Rabu, 13 Mei 2015

Kamilah Generasi Bahagia Itu...

Generasi kelahiran 60-70an,
INILAH GENERASI BAHAGIA ITU

Kami adalah generasi terakhir yang masih bermain di halaman rumah, lapangan bola dan di jalan-jalan. Kami berlari dan bersembunyi penuh canda-tawa dan persahabatan. Main Galasin, Yoyo, Petak Umpet, Boy-boy an, Beteng, Lompat tali, Masak-masakan pakai seng, Ular naga, mengejar layangan, bermain putren, balapan ban bekas, nonton karnaval 17 agustusan. Duduk semeja bermain Monopoli, Halma, Biji Sawo, Karet Gelang dan Ular Tangga dengan ceria.

Kami generasi yang ngantri di wartel dari jam 5 pagi, berkirim surat dan mencairkan resi di kantor pos ketika lebaran. Tiap sore kami menunggu cerita radio Brama Kumbara, berkirim salam lewat penyiar radio. Kamilah generasi yang SD nya merasakan papan tulis berwarna hitam, masih pakai sabak dan doos gerip, masih pakai pensil dan rautan yang ada kaca di salah satunya. Kamilah generasi yg SMP dan SMA nya masih pakai papam tulis hitam dan kapur putih. Generasi yang meja sekolahnya penuh dengan coretan kejujuran kami melalui tulisan Tipe-X putih, generasi yang sering mencuri pandang teman sekolah yang kita naksir, kirim salam buat dia lewat temannya dan menyelipkan surat cinta di laci mejanya.

Kami adalah generasi yang merasakan awal mula teknologi gadget komunikasi seperti pager, Komputer Pentium jangkrik 486 dan betapa canggihnya Pentium 1 66Mhz. Kami generasi yang sangat bangga kalau memegang Disket kapasitas 1.44Mb dan paham sedikit perintah Dos dengan mengetik copy, del, md, dir/w/p. Kami adalah generasi yang memakai MIRC untuk chatting dan Searching memakai Yahoo. Generasi bahagia yang pertama mengenal Nintendo, Game Bot dengan menyewa pada bapak tua di pinggir lapangan dekat sekolah kami.

Generasi kamilah yang merekam lagu dari siaran radio ke pita kaset tape, yang menulis lirik dengan cara play-pause-rewind, generasi penikmat awal Walkman dan mengenal apa itu Laserdisc, VHS. Kamilah generasi layar tancap Misbar yang merupakan cikal bakal bioskop Twenty One.

Kami tumbuh diantara para legenda dunia Queen, Beatles, Rinto Harahap dan pelantun Isabella Amy Search. Tumbuh dengan ketrampilan bikin kemoceng, lampion kertas dan kincir angin bambu yang ditarik dengan tali. Kami generasi bersepatu Reebook, Warior dan rela nyeker berangkat sekolah tanpa sepatu kalau sedang hujan. Cupu tapi bukan Madesu.

Kami adalah generasi yang bebas, bebas bermotor tanpa helm, bebas dari sakit leher gegara kebanyakan melihat ponsel, bebas manjat tembok stadion, bebas manggil teman sekolah dengan nama bapaknya. Bebas bertanggung jawab.

Dan yang terpenting…..

Kami hafal Pancasila, Nyanyian Indonesia Raya, Teks proklamasi, Sumpah Pemuda, Nama-nama para Menteri dan Dasadharma Pramuka.

