ya…”
Setiap kali sebelum berangkat kerja, aku selalu berpamitan pada suami dan anak-anak…tambah ke anjing, babiers (para babi), ayams, dll (mau kerja ato mau migrasi ya???).
Yang bener cuma sama yang 3 pertama aja. Itupun kalau Vina belum berangkat ke sekolah. Kalo sudah berangkat, ya aku ga pamitan ke dialah…ga mungkin aku dateng ke sekolah dia, masuk kelasnya dan ngomong ke gurunya “permisi pak, saya mau pamitan sama anak saya, saya kan mau kerja…” males banget kan? Kayak mau kerja ke luar negeri ajah…
Ohya, kembali ke soal pamitan di pagi hari… kalo pamitan sama suami, jawabannya pasti “hati2 ya ma”…kalo musim hujan, ada pesan tambahan, “inget2 lubang di jalan ya” (maksudnya biar ga nyungsep lagi)
Jawaban anak2 pun sebenarnya setipe ama papanya. Contohnya ya seperti yang sudah aku tulis di awal tulisanku ini…
Belakangan, jawaban Meca mulai lebih variatif dari Vina (walaupun tingkat kesungguhannya diragukan). Misalnya, “ote ma…tapi, jangan jatuh lagi ya…” atau “mama, pulangnya jangan lewat jalan yang rusak itu ya ma…” perhatiankah dia? Jangan kagum dulu saudara2ku… ada lanjutannya “lewat kota ajah, beliin caca yodut” (yoghurt) nah kan…
Kemanapun aku pergi, pesan dan kesan selalu banyak. Mau olahraga pagi di sekolah, ada aja pesen “inget makan dulu” atau “jangan lupa nanti minum air putih” atau “sepatunya jangan ketukar” (hehe, yang terakhir bo’ong lah…)
Lah, semester genap, karena aku kebagian masuk pagi, kena lah aku sama upacara bendera. Asal udah hari senin, wuahhh heboh lah berangkat sepagi mungkin (walopun lebih sering telat…). Aku inget, kali kedua aku mau mengikuti upacara bendera, pesan dari Vina, benar2 menyentuh…”mama besok upacara? Jangan di tempat yang panas banget ya ma…nanti sakit, mama cari tempatnya di bawah pohon aja ya…” Aku nyengir. Sebenarnya, pesan dari vina ini benar2 serius dan tanpa maksud tertentu dia ngucapinnya. Hanya saja, kalo aku turuti permintaan dia itu, mengingat antara lokasi baris para guru dan pohon terdekat, kurang lebih 5 meter…oke memang tidak jauh, tapi, tetap saja kalo aku berdiri di bawah pohon itu…aku akan lebih terlihat seperti penampakan dari dunia lain dibandingkan peserta upacara normal….
Pesan2 ini kadang bisa jadi semacam penyemangat untukku. Kadang lucu dan aneh. Bikin nyengir sendiri di jalan. Kalopun aku terganggu, suamiku pasti bilang…”anak2 kan niri mamanya, lagian itu kan bentuk ungkapan sayang…”
Hmm,bener juga…soale, aku termasuk mama dan istri yang bisa dibilang ‘rese’ kalo suami ato anak2 mau kemana gitu…bukan ngelarang sih, hanya, pesan dan kesannya itu loh… mungkin bener juga anak2 jadi suka niru aja secara otomatis. Jadi, tujuanku kan karena sayang, berarti, mereka juga sayang kan?
Saat jam kerja juga begitu, di rumah hujan, aku ditelpon, oleh Vina dan papanya (secara terpisah) ngasi info kalo di rumah hujan, pulangnya ati2. Ato sekedar pengaduan.
“mama, tadi bokornya ina didudukin ama temen, jadi penyek” ato
“mama, tadi caca bakar ogoh2 ama pak tut” ato…yang paling memelas…
“ma…cepet pulang ya, meca ngancurin rumah…” (dari suamiku)
Hehehehehehe…..
