Minggu, 20 November 2016

Statusmu...

Ah...statusmu...
Status-mu di media sosial..
Begitu panjang...begitu rinci...
Menceritakan pengalaman kejeduk pintu dan rasa sakitnya...
Menceritakan obrolanmu...
Menceritakan betemu...
Begitu terperinci...
Lalu...lihat...kenapa juga saya berkomentar?
:D
Ahya...mungkin saya rese'
Bisa juga iri...karena saya tidak pernah membuat status seperti itu...
Bahkan seringkali lupa ganti status...
Mungkin kalian pernah heran melihat status saya yang selama 3 hari ada di kebun binatang...
Karena itu saya malas merinci status...
Karena saya pelupa...
Tapi tolong kawan, jangan pernah membuat status bahwa kalian sedang sendirian di rumah atau di tempat tertentu...itu semacam memancing niatan seseorang...
Niat apa? Yah, pikirkanlah...
Jangan pula jadikan media sosial sebagai tempat sampah amarahmu...
Well...jarimu, yang menekan tombol 'send', adalah harimau-mu...
Please, be wise...

By Mahitri W

Sabtu, 19 November 2016

Keluarga Besar

Setiap dimulainya tahun ajaran baru, ketika mulai mengajar di kelas x, saya selalu mengingatkan siswa2 saya bahwa kita semua adalah keluarga besar. Sekelompok orang yang mempunyai tali persaudaraan sebagai anggota dari sebuah sekolah.
Dan khusus untuk anak wali saya, saya mengingatkan bahwa kita adalah keluarga inti. Harus ada rasa sayang, saling peduli dan saling mengingatkan. Jika tidak bisa diberitau, maka hubungi saya sebagai orangtua.
Sayapun merasa bahwa seluruh siswa saya adalah anak2 saya. Dan untuk anak wali saya, mereka adalah anak2 terdekat saya. Karna itu, sebisa mungkin saya selalu meng-update berita terbaru ttg mereka.
Mungkin saya masuk dalam kelompok wali kelas yang sering mondar-mandir masuk ke kelas wali. Memang bukan saya saja, ada banyak teman guru yang seperti itu juga.
Lalu...
Apa ini terjadi setelah saya menjadi guru?
Saya rasa tidak...di rumah saya cukup dekat dengan semua keponakan dan anak2 disekitar rumah.
Entah kenapa, saya mudah akrab dengan anak2.
Bukan hanya anak2. Tapi saya juga termasuk kategori orang yang mudah menjalin pertemanan dengan siapa saja.
Mungkin karena saya dibesarkan di papua, pada masa dimana hiburan itu sesuatu yang tidak mudah dijangkau. Dimana pertemanan adalah sesuatu yang mudah didapat, dan sekaligus paling berharga yang bisa kita miliki. Bahwa pertemanan baik dengan sesama pendatang ataupun putra daerah adalah hiburan terbaik yang bisa kita miliki.
Sebuah anugerah besar bagi saya, karna saya tumbuh besar di papua pada masa itu, dimana perbedaan bukanlah masalah besar. Bahwa hari lebaran, natal dan nyepi adalah hari raya kita semua. Bahwa itu kesempatan silaturahmi sekaligus makan gratis :)
Bagi kami, anak2 papua.
Bukan karena kami kekurangan makanan, tapi lebih karena kebahagiaan bisa pergi bersama teman2, silaturahmi ke. Semua teman dan guru atau kenalan.
Begitu menyenangkan.
Beruntung pula, bahwa setelah meninggalkan papua, saya tetap tumbuh di lingkungan yang heterogen. Tetap berkomunikasi intens dengan semua teman, dan dukungan komunikasi dengan orangtua yang juga terbiasa hidup dalam lingkungan yang heterogen pula.
For me...it's a gift.
Maka itu ada rasa sedih ketika beberapa teman yang tumbuh bersama, mendadak menjadi sarkatis. Ketika media sosial merubah mereka menjadi hakim.
Saya juga mengikuti berita, saya pun mempunya pandangan.
Tapi itu tidak membuat saya membenci yang berseberangan, dan menyebar fitnah.
Seperti juga dalam satu sekolah, kita adalah keluarga besar, maka dalam satu negara, bukankah kita juga keluarga besar?
Mengingatkan yang salah, harus.
Memberi teguran bahkan memberi hukuman pun boleh.
Tapi haruskah kita saling membenci?
Entahlah...saya tidak ingin menjadi sok bijak karena hidup saya sendiri belum lempeng.
Yah, lebih baik kita banyak2 melihat atau menonton humor. Humor yang seger, bukan yang garing atau menjual paha dan dada.
Agar pikiran fresh dan otot wajah jadi lebih rileks.
Atau...cuti media sosial saya lebih diperpanjang... :D
Fokus pada anak2 bangsa di rumah dan di sekolah, ohya dan di lingkungan saya.
Jadi pelawak bagi mereka, dan membuat mereka tersenyum bahkan tertawa.
Membuat saya selalu dirindukan.
Dan...jika butuh perawatan wajah, saya selalu diingat... #ehh...
​ƗƗɐƗƗɐƗƗɐ"̮ ƗƗɐƗƗɐƗƗɐ"̮
By Mahitri W

