Sabtu, 23 Mei 2015
Melangkah Diatas Awan...
Ketika mampu melangkah diatas awan...
Ketika segala hal bukan lagi berada di tangan takdir, melainkan di genggaman kita...
Tak banyak yang mampu berpikir secara manusiawi...
Tak banyak yang mampu mengingat betapa indahnya berbagi
Tak banyak yang bisa mengingat, indahnya saat kaki berpijak di bumi
Hanya bisa melihat aku dan aku
Hanya bisa mengingat sakitnya saat di bumi
Hanya mau menikmati kenikmatan diatas awan
Waktunya menunjukkan bagaimana takdirmu kutentukan
Waktunya membalas rasa sakit
Waktunya memuaskan ke-akuanku
Adakah yang mampu bertahan membumi saat kaki melangkah diatas awan?
Saatnya bersyukur atas kasih-Nya...
Kasih dalam bentuk anugerah, pun dalam bentuk rasa sakit...
Si pembawa anugerah, dan si pembawa derita...adalah takdir yang harus ditemui oleh setiap makhluk-Nya
Saatnya menyadari indahnya berbagi, indahnya mengasihi, indahnya kebersamaan
Walau diikuti dengan pengorbanan
Saat kaki melangkah diatas awan, materi adalah kendalinya
Saat berbagi dan mengasihi, materi adalah bentuk nyata yang seringkali dikorbankan...
Mungkinkah itu yang membuat seseorang tak mampu mengendalikan gejolak nafsu saat diatas awan...
Tuhan tidak tidur...
Bahkan beliau memberikan cobaan dalam bentuk kenikmatan, bukan hanya derita...
Jadi, siapkah kita saat memperoleh kesempatan untuk melangkah diatas awan?
By Mahitri W
Jumat, 15 Mei 2015
Yang Terlihat vs Yang Tersirat
Her mum came in and softly asked her little daughter with a smile:
"My sweetie, could you give your mum one of your two apples"?
The girl looked up at her mum for some seconds, then she suddenly took a quick bite on one apple, and then quickly on the other!
The mum felt the smile on her face freeze, she tried hard not to reveal her disappointment!
Then, the little girl handed one of her bitten apples to her mum,and said:
"Mummy, here you are, this is the sweeter one!!
No matter who you are, how experienced you are, and how knowledgeable you think you are, always delay judgement.
Give others the privilege to explain themselves.
What you see may not be the reality.
By Mahitri W
Rabu, 13 Mei 2015
Kamilah Generasi Bahagia Itu...
INILAH GENERASI BAHAGIA ITU
Kami adalah generasi terakhir yang masih bermain di halaman rumah, lapangan bola dan di jalan-jalan. Kami berlari dan bersembunyi penuh canda-tawa dan persahabatan. Main Galasin, Yoyo, Petak Umpet, Boy-boy an, Beteng, Lompat tali, Masak-masakan pakai seng, Ular naga, mengejar layangan, bermain putren, balapan ban bekas, nonton karnaval 17 agustusan. Duduk semeja bermain Monopoli, Halma, Biji Sawo, Karet Gelang dan Ular Tangga dengan ceria.
Kami generasi yang ngantri di wartel dari jam 5 pagi, berkirim surat dan mencairkan resi di kantor pos ketika lebaran. Tiap sore kami menunggu cerita radio Brama Kumbara, berkirim salam lewat penyiar radio. Kamilah generasi yang SD nya merasakan papan tulis berwarna hitam, masih pakai sabak dan doos gerip, masih pakai pensil dan rautan yang ada kaca di salah satunya. Kamilah generasi yg SMP dan SMA nya masih pakai papam tulis hitam dan kapur putih. Generasi yang meja sekolahnya penuh dengan coretan kejujuran kami melalui tulisan Tipe-X putih, generasi yang sering mencuri pandang teman sekolah yang kita naksir, kirim salam buat dia lewat temannya dan menyelipkan surat cinta di laci mejanya.