*Melly Kiong ~ Emkaland*
www.emkaland.blogspot.com
By Mahitri W

Senin, 04 Mei 2015

Bertahan dan Menyesuaikan

'Dimana bumi dipijak, disitu langit dijunjung'
Pepatah ini sudah sering kita dengar sejak jaman SD dan sampai kapanpun, sering jadi ungkapan dalam banyak kesempatan.
Dimanapun kita berada, maka kita harus mengikuti aturan yang berlaku di tempat tersebut. Tentu saja, yang namanya aturan, akan diikuti dengan sanksi jika ada pelanggaran.
Saat kita (akan) memasuki suatu lingkungan baru, entah itu untuk sementara waktu, ataupun untuk jangka waktu panjang, sudah pasti kita harus tau betul aturan main di tempat tersebut. Tahu dan mengikuti, pastinya.
Memasuki suatu tempat yang baru, memang bukan hal mudah. Tidak mungkin juga penyesuaian akan terjadi hanya dalam beberapa waktu saja. Di awal, bagi beberapa orang, mungkin akan (terasa) mudah. Tapi, seiring berjalannya waktu, mungkin akan ditemui berbagai perbedaan atau ketidaknyamanan dalam berbagai hal. Atau ada juga yang sejak awal sudah sulit melakukan penyesuaian.
Pertanyaan tak terungkap seperti "kok begini sih?", "aduh, gimana ini?", "wah saya harus bagaimana?" Belum lagi jalur 'birokrasi' di setiap tempat, tidaklah sama. Bisa dipastikan akan membuat sedikit (atau banyak) frustrasi.
Apalagi, bagi yang sebelumnya sudah merasa berada pada Zona Nyaman. Nah, selamat memijit kepala :)
Haruskah terjebak pada zona ribet ini? Jangan dong... Yang namanya manusia, harus selalu siap dengan perubahan.
Caranya? Pertama, kita harus paham 'aturan main' di setiap tempat. Korek informasi ini dari berbagai pihak. Mencari tau dengan cara yang cerdas tentunya. Contohnya lewat acara ngobrol ngalor ngidul. Buatlah obrolan ringan tapi mengena dengan berbagai kelompok. Dari situ, kita bs mengambil kesimpulan atas aturan tak tertulis yang berlaku di tempat tsb.
Kedua, nguping cerdas. Nggak apa nguping obrolan orang, asalkan...dengan cerdas ya. Pura2 sibuk, fokus dengan kerjaan. Cari tau apa yang umumnya jadi 'masalah' bagi kebanyakan orang di sana. Jangan berkomentar atau nyeletuk. Itu tak cerdas, itu nyari masalah namanya. Apalagii...sok memberi info pada orang yang sedang jadi topik. Wah...selamat jadi anak tiri deh.
Berikutnya, berteman cerdas. Artinya, carilah teman sebanyak mungkin. Jangan langsung mengelompokkan diri pada satu kelompok. Bersikaplah netral. Jangan jadi ember. Jangan terlibat pada gosip. Jangan menjadi kompor. Please...kita sedang penyesuaian disini. Be smart!
Ikuti alur kerja orang sekitar kita. Jika cenderung kerja cepat, maka bergeraklah. Jika santai tapi cermat, berlatihlah, jika cenderung malas...hmmm, jangan diikuti, tapi jangan pula terlihat sok rajin. Be smart. Bekerjalah cermat tapi tak terlihat membentengi diri dari pergaulan.
Selanjutnya? Ya tergantung situasi juga ya. Banyak aturan main yang bs kita terapkan.
Yang terpenting...ingat pepatah di awal tulisan ini, dan jangan lupa...kita berada di suatu tempat, pasti ada alasannya. Yang membuat penempatan memang manusia. Tapi, semua bisa terjadi juga atas kehendak-Nya. Percayakan saja pada-Nya. Jalani dengan kesungguhan, dan keikhlasan.
Tips2 saya diatas juga bisa diterapkan...
Astungkara, kita bisa bertahan.
Jadilah seperti bunglon yang bisa menyesuaikan diri dimana saja, tapi jangan pula jadi bunglon yang bermakna tidak punya jati diri, terlalu mudah berubah.
Lalu? Ya, ambillah sisi positif dari bunglon :)
Selalu berfikir positif ya...maka itu akan sangat membantu ;)
By Mahitri W

Jumat, 01 Mei 2015

Berdamai dengan Naruto...