Senin, 25 Juli 2016

Penjurusan di SMA, tentang keinginan dan kenyataan.

Saya tertarik sekaligus tergelitik ketika membaca tulisan mb Deassy M Destiani yang berjudul "MAU TANTANGAN ATAU KEMUDAHAN" di wall halaman beliau.
Intinya tulisan ini memaparkan, betapa secara tidak disadari, insting "melindungi" orang tua terhadap anaknya justru membuat kita mengantarkan anak2 menjadi mandiri yang kurang tangguh dan kurang berani menghadapi tantangan...
Tulisan yang "keren" menurut saya, layak dibaca oleh kita selaku orang tua.
Kadang, kita memang harus merasakan kesusahan untuk dapat berpikir cepat saat menghadapi masalah, berpikir untuk mencari jalan keluar, ya...bukan berpikir untuk lari dan menjauh dari masalah.
Apa yang membuat saya tergelitik dengan tulisan tersebut?
Ada hal yang terjadi di sekitar saya, yang membuat saya sadar bahwa saat itu, beberapa orangtua siswa saya sedang melemahkan mental anak2nya...
Jadi, sebagai sekolah yang masih menerapkan kurikulum KTSP, maka penjurusan ditetapkan pada tahun kedua, atau saat siswa naik ke kelas XI.
Proses penjurusan ini sendiri, tentu ditetapkan berdasarkan beberapa kriteria. Terutama adalah nilai, hasil psikotest di awal kelas X, dan beberapa faktor lain.
Sebagai guru, saya sudah pernah menekankan hal tersebut kepada siswa saya. Bahwa, kadang memang ada keinginan kita untuk memilih jurusan tertentu...tapi pada akhirnya, kriteria2 tersebut yang akan menuntun kita ke jurusan yang memang sebaiknya diambil. Bahkan saya sudah menekankan bahwa, saat itu terjadi, percayalah bahwa itulah jalan yang harus kita lewati. Jalani dan percayalah bahwa jika kita mau berusaha, pasti selalu ada hasil yang baik.
Maka, proses pengisian formulir, proses perankingan dan penyesuaian pun dimulai. Bukan kerja yang mudah bagi 3 guru BK kami...
Kehebohan pun dimulai saat pengumuman keluar. Ada siswa yang berbahagia, ada yang kecewa karena belum sesuai jurusan yang diinginkan.
Beberapa menghubungi saya dan meminta untuk dipindahkan. Tentu saya menolaknya. Bukan karena saya tidak mau membantu, tetapi mengingat kerja panjang rekan-rekan saya di BK, saya jelas menolak dengan halus. Saya membantu anak2 ini dengan memberi semangat, dan, saya memang sudah berjanji akan membantu mereka mempelajari materi ekonomi yang kadang menjadi momok bagi mereka.
Kenapa Ekonomi? Karena kebanyakan dari siswa ini memilih jurusan bahasa, namun ternyata sebagian dianggap lebih sesuai ditempatkan pada jurusan IPS. Setelah proses ngobrol yang panjang dengan mereka ini, akhirnya mereka menyatakan siap "berjuang" di jurusan IPS. Dan tentu saya akan pegang teguh janji saya untuk membantu mereka saat belajar. Saat belajar ya, bukan membantu nilai, karna toh saya tidak mengajar di kelas XI.
Jujur ada beberapa siswa dengan alasan tertentu yang memang saya rekomendasikan untuk ke jurusan tertentu, bukan dengan iming2 hadiah atau sejenisnya ya, tentu berdasarkan nilai dan kesesuaian. Itupun saya lakukan sebelum proses penilaian oleh BK berjalan. Dan, dari 5 siswa, hanya 3 yang memang bisa dibantu, 2 lainnya karena tidak bisa ditoleransi, maka tidak bisa mendapat jurusan yang mereka tuju.
Saya salut pada salah satu siswa yang "meleset" ini. Dengan tenangnya dia berkata bahwa dia siap dan akan melakukan yang terbaik disini...
Saya salut sewaktu siswa ini berkata, "saya percaya bu, ini jalan saya dan ini juga yang akan mengantarkan saya mencapai cita-cita" wow...you're the best, girl...pikir saya saat itu ( ื▿ ืʃƪ)
Namun ada juga yang membuat saya sedih.
Seorang ortu siswa menghubungi saya, menginginkan anaknya dipindahkan jurusannya. Hal yang tidak mungkin untuk dilakukan, mengingat jika satu anak dipindahkan, bagaimana respon siswa lainnya?
Pun saya sudah menjelaskan, saya hanya guru biasa yang menghargai hasil kerja panjang dan jujur memang berat, yang dilakukan oleh para guru BK.
Dengan hati2 sudah saya jelaskan bahwa jika target siswa adalah bidang pariwisata, maka melalui jurusan manapun, bisa diambil, tidak melulu dari jurusan bahasa.
Saya benar-benar berharap siswa2 saya mempunyai mental pejuang. Bahwa tantangan apapun akan dijalani. Jangan terus ngambek dan merajuk.
Hidup tidak berhenti saat mengambil jurusan di SMA. Tantangan akan semakin berat, dimanapun kita melangkah.
Lalu apa yang terjadi?
Siswa tersebut dan 1 siswa lainnya menyatakan diri pindah ke sekolah lain, yang bisa memberikan mereka jurusan yang diinginkan.
Saya sedih.
Bukan karena sekedar kehilangan siswa. Tapi hal terbesar yang mengganggu saya adalah...secara tak sadar, ortu-nya sedang melindungi anaknya yang merajuk tsb, dengan pemikiran bahwa ortu akan selalu meluluskan keinginan mereka, bahwa saat ada hal yang tidak sesuai keinginan mereka, pergi saja dan tinggalkan tantangan itu.
Ah...tidakkah mereka berpikir bahwa, terkadang, kegagalan, kenyataan yang meleset dari target, kesedihan dan kesusahan, mungkin adalah jalan menuju keberhasilan kita yang sebenarnya?
Bahwa terkadang hidup memang tidak seindah impian, namun harus tetap dilewati.
Bahwa sebagai manusia, otak dan hati harus sejalan dan harus sama tangguhnya untuk bisa bertahan dan menjadi pemenang yang sesungguhnya?
Dan begitulah...
Saya, selaku guru dan juga orang tua...hanya bisa berdoa untuk kebaikan anak2 saya.
Jika saya berjanji membantu mereka dalam belajar, akan saya tepati itu.
Rumah saya selalu terbuka untuk anak2 yang ingin belajar.
Namun proses pembelajaran, bukan hanya antara siswa dan guru di sekolah.
Orang tua pun harus membantu dalam pelatihan mental anak-anak.
Biarkan sesekali anak itu kecewa. Disitulah gunanya kita. Mendukung mereka. Bukan untuk lari tapi untuk berjuang. Kecuali jika hal tersebut memang pantas untuk ditinggalkan. Analisa dan dukungan orangtua selalu diperlukan oleh anak-anak.
Jadi...pilihan ada pada kita...
Mau Tantangan Atau Kemudahan?
By Mahitri W