Kami adalah generasi yang merasakan awal mula teknologi gadget komunikasi seperti pager, Komputer Pentium jangkrik 486 dan betapa canggihnya Pentium 1 66Mhz. Kami generasi yang sangat bangga kalau memegang Disket kapasitas 1.44Mb dan paham sedikit perintah Dos dengan mengetik copy, del, md, dir/w/p. Kami adalah generasi yang memakai MIRC untuk chatting dan Searching memakai Yahoo. Generasi bahagia yang pertama mengenal Nintendo, Game Bot dengan menyewa pada bapak tua di pinggir lapangan dekat sekolah kami.
Generasi kamilah yang merekam lagu dari siaran radio ke pita kaset tape, yang menulis lirik dengan cara play-pause-rewind, generasi penikmat awal Walkman dan mengenal apa itu Laserdisc, VHS. Kamilah generasi layar tancap Misbar yang merupakan cikal bakal bioskop Twenty One.
Kami tumbuh diantara para legenda dunia Queen, Beatles, Rinto Harahap dan pelantun Isabella Amy Search. Tumbuh dengan ketrampilan bikin kemoceng, lampion kertas dan kincir angin bambu yang ditarik dengan tali. Kami generasi bersepatu Reebook, Warior dan rela nyeker berangkat sekolah tanpa sepatu kalau sedang hujan. Cupu tapi bukan Madesu.
Kami adalah generasi yang bebas, bebas bermotor tanpa helm, bebas dari sakit leher gegara kebanyakan melihat ponsel, bebas manjat tembok stadion, bebas manggil teman sekolah dengan nama bapaknya. Bebas bertanggung jawab.
Dan yang terpenting…..
Kami hafal Pancasila, Nyanyian Indonesia Raya, Teks proklamasi, Sumpah Pemuda, Nama-nama para Menteri dan Dasadharma Pramuka.
*Melly Kiong ~ Emkaland*
www.emkaland.blogspot.com
By Mahitri W
Senin, 04 Mei 2015
Bertahan dan Menyesuaikan
Pepatah ini sudah sering kita dengar sejak jaman SD dan sampai kapanpun, sering jadi ungkapan dalam banyak kesempatan.
Dimanapun kita berada, maka kita harus mengikuti aturan yang berlaku di tempat tersebut. Tentu saja, yang namanya aturan, akan diikuti dengan sanksi jika ada pelanggaran.
Saat kita (akan) memasuki suatu lingkungan baru, entah itu untuk sementara waktu, ataupun untuk jangka waktu panjang, sudah pasti kita harus tau betul aturan main di tempat tersebut. Tahu dan mengikuti, pastinya.
Memasuki suatu tempat yang baru, memang bukan hal mudah. Tidak mungkin juga penyesuaian akan terjadi hanya dalam beberapa waktu saja. Di awal, bagi beberapa orang, mungkin akan (terasa) mudah. Tapi, seiring berjalannya waktu, mungkin akan ditemui berbagai perbedaan atau ketidaknyamanan dalam berbagai hal. Atau ada juga yang sejak awal sudah sulit melakukan penyesuaian.
Pertanyaan tak terungkap seperti "kok begini sih?", "aduh, gimana ini?", "wah saya harus bagaimana?" Belum lagi jalur 'birokrasi' di setiap tempat, tidaklah sama. Bisa dipastikan akan membuat sedikit (atau banyak) frustrasi.
Apalagi, bagi yang sebelumnya sudah merasa berada pada Zona Nyaman. Nah, selamat memijit kepala :)
Haruskah terjebak pada zona ribet ini? Jangan dong... Yang namanya manusia, harus selalu siap dengan perubahan.
Caranya? Pertama, kita harus paham 'aturan main' di setiap tempat. Korek informasi ini dari berbagai pihak. Mencari tau dengan cara yang cerdas tentunya. Contohnya lewat acara ngobrol ngalor ngidul. Buatlah obrolan ringan tapi mengena dengan berbagai kelompok. Dari situ, kita bs mengambil kesimpulan atas aturan tak tertulis yang berlaku di tempat tsb.
Kedua, nguping cerdas. Nggak apa nguping obrolan orang, asalkan...dengan cerdas ya. Pura2 sibuk, fokus dengan kerjaan. Cari tau apa yang umumnya jadi 'masalah' bagi kebanyakan orang di sana. Jangan berkomentar atau nyeletuk. Itu tak cerdas, itu nyari masalah namanya. Apalagii...sok memberi info pada orang yang sedang jadi topik. Wah...selamat jadi anak tiri deh.