Dalam setiap ketidakbaikan, pasti ada manfaat positif di dalamnya...
Saya setuju dengan ungkapan (karya saya loh...) yang bijak (ngarep) tersebut...
Contohnya saja, sejak dulu saya memang tidak membebaskan anak2 saya nonton film karrtun yang ada unsur kekerasan. Salah satu contoh film-nya, ya Naruto itu.
Walaupun anak2 saya sering menontonnya, saya juga tidak lelah memberikan penjelasan tentang perbedaan antara film (apalagi kartun) dan dunia nyata.
Tetapi, sejak hampir sebulan terakhir ini, saya memberikan izin kepada kedua putri/putra saya untuk menonton serial 'tak jelas' ini.
Bentuk inkonsistensi? Hm...tidak juga..karena, saya menetapkan
SKB (syarat dan ketentuan berlaku).
Mengingat, durasi serial ini adalah 2 jam!! Mungkin durasi-nya ini yang perlu direvisi oleh stasiun tv yang bersangkutan...
Oke, kembali kepada SKB...
Jadi, mereka boleh menonton selama 2 jam, dengan catatan, sebelum itu, paling tidak mereka sudah sempat belajar selama 2 jam. Waktunya? Silahkan diatur. PR, persiapan buku, dan latihan soal harus selesai sebelum pk.18.00 wita.
Melatih mereka bertanggung jawab...
Bonus manfaat?
Nah, ini yang membuat saya memberikan izin (walaupun SKB). Semenjak rutin menonton serial ini, hal positif yang terlihat nyata adalah, Vina dan Mesa menjadi semakin akur. Kalau biasanya ada saja waktu untuk bertengkar...belakangan ini, pertengkaran itu makin langka.
Di waktu senggang, mereka akan tertawa bersama mengingat kelucuan pemeran serial ybs, saat menonton, mereka juga tertawa bersama dan saat iklan, banyak hal di luar serial tsb yang mereka bahas. Maklum, saat menonton, bawaan mereka bukan camilan. Kadang Atlas, kadang majalah anak2 yang baru terbit. Jadi saat iklan, mereka akan membahas apa yang mereka bawa itu.
Satu lagi, karena keduanya harus sudah membereskan keperluan sekolah dan kegiatan makan malam, saling membantu justru tercipta diantara mereka.
Misalnya, jika saya sedang sibuk dengan si bungsu, maka vina akan segera mempersiapkan makan malam untuk dirinya sendiri, ditambah mesha. Atau kalau si kakak terlihat sibuk, maka dengan spontan, mesha-lah yang akan membereskan tugas2 kakaknya yang bisa dia kerjakan. Termasuk, saat mendampingi mereka menonton, secara tidak langsung yang menjaga Sora menjadi 3 orang, hehehe. Sora dan mama hepi, kakak2 pun hepiii.
Nah, kan...jika dulu saya melarang habis2an mereka menonton, justru mereka sering bete dan saya terlihat sebagai 'jawara'-nya ngomel.
Saat ini, menonton dengan SKB, justru menghasilkan sesuatu yang positif :)
Saya bahagia dengan perubahan ini. Yah...dan sadar juga, bahwa tidak selalu, hal yang kita anggap tidak baik, adalah murni ketidakbaikan. Pasti ada manfaatnya (walaupun sedikit), tergantung cara kita memandang dan menyikapi-nya.
Tak lupa juga...mendampingi mereka saat menonton, adalah suatu keharusan ya moms...
Hanya saja, lampu merah tetap saya berlakukan untuk sinetron-sinetron yang berseliweran di tv swasta. Untungnya lagi...anak2 saya tidak tertarik juga dengan jenis tontonan yang satu ini #fiuuuh.
Sebagai bentuk sportifitas, dengan rendah hati, saya ingin mengucapkan terima kasih kepada serial Naruto, karena berhasil menumbuhkan kekompakan dan toleransi antara Vina dan Mesha.
Tak lupa, sebagai seorang mama, saya hanya ingin menitipkan pesan:
"Naruto, Sasuke...sudahilah perselisihan kalian...kasihan anak2 yang menjadi penonton setia kalian disuguhi perkelahian kalian dalam waktu panjang..."
Berdamailah...
:p
By Mahitri W