Senin, 04 Juli 2016

Ketika Rasa tak Bisa jadi Kata...

Kadang, ada satu waktu dimana ada rasa yang tidak bisa saya jelaskan, rasa apakah itu...
Ada waktu dimana saya merasakan sesuatu yang mengganjal, tapi saya tidak bisa jelaskan itu apa...karena memang saya sendiri tidak tahu rasa apakah itu...
Mungkin, ada sesuatu yang mengganggu tapi alam sadar saya tidak bisa mendeskripsikan apakah itu...
Kadangkala juga, saya tahu itu apa dan mengapa...tapi tidak bisa saya bagikan karena itu akan mengganggu.
Mengganggu siapa? Mengganggu banyak orang dan kestabilan.
Duh, bahasanya... (⌣́_⌣̀)
Kadangkala juga, keinginan untuk menyenangkan orang lain, membuat saya seperti terjebak dalam sebuah labirin yang tak berujung.
Yang saya sadar betul, labirin tak jelas itu, saya sendiri yang menciptakannya...
Jadi, apa makna dari goresan kata2 saya saat ini?
Nah...itulah, ketika ada rasa yang tidak bisa saya jadikan kata...
Maka sebuah tulisan yang tanpa makna seperti inilah yang berhasil saya ciptakan...
Ah...saya mungkin hanya merindukan catatan harian saya ini.
Yang lama tak saya kunjungi...
Yang lama tak saya tulisi...
Terlalu banyak ide, rasa, impian dan hasrat yang berputar2 di kepala dan hati saya.
Membuat saya jadi tersesat dalam labirin karya saya sendiri.
Saya hanya ingin jadi sesederhana dulu...
Jika ada yang mengganggu dan mengganjal...cukup tuliskan...
Maka akan sedikit mengurangi beban hati saya.
Titik.
Yah...saya memang merindukanmu, catatanku...
Saya memang harus mengeluarkan "sampah otak" untuk didaur ulang di catatan ini...
Menulis dan berbahagia... :)
Svaha...