Berikutnya, berteman cerdas. Artinya, carilah teman sebanyak mungkin. Jangan langsung mengelompokkan diri pada satu kelompok. Bersikaplah netral. Jangan jadi ember. Jangan terlibat pada gosip. Jangan menjadi kompor. Please...kita sedang penyesuaian disini. Be smart!
Ikuti alur kerja orang sekitar kita. Jika cenderung kerja cepat, maka bergeraklah. Jika santai tapi cermat, berlatihlah, jika cenderung malas...hmmm, jangan diikuti, tapi jangan pula terlihat sok rajin. Be smart. Bekerjalah cermat tapi tak terlihat membentengi diri dari pergaulan.
Selanjutnya? Ya tergantung situasi juga ya. Banyak aturan main yang bs kita terapkan.
Yang terpenting...ingat pepatah di awal tulisan ini, dan jangan lupa...kita berada di suatu tempat, pasti ada alasannya. Yang membuat penempatan memang manusia. Tapi, semua bisa terjadi juga atas kehendak-Nya. Percayakan saja pada-Nya. Jalani dengan kesungguhan, dan keikhlasan.
Tips2 saya diatas juga bisa diterapkan...
Astungkara, kita bisa bertahan.
Jadilah seperti bunglon yang bisa menyesuaikan diri dimana saja, tapi jangan pula jadi bunglon yang bermakna tidak punya jati diri, terlalu mudah berubah.
Lalu? Ya, ambillah sisi positif dari bunglon :)
Selalu berfikir positif ya...maka itu akan sangat membantu ;)
By Mahitri W
Jumat, 01 Mei 2015
Berdamai dengan Naruto...
Saya setuju dengan ungkapan (karya saya loh...) yang bijak (ngarep) tersebut...
Contohnya saja, sejak dulu saya memang tidak membebaskan anak2 saya nonton film karrtun yang ada unsur kekerasan. Salah satu contoh film-nya, ya Naruto itu.
Walaupun anak2 saya sering menontonnya, saya juga tidak lelah memberikan penjelasan tentang perbedaan antara film (apalagi kartun) dan dunia nyata.
Tetapi, sejak hampir sebulan terakhir ini, saya memberikan izin kepada kedua putri/putra saya untuk menonton serial 'tak jelas' ini.
Bentuk inkonsistensi? Hm...tidak juga..karena, saya menetapkan
SKB (syarat dan ketentuan berlaku).
Mengingat, durasi serial ini adalah 2 jam!! Mungkin durasi-nya ini yang perlu direvisi oleh stasiun tv yang bersangkutan...
Oke, kembali kepada SKB...
Jadi, mereka boleh menonton selama 2 jam, dengan catatan, sebelum itu, paling tidak mereka sudah sempat belajar selama 2 jam. Waktunya? Silahkan diatur. PR, persiapan buku, dan latihan soal harus selesai sebelum pk.18.00 wita.
Melatih mereka bertanggung jawab...
Bonus manfaat?
Nah, ini yang membuat saya memberikan izin (walaupun SKB). Semenjak rutin menonton serial ini, hal positif yang terlihat nyata adalah, Vina dan Mesa menjadi semakin akur. Kalau biasanya ada saja waktu untuk bertengkar...belakangan ini, pertengkaran itu makin langka.
Di waktu senggang, mereka akan tertawa bersama mengingat kelucuan pemeran serial ybs, saat menonton, mereka juga tertawa bersama dan saat iklan, banyak hal di luar serial tsb yang mereka bahas. Maklum, saat menonton, bawaan mereka bukan camilan. Kadang Atlas, kadang majalah anak2 yang baru terbit. Jadi saat iklan, mereka akan membahas apa yang mereka bawa itu.
Satu lagi, karena keduanya harus sudah membereskan keperluan sekolah dan kegiatan makan malam, saling membantu justru tercipta diantara mereka.