Kamis, 30 April 2015

Matang Dengan Indah

Tulisan ini, dengan melihat judulnya, bukanlah membahas buah, tape, ataupun jerawat. Tak mudah memilih kata yang tepat untuk judul kali ini. Awalnya, di pikiran saya, judulnya adalah Menua dengan Indah. Tapi terdengar ekstrim walaupun Menua mungkin lebih tepat dibanding Matang. Setelah dipikir-pikir...Matang terdengar lebih sopan :) mengingat ini bahasan sensitif, hehehe...
Yup, ini tentang usia. Tentang bertambahnya usia. Pertambahan usia, tentu diikuti dengan berbagai perubahan fisik dalam diri kita. Seharusnya dengan perubahan mental juga ya...
Tapi, ya itu tadi, saya tidak membahas tentang tingkat kedewasaan mental, saya lebih memilih membahas perubahan secara fisik. Kenapa? Ini hal yang serius loh, bagi sebagian besar (99%) wanita. Well, begitupun bagi pria, hanya saja, pria tidak menganggap ini sebagai sesuatu yang "siaga 1" ;)
Menjadi semakin matang, kadangkala menjadi momok bagi sebagian orang. Banyak kan yang tidak mengakui usianya secara jujur. Lihat saja di tv, tidak semua artis mau mengakui usia-nya. Padahal, perawatan tentu saja maksimal. Yang kulitnya mulus kenceng aja ragu mengakui apakabar yang tanpa perawatan?
Itu bagi yang mengatakan pertambahan usia (kita katakan saja, Menua, tak sopan, tapi fakta) adalah hal yang tabu.
Bagi sebagian orang lagi, menua bukanlah mimpi buruk. Bertambah usia, patutnya disyukuri. Menua adalah sesuatu yang alami. Berkerut, uban, perubahan fisik, adalah sesuatu yang 'human'. Hal yang bisa diakali. Perawatan, mulai dari yang sederhana dan ala rumahan (yang penting konsisten) bagi yang dananya pas-pasan sampai yang kelas atas. Ditambah olahraga...
Sadarkah kita, menua menjadikan kita spesial. Banyak hal yang dimaklumi atas usia plus kita. Melupakan sesuatu? Ahya, pasti faktor U nih. Berbicara kasar pada orang dewasa? Big No! Ada sederet tugas menunggu? Berilah yang muda kesempatan untuk menunjukkan kemampuan! See? Banyak benefit. Versi orang yang suka ngeles (macam saya) tentunya :D
Menua dengan sehat? Pastinya yang kita mau. Tidak hanya mencari benefit seperti diatas, menua seharusnya menyadarkan kita untuk semakin menjalankan pola hidup yang sehat. Walaupun sebaiknya disadari sejak muda (peringatan pada diri sendiri).
Takut dengan perubahan fisik? Olahraga, donk...bergerak, beraktivitas normal. Kesehatan makin rentan, ya pola makan diatur. Katakanlah diet. Perawatan kulit lebih intens. Tak perlu yang aneh2. Yang terpenting, tetap ingat membersihkan wajah, gunakan krim pagi dan malam, maskeran, ya semacam itulah. Catatan penting untuk saya pribadi: olahraga dan diet sehat!
Menua juga membuat saya melakukan banyak perubahan. Saya tidak takut dikatakan 'dewasa', pun tidak menyembunyikan usia, mengingat, sebagai PNS tidak mungkin menyembunyikan umur...terpampang jelas di NIP :p
Tidak pula membuat saya berusaha dikatakan muda, atau menjadikan saya sok muda. Saya tidak memaksakan kemudaan lewat busana :). Memilih busana yang membuat kita terlihat anggun, saya rasa pilihan yang bagus. Membuat kita lebih dihargai kan? Tentu diikuti perilaku sadar usia.
Khawatir akan kerut dan uban? Wajar...tapi sesuatu yang tidak bisa dihindari. Tidak membuat saya histeris, sih...dijalanin saja. Melakukan perawatn pun, semampu saya, tidak berlebihan. Sesuai budget.
Menua ataupun Matang dengan Indah...menjadi pilihan saya. Lihatlah 4 wanita cantik di gambar...(Saya termasuk loh, hehe). Ke-4nya saat berfoto, usianya sudah 30+. Bahkan mbak ve sudah kepala 4, mbak Indah dan mbak Mening akhir 30. Mereka terlihat tetap menarik. Bersahaja, cerdas, dengan perilaku yang sangat menyenangkan. Saya ingin menjadi seperti mereka :). Membuat saya tidak takut menua. Banyak lagi orang disekitar saya yang menarik di usia-nya yang semakin dewasa.
Nah, menua, matang, semakin dewasa, atau istilah lainnya...bukanlah sesuatu yang harus disikapi 'siaga1'. Banyak hal penting lainnya disekitar kita yang bisa diperhatikan. Menjadi berarti bagi orang-orang sekitar kita, dengan melakukan sesuatu. Menjadi bernilai bagi sesama...itu yang terpenting :)
By Mahitri W