By Mahitri W

Sabtu, 12 Desember 2015

Bahagia - Sedih - Bahagia - Sedih ...

Seberapa besar suka cita kita, segitu juga sedih yang akan dirasa...
Ada ungkapan seperti itu yang sering saya dengar...dalam berbagai versi, dalam berbagai bahasa...
Bukannya saya baru menyadari itu, saya justru sangat2 menyadari itu. Hanya saja, saat ini saya benar-benar tergelitik untuk menuliskannya. Entah dengan maksud apa. Mungkin hanya untuk memuaskan hati saya saja.
Seperti hari ini, perasaan saya benar2 seperti sedang menaiki roller coaster dengan kecepatan naik turunnya yang ekstrim.
Saya berterima kasih kepada anak2 saya yang walaupun sedang mengalami guncangan, yang membuat saya harus selalu berjuang menahan airmata, tapi kalian masih tetap berprestasi.
Ini bukan tentang berada di peringkat berapakah kalian, tapi lebih kepada besarnya usaha kalian.
Buat saya, yang penting mereka tetap saling mendukung, itu sudah sangat berarti.
Saudara ke-3 meraih juara umum. Ini memang kabar baik, dukanya adalah...engkau harus bersiap memasuki dunia pertarungan sesungguhnya...lebih mudah merebut daripada mempertahankan...
Saudara ke-1 dan ke-2...semangat kalian, itu sangat membanggakan.
Menghapus kabut, mungkin susah, tapi bukan ga mungkin diakalin supaya ga nabrak sana-sini...
Terima kasih karna mempercayakan saya sebagai pendengar keluh kesah kalian.
Kejutan terbesar datang dari saudara ke-4...
Ketika kabar peringkat 1-nya sampai di telinga saya, saya sampai bingung...harus bereaksi seperti apa :p
Saudara ke-1 sampai mengecek raport-nya beberapa kali. Bukan karna kami meragukan kemampuannya, tapi...terlalu mengejutkan...
Menurut bu wi, saudara ke-4 baru bunyi gong-nya. Hehehe.
Apapun yang terjadi hari ini, baik yang menyenangkan atau menyedihkan, saya bersyukur, banyak pelajaran yang membuka mata, telinga dan hati saya.
Mengajarkan saya banyak hal.
Saya bahagia, ketika melihat mereka ber-4 saling mendukung. Si bungsu, tetap jadi pusat hiburan :) .
Ya, bahagia dan sedih, memiliki garis yang sangat tipis. Tergantung bagaimana cara kita menyikapinya.
Terima kasih Sang Hyang Widhi...
Karena memberikan kelima anak ini ke dalam kehidupan saya.
Dan memberikan suami yang bersedia mendukung segala keputusan saya tentang mereka.
Saya bukan satu2nya ibu bagi mereka, belahan jiwaku...sahabatku, kakakku, personal advicer terbaik...
Ibu Dewi...benar2 partner terbaik...
Kalian semua membuat saya banyak belajar, lebih peka, dan bersemangat...
Tiap senyuman di bibir saya, ataupun tetes air mata saya...
Memiliki arti yang sama...
Tiap omelan saya, tiap pelukan saya
Juga memiliki arti yang sama...
Bahwa saya sungguh-sungguh mencintai kalian...
It's okay if this life is never flat...
As long as all of us are holding hands one another...
Everything will be okay.
By Mahitri W