Misalnya, jika saya sedang sibuk dengan si bungsu, maka vina akan segera mempersiapkan makan malam untuk dirinya sendiri, ditambah mesha. Atau kalau si kakak terlihat sibuk, maka dengan spontan, mesha-lah yang akan membereskan tugas2 kakaknya yang bisa dia kerjakan. Termasuk, saat mendampingi mereka menonton, secara tidak langsung yang menjaga Sora menjadi 3 orang, hehehe. Sora dan mama hepi, kakak2 pun hepiii.
Nah, kan...jika dulu saya melarang habis2an mereka menonton, justru mereka sering bete dan saya terlihat sebagai 'jawara'-nya ngomel.
Saat ini, menonton dengan SKB, justru menghasilkan sesuatu yang positif :)
Saya bahagia dengan perubahan ini. Yah...dan sadar juga, bahwa tidak selalu, hal yang kita anggap tidak baik, adalah murni ketidakbaikan. Pasti ada manfaatnya (walaupun sedikit), tergantung cara kita memandang dan menyikapi-nya.
Tak lupa juga...mendampingi mereka saat menonton, adalah suatu keharusan ya moms...
Hanya saja, lampu merah tetap saya berlakukan untuk sinetron-sinetron yang berseliweran di tv swasta. Untungnya lagi...anak2 saya tidak tertarik juga dengan jenis tontonan yang satu ini #fiuuuh.
Sebagai bentuk sportifitas, dengan rendah hati, saya ingin mengucapkan terima kasih kepada serial Naruto, karena berhasil menumbuhkan kekompakan dan toleransi antara Vina dan Mesha.
Tak lupa, sebagai seorang mama, saya hanya ingin menitipkan pesan:
"Naruto, Sasuke...sudahilah perselisihan kalian...kasihan anak2 yang menjadi penonton setia kalian disuguhi perkelahian kalian dalam waktu panjang..."
Berdamailah...
:p
By Mahitri W
Kamis, 30 April 2015
Matang Dengan Indah
Yup, ini tentang usia. Tentang bertambahnya usia. Pertambahan usia, tentu diikuti dengan berbagai perubahan fisik dalam diri kita. Seharusnya dengan perubahan mental juga ya...
Tapi, ya itu tadi, saya tidak membahas tentang tingkat kedewasaan mental, saya lebih memilih membahas perubahan secara fisik. Kenapa? Ini hal yang serius loh, bagi sebagian besar (99%) wanita. Well, begitupun bagi pria, hanya saja, pria tidak menganggap ini sebagai sesuatu yang "siaga 1" ;)
Menjadi semakin matang, kadangkala menjadi momok bagi sebagian orang. Banyak kan yang tidak mengakui usianya secara jujur. Lihat saja di tv, tidak semua artis mau mengakui usia-nya. Padahal, perawatan tentu saja maksimal. Yang kulitnya mulus kenceng aja ragu mengakui apakabar yang tanpa perawatan?
Itu bagi yang mengatakan pertambahan usia (kita katakan saja, Menua, tak sopan, tapi fakta) adalah hal yang tabu.
Bagi sebagian orang lagi, menua bukanlah mimpi buruk. Bertambah usia, patutnya disyukuri. Menua adalah sesuatu yang alami. Berkerut, uban, perubahan fisik, adalah sesuatu yang 'human'. Hal yang bisa diakali. Perawatan, mulai dari yang sederhana dan ala rumahan (yang penting konsisten) bagi yang dananya pas-pasan sampai yang kelas atas. Ditambah olahraga...
Sadarkah kita, menua menjadikan kita spesial. Banyak hal yang dimaklumi atas usia plus kita. Melupakan sesuatu? Ahya, pasti faktor U nih. Berbicara kasar pada orang dewasa? Big No! Ada sederet tugas menunggu? Berilah yang muda kesempatan untuk menunjukkan kemampuan! See? Banyak benefit. Versi orang yang suka ngeles (macam saya) tentunya :D
Menua dengan sehat? Pastinya yang kita mau. Tidak hanya mencari benefit seperti diatas, menua seharusnya menyadarkan kita untuk semakin menjalankan pola hidup yang sehat. Walaupun sebaiknya disadari sejak muda (peringatan pada diri sendiri).