“ote ma, ati-ati di jalan ya…”
Setiap kali sebelum berangkat kerja, aku selalu berpamitan pada suami dan anak-anak…tambah ke anjing, babiers (para babi), ayams, dll (mau kerja ato mau migrasi ya???).
Yang bener cuma sama yang 3 pertama aja. Itupun kalau Vina belum berangkat ke sekolah. Kalo sudah berangkat, ya aku ga pamitan ke dialah…ga mungkin aku dateng ke sekolah dia, masuk kelasnya dan ngomong ke gurunya “permisi pak, saya mau pamitan sama anak saya, saya kan mau kerja…” males banget kan? Kayak mau kerja ke luar negeri ajah…
Ohya, kembali ke soal pamitan di pagi hari… kalo pamitan sama suami, jawabannya pasti “hati2 ya ma”…kalo musim hujan, ada pesan tambahan, “inget2 lubang di jalan ya” (maksudnya biar ga nyungsep lagi)
Jawaban anak2 pun sebenarnya setipe ama papanya. Contohnya ya seperti yang sudah aku tulis di awal tulisanku ini…
Belakangan, jawaban Meca mulai lebih variatif dari Vina (walaupun tingkat kesungguhannya diragukan). Misalnya, “ote ma…tapi, jangan jatuh lagi ya…” atau “mama, pulangnya jangan lewat jalan yang rusak itu ya ma…” perhatiankah dia? Jangan kagum dulu saudara2ku… ada lanjutannya “lewat kota ajah, beliin caca yodut” (yoghurt) nah kan…
Kemanapun aku pergi, pesan dan kesan selalu banyak. Mau olahraga pagi di sekolah, ada aja pesen “inget makan dulu” atau “jangan lupa nanti minum air putih” atau “sepatunya jangan ketukar” (hehe, yang terakhir bo’ong lah…)
Lah, semester genap, karena aku kebagian masuk pagi, kena lah aku sama upacara bendera. Asal udah hari senin, wuahhh heboh lah berangkat sepagi mungkin (walopun lebih sering telat…). Aku inget, kali kedua aku mau mengikuti upacara bendera, pesan dari Vina, benar2 menyentuh…”mama besok upacara? Jangan di tempat yang panas banget ya ma…nanti sakit, mama cari tempatnya di bawah pohon aja ya…” Aku nyengir. Sebenarnya, pesan dari vina ini benar2 serius dan tanpa maksud tertentu dia ngucapinnya. Hanya saja, kalo aku turuti permintaan dia itu, mengingat antara lokasi baris para guru dan pohon terdekat, kurang lebih 5 meter…oke memang tidak jauh, tapi, tetap saja kalo aku berdiri di bawah pohon itu…aku akan lebih terlihat seperti penampakan dari dunia lain dibandingkan peserta upacara normal….
Pesan2 ini kadang bisa jadi semacam penyemangat untukku. Kadang lucu dan aneh. Bikin nyengir sendiri di jalan. Kalopun aku terganggu, suamiku pasti bilang…”anak2 kan niri mamanya, lagian itu kan bentuk ungkapan sayang…”
Hmm,bener juga…soale, aku termasuk mama dan istri yang bisa dibilang ‘rese’ kalo suami ato anak2 mau kemana gitu…bukan ngelarang sih, hanya, pesan dan kesannya itu loh… mungkin bener juga anak2 jadi suka niru aja secara otomatis. Jadi, tujuanku kan karena sayang, berarti, mereka juga sayang kan?
Saat jam kerja juga begitu, di rumah hujan, aku ditelpon, oleh Vina dan papanya (secara terpisah) ngasi info kalo di rumah hujan, pulangnya ati2. Ato sekedar pengaduan.
“mama, tadi bokornya ina didudukin ama temen, jadi penyek” ato
“mama, tadi caca bakar ogoh2 ama pak tut” ato…yang paling memelas…
“ma…cepet pulang ya, meca ngancurin rumah…” (dari suamiku)
Hehehehehehe…..
Langganan:
Postingan (Atom)