Kamis, 12 November 2015

Tentang Doa

Percayakah kamu pada kekuatan doa?
Saya percaya. Sangat percaya.
Bagi saya, doa itu semacam sarana komunikasi antara saya da Dia.
Seperti seorang anak yang berbicara kepada orangtua-nya.
Dia akan memberikan apa yang kita mau, JIKA itu memang baik untuk kita.
Sejak kecil, orangtua saya memang disiplin untuk urusan yang satu ini. Berdoa.
Bukan sekedar meminta. Tapi sebagai sarana untuk berterima kasih pada-Nya.
Perjalanan waktu juga membuat saya melihat dan merasakan begitu besar makna sebuah doa.
Tidak semua yang saya minta akan terwujud dengan mudah. Selalu ada jalan walaupun berliku, walaupun harus terjatuh dulu, untuk menemukan apa yang baik untuk kita.
Yang harus kita punya, kepercayaan pada-Nya.
Itu pula yang membuat saya merubah cara berbicara saya pada-Nya.
Tidak lagi meminta apa yang saya inginkan (karena kita tidak pernah tau, benarkah itu yang baik untuk kita?). Saya hanya mengatakan bahwa inilah yang saya inginkan...tolong, beri saya jalan jika ini memang yang terbaik untuk saya dan keluarga saya, jika tidak, tolong beri saya jalan untuk menemukan yang terbaik untuk saya, keluarga saya dan orang2 sekitar saya.
Ya...saya tidak meminta yang terbaik untu saya saja.
Apalah artinya jika saya saja memperoleh kebaikan, tapi tidak orang2 terdekat dan terkasih saya? It's useless.
Pengalaman juga mengajarkan, ketika saya meyakini untuk melakukan yang terbaik untuk orang2 yang saya kasihi, tetap berkomunikasi dengan-Nya...semua pintu seperti terbuka untuk saya.
Tidak ada yang kebetulan, jika Dia sudah berkehendak. Ya kan?
Tidak selalu mudah, tidak selalu mulus. Itu benar sekali. Kita hanya harus tetap yakin, tetap berkomunikasi dan...tetap bersyukur. Itu saja.
Tapi satu hal.
Prinsip saya sejak kecil...Ora et Labora...Berdoa dan Berusaha...itu selalu jadi pasangan abadi.
Berdoa saja, tanpa berusaha...sama saja seperti berusaha saja tanpa Berdoa.
Berdoa saja, memohon saja, tanpa melakukan sesuatu...apa yang bisa kita perbaiki?
Berdoa membuka semua pintu untuk kita menemukan jalan. Jika kita tidak bergerak, tidak jatuh, tidak mengalami kesukaran...bagaimana kita tahu, betapa berartinya kebahagiaan? Walaupun dalam bentuk yang sangat sederhana.
Jatuh bangun membentuk sebuah keluarga, menjalin hubungan dengan siswa dan teman kerja, teman2 dari luar profesi, keluarga besar, membuat saya menyadari...berdoa dan berusaha harus sejalan. Itu mutlak.
Jalinan hubungan membuat saya merasakan banyak cinta, mengajarkan saya mencintai dan mengasihi, juga berbagi bahkan berkorban.
Menjaga hubungan itu, bukan hal yang mudah.
Berdoa menguatkan saya. Dengan doa, saya terkadang bisa terhubung dengan orang yang sedang membutuhkan bantuan, walaupun sekedar curhat, untuk melegakan hati. Dan doa selalu bisa menghubungkan saya langsung dengan orang yang bisa membantu saya saat membutuhkan.
Percayalah pada kekuatan Doa, percayalah pada kekuatan dirimu untuk berusaha...
:)
By Mahitri W

Sabtu, 17 Oktober 2015

Terjebak Ego

Jika menurutmu bahwa jauh lebih baik mengendarai sepeda atau naik transportasi umum untuk ke tempat kerja, tetapi kemudian kamu memandang buruk orang yang membawa mobilnya ke tmp kerja..kamu sedang terjebak ego

Jika menurutmu lebih baik berhenti menonton acara tv yang bisa merusak otakmu, tetapi kamu memandang buruk org yang melakukannya... Kamu sedang terjebak ego

Jika menurutmu lebih baik menghindari bergosip, menonton atau membaca gosip selebritis, tapi kamu memandang buruk org yang melakukannya... Kamu sedang terjebak ego

Jika menurutmu lebih baik melakukan yoga, memperdalam spiritual, menjadi vegan, berhijab, bermeditasi, menggunakan bahan daur ulang, mengkonsumsi bahan organik, membaca kitab suci, tetapi kemudian kamu memandang buruk orang yang melakukan kebalikannya... Kamu sedang terjebak ego

Jika menurutmu lebih baik memulai hidup sehat, rutin berolahraga, memulai disiplin dalam hidup, tetapi kemudian memandang buruk orang melakukan sebaliknya... Kamu sedang terjebak ego.

Waspadalah terhadap rasa "lebih baik dari mereka". Perasaan ini adalah tanda utama kamu sedang terjebak ego. Perasaan superior, menghakimi dan menyalahkan orang lain... Inilah jebakan ego.
;)
By Mahitri W