Takut dengan perubahan fisik? Olahraga, donk...bergerak, beraktivitas normal. Kesehatan makin rentan, ya pola makan diatur. Katakanlah diet. Perawatan kulit lebih intens. Tak perlu yang aneh2. Yang terpenting, tetap ingat membersihkan wajah, gunakan krim pagi dan malam, maskeran, ya semacam itulah. Catatan penting untuk saya pribadi: olahraga dan diet sehat!
Menua juga membuat saya melakukan banyak perubahan. Saya tidak takut dikatakan 'dewasa', pun tidak menyembunyikan usia, mengingat, sebagai PNS tidak mungkin menyembunyikan umur...terpampang jelas di NIP :p
Tidak pula membuat saya berusaha dikatakan muda, atau menjadikan saya sok muda. Saya tidak memaksakan kemudaan lewat busana :). Memilih busana yang membuat kita terlihat anggun, saya rasa pilihan yang bagus. Membuat kita lebih dihargai kan? Tentu diikuti perilaku sadar usia.
Khawatir akan kerut dan uban? Wajar...tapi sesuatu yang tidak bisa dihindari. Tidak membuat saya histeris, sih...dijalanin saja. Melakukan perawatn pun, semampu saya, tidak berlebihan. Sesuai budget.
Menua ataupun Matang dengan Indah...menjadi pilihan saya. Lihatlah 4 wanita cantik di gambar...(Saya termasuk loh, hehe). Ke-4nya saat berfoto, usianya sudah 30+. Bahkan mbak ve sudah kepala 4, mbak Indah dan mbak Mening akhir 30. Mereka terlihat tetap menarik. Bersahaja, cerdas, dengan perilaku yang sangat menyenangkan. Saya ingin menjadi seperti mereka :). Membuat saya tidak takut menua. Banyak lagi orang disekitar saya yang menarik di usia-nya yang semakin dewasa.
Nah, menua, matang, semakin dewasa, atau istilah lainnya...bukanlah sesuatu yang harus disikapi 'siaga1'. Banyak hal penting lainnya disekitar kita yang bisa diperhatikan. Menjadi berarti bagi orang-orang sekitar kita, dengan melakukan sesuatu. Menjadi bernilai bagi sesama...itu yang terpenting :)
By Mahitri W
Senin, 23 Maret 2015
Ketika Profesi Dilecehkan
Dan masih banyak hal lainnya.
Ohya, selain mempermanis pelafalan, belakangan ini, secara nyata juga banyak orang berusaha menunjukkan apresiasi-nya terhadap banyak profesi yang dianggap remeh (dulunya).
Dalam arti, lebih hati2 ketika membicarakan profesi tersebut, bersikap lebih hormat, dan tidak melecehkan secara verbal pula.
Secara pribadi, saya suka dengan kemajuan yang positif ini. Bagaimana tidak, sekarang ini banyak yang sudah menyadari betapa pentingnya asisten RT, petugas kebersihan, cleaning service, office boy, supir dll. Kita semua adalah sama2 pekerja. Apapun bentuk profesi kita.
Tetapi, ketika kita berbicara tentang profesi yang...katakanlah sedikit lebih bagus, secara tidak sadar, kita seringkali menganggap pekerjaan kita jauh lebih penting dibanding pekerjaan (profesi) lainnya.
Contoh, pernah tidak kita mendengar (atau malah kita sendiri yang mengatakannya) "jadi pns itu, enak, ga ada kerjaan, nongkrong santai di kantor, terima gaji buta" atau bentuk kalimat perkiraan lainnya.
Itu bentuk pelecehan lo...
Yang artinya kita sedang meremehkan suatu profesi, walaupun ada yang seperti itu, tapi penggunaan kata tanpa menyebut kata 'oknum' sama artinya, kita menuding semua, secara keseluruhan.
Contoh lain, "wih, enak jadi dokter, pegang sana-pegang sini, kasi obat, dapet duit, gampang bener ya..."
Wah, wah...apa kabar sekolah kedokteran yang panjang itu? Dan berbagai resiko dari profesi dokter itu?
Saya pribadi, sebagai guru, sangat sering mendapat tudingan langsung ke arah saya, tentang betapa mudahnya menjadi guru.
"Jadi guru tuh enak, udah gajinya besar, kerjaannya gampang"
"Apa sih susahnya, cuma ngulang2 ngomongin pelajaran yang sama dari tahun ke tahun?"