Senin, 23 Maret 2015

Ketika Profesi Dilecehkan

Di masa sekarang ini, saya sangat bangga ketika banyak orang mulai belajar menghargai profesi orang lain, apapun bentuk profesi itu. Bahkan, banyak sebutan yang terdengar santun bagi banyak profesi yang dulunya sering dipandang remeh. Contohnya, kita dulu mengenal kata 'pembantu' untuk orang yang begitu meringankan tugas2 RT kita, saat ini, terdengar lebih santun dengan kata Asisten Rumah Tangga, atau terkadang malah disebut mitra kerja RT. Selain lebih santun, kata mitra kerja, terdengar lebih pas, bukan? Contoh lain, pelayan restoran, sekarang jadi lebih manis dengan terbiasanya kita menggunakan kata pramusaji.
Dan masih banyak hal lainnya.
Ohya, selain mempermanis pelafalan, belakangan ini, secara nyata juga banyak orang berusaha menunjukkan apresiasi-nya terhadap banyak profesi yang dianggap remeh (dulunya).
Dalam arti, lebih hati2 ketika membicarakan profesi tersebut, bersikap lebih hormat, dan tidak melecehkan secara verbal pula.
Secara pribadi, saya suka dengan kemajuan yang positif ini. Bagaimana tidak, sekarang ini banyak yang sudah menyadari betapa pentingnya asisten RT, petugas kebersihan, cleaning service, office boy, supir dll. Kita semua adalah sama2 pekerja. Apapun bentuk profesi kita.
Tetapi, ketika kita berbicara tentang profesi yang...katakanlah sedikit lebih bagus, secara tidak sadar, kita seringkali menganggap pekerjaan kita jauh lebih penting dibanding pekerjaan (profesi) lainnya.
Contoh, pernah tidak kita mendengar (atau malah kita sendiri yang mengatakannya) "jadi pns itu, enak, ga ada kerjaan, nongkrong santai di kantor, terima gaji buta" atau bentuk kalimat perkiraan lainnya.
Itu bentuk pelecehan lo...
Yang artinya kita sedang meremehkan suatu profesi, walaupun ada yang seperti itu, tapi penggunaan kata tanpa menyebut kata 'oknum' sama artinya, kita menuding semua, secara keseluruhan.
Contoh lain, "wih, enak jadi dokter, pegang sana-pegang sini, kasi obat, dapet duit, gampang bener ya..."
Wah, wah...apa kabar sekolah kedokteran yang panjang itu? Dan berbagai resiko dari profesi dokter itu?
Saya pribadi, sebagai guru, sangat sering mendapat tudingan langsung ke arah saya, tentang betapa mudahnya menjadi guru.
"Jadi guru tuh enak, udah gajinya besar, kerjaannya gampang"
"Apa sih susahnya, cuma ngulang2 ngomongin pelajaran yang sama dari tahun ke tahun?"
"Gampang ya jadi guru, habis ngajar, santai, nggak mikir apa2"
Oke...kita review dari awal...
Pada kata 'gaji besar' mungkin maksudnya adalah isu tunjangan sertifikasi itu ya...faktanya, belum (bahkan tidak) semua guru merasakan itu. Sekalipun sudah mendapat sertifikat pendidik, belum tentu bisa secara otomatis memperoleh tunjangan ya...banyak persyaratan yang harus dipenuhi. Dan percayalah...70% guru kesulitan memperolehnya.
Kata 'ngulang2 pelajaran'...katakanlah ini benar, dimana seorang guru pasti memegang mata pelajaran yang sama setiap tahunnya. Tetapi, dengan perkembangan jaman sekarang ini, seorang guru harus minimal selangkah lebih maju dibanding siswanya...update berita, wajib hukumnya.
Cuap2 di depan siswa juga ada seninya. Modal berkoar, tanpa diikuti seni dan teknik manajemen kelas, dijamin siswa akan tidur, atau tidak mengerti apa yang kita bicarakan. Tidak semua akan tetap tegar berdiri di hadapan puluhan pasang mata, yang kesemuanya fokus hanya pada kita seorang. Bayangkan jika saat itu seorang guru sedang galau, sedang ada masalah, sedang tidak fit...tetapi harus tetap fokus dan berbagi cuap-an dengan siswa...
Tak peduli ada masalah apapun, jangan sampai terlihat oleh siswa...
Terlihat santai, memang ya...hanya, apakah ada yang tahu, setelah membuat tes, ada rangkaian penilaian yang harus dijalankan, analisis soal, pengayaan dan remidi.
Apa kabar dengan penilaian kinerja, rangkaian jurnal, oka anyar, penilaian kepribadian siswa, belum jika menghadapi siswa yang sedang galau, tugas sebagai wali kelas, dan lainnya.
Saya sendiri, jika mengajar, tidak mau hanya mengandalkan bku paket, pasti akan browsing untuk tambahan materi dan mencari berita tebaru berkaitan dengan materi.
Tujuannya supaya tak ada kesempatan bagi siswa saya untuk tidur...
Tetapi, namanya pekerjaan, pasti akan ada saja yang tanpa sadar telah melecehkannya.
Saya juga tidak berusaha menjelaskan kepada siapapun uang menganggap remeh profesi saya ini.
Bagi saya, penilaian orang tidaklah penting. Ini antara saya, rekan kerja, siswa yang saya layani, dan atasan saya.
Dan, karena tau bagaimana rasanya dipandang remeh profesinya, saya tidak mau ikut serta jika ada yang merendahkan profesi lainnya.
Saya tidak memandang jadi perawat, pegawai kelurahan, pegawai pemda, dokter, kepala sekolah, kepala negara, pengacara, dll, itu amat gampang.
Jika saya di posisi itu, mungkin saya tidak akan sanggup.
Saya belajar menghargai profesi lainnya, justru ketika profesi saya dipandang remeh.
Walaupun saya akui, oknum yang tidak bertanggung jawab selalu ada...yang membuat profesi tersebut, secara keseluruhan terlihat buruk.
Jadi, ada baiknya, kita menghargai semua profesi sama seperti ketika kita ingin dihargai.
Bukan hanya profesi yang secara official diakui. Juga profesi tak mudah lainnya, ehm, tepatnya pilihan 'profesi' istimewa...yaitu ibu RT.
Amat sangat pantang untuk direndahkan...
Satu lagi, mengkritik atasan kita, itu suatu kewajaran, apalagi jiga atasan sedang khilaf (atau selalu khilaf).
Tapi sangat tidak etis, ketika kita mengolok2nya secara fisik. Bagaimanapun, beliaulah sang pimpinan. Atau bahkan seorang kepala negara.
Intinya, belajarlah mengendalikan pikiran negatif atas diri orang lain, karena dari pikiran, akan menjadi perkataan dan perbuatan...
:)
Semua profesi itu penting, dan memiliki tingkat kemudahan dan kesulitannya masing-masing...
By Mahitri W