"Gampang ya jadi guru, habis ngajar, santai, nggak mikir apa2"
Oke...kita review dari awal...
Pada kata 'gaji besar' mungkin maksudnya adalah isu tunjangan sertifikasi itu ya...faktanya, belum (bahkan tidak) semua guru merasakan itu. Sekalipun sudah mendapat sertifikat pendidik, belum tentu bisa secara otomatis memperoleh tunjangan ya...banyak persyaratan yang harus dipenuhi. Dan percayalah...70% guru kesulitan memperolehnya.
Kata 'ngulang2 pelajaran'...katakanlah ini benar, dimana seorang guru pasti memegang mata pelajaran yang sama setiap tahunnya. Tetapi, dengan perkembangan jaman sekarang ini, seorang guru harus minimal selangkah lebih maju dibanding siswanya...update berita, wajib hukumnya.
Cuap2 di depan siswa juga ada seninya. Modal berkoar, tanpa diikuti seni dan teknik manajemen kelas, dijamin siswa akan tidur, atau tidak mengerti apa yang kita bicarakan. Tidak semua akan tetap tegar berdiri di hadapan puluhan pasang mata, yang kesemuanya fokus hanya pada kita seorang. Bayangkan jika saat itu seorang guru sedang galau, sedang ada masalah, sedang tidak fit...tetapi harus tetap fokus dan berbagi cuap-an dengan siswa...
Tak peduli ada masalah apapun, jangan sampai terlihat oleh siswa...
Terlihat santai, memang ya...hanya, apakah ada yang tahu, setelah membuat tes, ada rangkaian penilaian yang harus dijalankan, analisis soal, pengayaan dan remidi.
Apa kabar dengan penilaian kinerja, rangkaian jurnal, oka anyar, penilaian kepribadian siswa, belum jika menghadapi siswa yang sedang galau, tugas sebagai wali kelas, dan lainnya.
Saya sendiri, jika mengajar, tidak mau hanya mengandalkan bku paket, pasti akan browsing untuk tambahan materi dan mencari berita tebaru berkaitan dengan materi.
Tujuannya supaya tak ada kesempatan bagi siswa saya untuk tidur...
Tetapi, namanya pekerjaan, pasti akan ada saja yang tanpa sadar telah melecehkannya.
Saya juga tidak berusaha menjelaskan kepada siapapun uang menganggap remeh profesi saya ini.
Bagi saya, penilaian orang tidaklah penting. Ini antara saya, rekan kerja, siswa yang saya layani, dan atasan saya.
Dan, karena tau bagaimana rasanya dipandang remeh profesinya, saya tidak mau ikut serta jika ada yang merendahkan profesi lainnya.
Saya tidak memandang jadi perawat, pegawai kelurahan, pegawai pemda, dokter, kepala sekolah, kepala negara, pengacara, dll, itu amat gampang.
Jika saya di posisi itu, mungkin saya tidak akan sanggup.
Saya belajar menghargai profesi lainnya, justru ketika profesi saya dipandang remeh.
Walaupun saya akui, oknum yang tidak bertanggung jawab selalu ada...yang membuat profesi tersebut, secara keseluruhan terlihat buruk.
Jadi, ada baiknya, kita menghargai semua profesi sama seperti ketika kita ingin dihargai.
Bukan hanya profesi yang secara official diakui. Juga profesi tak mudah lainnya, ehm, tepatnya pilihan 'profesi' istimewa...yaitu ibu RT.
Amat sangat pantang untuk direndahkan...
Satu lagi, mengkritik atasan kita, itu suatu kewajaran, apalagi jiga atasan sedang khilaf (atau selalu khilaf).
Tapi sangat tidak etis, ketika kita mengolok2nya secara fisik. Bagaimanapun, beliaulah sang pimpinan. Atau bahkan seorang kepala negara.
Intinya, belajarlah mengendalikan pikiran negatif atas diri orang lain, karena dari pikiran, akan menjadi perkataan dan perbuatan...
:)
Semua profesi itu penting, dan memiliki tingkat kemudahan dan kesulitannya masing-masing...
By Mahitri W