Senin, 23 Februari 2015

Bersahabat dengan Emosi

Hari ini, seperti beberapa hari lainnya yang sudah lewat. Adanya beberapa tugas tambahan di sekolah, kegiatan mengajar, persiapan perangkat, bahan ajar, menjawab soal ujian pemantapan...menyenangkan, tapi ternyata menguras tenaga dan pikiran.
Sampai di rumah, waktuna bersenang-senang dengan baby sora, mendengar cerita2 ajaib mesha, dan berbagi pikiran dengan vina. Ohya, menjadi partner papa agus juga..seru, tapi lagi2...juga menguras energi.
Saat sedang dalam kondisi energi menurun, saat itulah emosi semakin meningkat...
Bawaannya pengen ngomel, jadi lebih sering mengkritik, dan tanduk mulai bermunculan...
Saatnya pengendalian...
Saya tidak berusaha menekan emosi...makin keras ditekan...malah bisa meledak. Ya toh? :D
Paling banter, berusaha mengendalikan.
Emosi (marah) itu manusiawi, asalkan wajar...kalo berlebihan, jadi sesal nantinya...
Caranya? Yaaa tergantung cara kita masing2...
Saya lebih memilih diam dulu, menarik nafas, atau bentuk pengendalian lainnya. Klise, tapi selalu berhasil.
Saat kita sedang marah tanpa berapi-api... Marah dengan suara terkendali...saat itu kita lebih didengarkan...
Anak-anak...tidak pernah tidak melakukan kesalahan (meleset kalau kata saya).
Nasi yang tumpah, barang2 yang tidak pada tempatnya, menunda-nunda sesuatu, jahil pada saudara, berantem kecil, dan segala hal remeh lainnya.
Thank's God saya bisa merasakan kesalahan itu terjadi...
Artinya...terimakasih, mereka ada di hidup saya, walaupun terjadi "kerusuhan" bayangkan jika Tuhan tidak menitipkan mereka pada saya...:) intinya bersyukur...
Selalu bersyukur pada-Nya...
Tadi, puncaknya adalah, saat sora jatuh di undagan...tidak parah memang, tapi nangisnya tetep heboh.
Saat itu ada kedua kakaknya disana.
Saya sedang membereskan perabot di belakang...
Kaget, tentu...tapi saya tidak langsung mengeluarkan kata2 atau bahkan teriakan pada kakak2nya.
Saya angkat sora, memeluknya, dan menenangkan dia. Hanya perlu kurang dari 1 menit hingga sora tenang kembali.
Bayangkan jika saya berteriak pada kakaknya...tangisannya mungkin malah akan lebih heboh.
Justru, kedua kakaknya merasa salah, karena ternyata mereka sempat lalai.
Senangnya saat kami berpelukan...omelan saya keluar, tidak ekstrim, tapi khas mama mahitri...
Saat itu mereka hanya nyengir... Tapi kemudian jadi makin waspada.
The power of hug, the power of love.
Tidak mudah menjadi orangtua, plus pekerja, plus menantu plus anak plus warga masyarakat.
Tapi, itulah hidup, bersyukur masih bisa menikmati semuanya...
Jangan menekan emosi...nanti jadi kayak kentut, makin pelan suaranya, makin bau dia.
Bersahabatlah dengan emosi...
Bersyukurlah atas segalanya...

By Mahitri W

Minggu, 22 Februari 2015

Bumbu Cinta ala Mama

Memasak untuk keluarga itu...susah2 gampang, menyenangkan sekaligus membetekan (bahasa apa ini??). Sudah kita yang mengeluarkan uang, memasak di dapur, tapi seringkali dikritik dengan sangat pedas...hehehe...
Buat saya sih, itu jadi semacam tantangan.
Duluuuu di awal pernikahan, saya suka iba melihat suami saya kalo mencicipi masakan saya. Ekspresinya sulit digambarkan dengan kata2. Lebih bagus dengan doa :p
Tapiii, saya bangga jika dia memuji cara2 saya menyiapkan segala sesuatu untuk anak2.
Dia juga yang membuat saya tidak pernah menyerah belajar menyiapkan masakan dengan benar :) *makasi pa*
Belajar dari mama rai, itu yang paling benar :)
Setelah anak2 makin besar, semangat saya untuk memasak sendiri, makin tinggi. Tujuan utama sih, menyiapkan makanan sehat buat mereka.
Selain tentunya lebih hemat :D
Saat ini, suami dan anak2 saya sudah terbiasa dengan masakan saya. Vina selalu bangga membawa bekal masakan mama ke sekolah. Mesha suka juga sih, hanya saja, dari 3 kotak makan yang pernah dia bawa k skolah...4 sudah hilang...well, yang satu kotak makan dari mama daje..
Saya sendiri sudah tau, apa saja masakan kesukaan dari setiap anggota keluarga, dan cara penyajiannya...
Merepotkan memang, tapi, melihat kepuasan mreka...itu tidak tergantikan.
Seringkali, vina dan mesha berkomentar "mama itu masakannya pake bumbu cinta, makanya kita sukaaa"
Bahkan suami saya lebih memilih makan di rumah, sekalipun sedang aktivitas di luar (ini kemungkinan lebih ke arah penghematan, ya...bukannya efek bumbu cinta :D)
Piss yooo pa...
Hmmm, setiap kali saya disebut menggunakan bumbu cinta (note: bukan msg ya...no msg lah), saya jadi berpikir...
"Cinta sebesar apa yang mama daje (mama saya aka nenen aka mama rai) pakai untuk masakan beliau, sampai2 anak2nya, semua menantu, ipar dari anak2nya, suami/istri dari para ipar, keponakan2nya plus suami/istri mereka, semua cucu-nya, begitu mengidolakan masakan mama"
Bener loh...sampai kami (saya dan vina) punya aturan, kalau sedang diet, selain aturan diet standar yang harus dijalani, aturan paling utama adalah...tidak mengunjungi rumah nenen sampai tercapai bb ideal :D
Apapun yang tersaji di rumah mama, pastilah lezat, dan mengundang selera.
Sekalipun itu hanya telor kukus, ataupun sarden kalengan...
Indikator utama? Mesha...
Ni anak susah banget makannya...tapi di rumah mama (nenen), kuli aja kalah banyak makannya...
Masih tidak percaya? Yuk berkunjung ke rumah mama saya...
Maka anda juga pasti akan mempertanyakan...bumbu cinta sebanyak apa yang beliau gunakan???
*love u so much mama rai*

By Mahitri W