Seberapa besar suka cita kita, segitu juga sedih yang akan dirasa...
Ada ungkapan seperti itu yang sering saya dengar...dalam berbagai versi, dalam berbagai bahasa...
Bukannya saya baru menyadari itu, saya justru sangat2 menyadari itu. Hanya saja, saat ini saya benar-benar tergelitik untuk menuliskannya. Entah dengan maksud apa. Mungkin hanya untuk memuaskan hati saya saja.
Seperti hari ini, perasaan saya benar2 seperti sedang menaiki roller coaster dengan kecepatan naik turunnya yang ekstrim.
Saya berterima kasih kepada anak2 saya yang walaupun sedang mengalami guncangan, yang membuat saya harus selalu berjuang menahan airmata, tapi kalian masih tetap berprestasi.
Ini bukan tentang berada di peringkat berapakah kalian, tapi lebih kepada besarnya usaha kalian.
Buat saya, yang penting mereka tetap saling mendukung, itu sudah sangat berarti.
Saudara ke-3 meraih juara umum. Ini memang kabar baik, dukanya adalah...engkau harus bersiap memasuki dunia pertarungan sesungguhnya...lebih mudah merebut daripada mempertahankan...
Saudara ke-1 dan ke-2...semangat kalian, itu sangat membanggakan.
Menghapus kabut, mungkin susah, tapi bukan ga mungkin diakalin supaya ga nabrak sana-sini...
Terima kasih karna mempercayakan saya sebagai pendengar keluh kesah kalian.
Kejutan terbesar datang dari saudara ke-4...
Ketika kabar peringkat 1-nya sampai di telinga saya, saya sampai bingung...harus bereaksi seperti apa :p
Saudara ke-1 sampai mengecek raport-nya beberapa kali. Bukan karna kami meragukan kemampuannya, tapi...terlalu mengejutkan...
Menurut bu wi, saudara ke-4 baru bunyi gong-nya. Hehehe.
Apapun yang terjadi hari ini, baik yang menyenangkan atau menyedihkan, saya bersyukur, banyak pelajaran yang membuka mata, telinga dan hati saya.
Mengajarkan saya banyak hal.
Saya bahagia, ketika melihat mereka ber-4 saling mendukung. Si bungsu, tetap jadi pusat hiburan :) .
Ya, bahagia dan sedih, memiliki garis yang sangat tipis. Tergantung bagaimana cara kita menyikapinya.
Terima kasih Sang Hyang Widhi...
Karena memberikan kelima anak ini ke dalam kehidupan saya.
Dan memberikan suami yang bersedia mendukung segala keputusan saya tentang mereka.
Saya bukan satu2nya ibu bagi mereka, belahan jiwaku...sahabatku, kakakku, personal advicer terbaik...
Ibu Dewi...benar2 partner terbaik...
Kalian semua membuat saya banyak belajar, lebih peka, dan bersemangat...
Tiap senyuman di bibir saya, ataupun tetes air mata saya...
Memiliki arti yang sama...
Tiap omelan saya, tiap pelukan saya
Juga memiliki arti yang sama...
Bahwa saya sungguh-sungguh mencintai kalian...
It's okay if this life is never flat...
As long as all of us are holding hands one another...
Everything will be okay.
By Mahitri W
Sabtu, 12 Desember 2015
Kamis, 12 November 2015
Tentang Doa
Percayakah kamu pada kekuatan doa?
Saya percaya. Sangat percaya.
Bagi saya, doa itu semacam sarana komunikasi antara saya da Dia.
Seperti seorang anak yang berbicara kepada orangtua-nya.
Dia akan memberikan apa yang kita mau, JIKA itu memang baik untuk kita.
Sejak kecil, orangtua saya memang disiplin untuk urusan yang satu ini. Berdoa.
Bukan sekedar meminta. Tapi sebagai sarana untuk berterima kasih pada-Nya.
Perjalanan waktu juga membuat saya melihat dan merasakan begitu besar makna sebuah doa.
Tidak semua yang saya minta akan terwujud dengan mudah. Selalu ada jalan walaupun berliku, walaupun harus terjatuh dulu, untuk menemukan apa yang baik untuk kita.
Yang harus kita punya, kepercayaan pada-Nya.
Itu pula yang membuat saya merubah cara berbicara saya pada-Nya.
Tidak lagi meminta apa yang saya inginkan (karena kita tidak pernah tau, benarkah itu yang baik untuk kita?). Saya hanya mengatakan bahwa inilah yang saya inginkan...tolong, beri saya jalan jika ini memang yang terbaik untuk saya dan keluarga saya, jika tidak, tolong beri saya jalan untuk menemukan yang terbaik untuk saya, keluarga saya dan orang2 sekitar saya.
Ya...saya tidak meminta yang terbaik untu saya saja.
Apalah artinya jika saya saja memperoleh kebaikan, tapi tidak orang2 terdekat dan terkasih saya? It's useless.
Pengalaman juga mengajarkan, ketika saya meyakini untuk melakukan yang terbaik untuk orang2 yang saya kasihi, tetap berkomunikasi dengan-Nya...semua pintu seperti terbuka untuk saya.
Tidak ada yang kebetulan, jika Dia sudah berkehendak. Ya kan?
Tidak selalu mudah, tidak selalu mulus. Itu benar sekali. Kita hanya harus tetap yakin, tetap berkomunikasi dan...tetap bersyukur. Itu saja.
Tapi satu hal.
Prinsip saya sejak kecil...Ora et Labora...Berdoa dan Berusaha...itu selalu jadi pasangan abadi.
Berdoa saja, tanpa berusaha...sama saja seperti berusaha saja tanpa Berdoa.
Berdoa saja, memohon saja, tanpa melakukan sesuatu...apa yang bisa kita perbaiki?
Berdoa membuka semua pintu untuk kita menemukan jalan. Jika kita tidak bergerak, tidak jatuh, tidak mengalami kesukaran...bagaimana kita tahu, betapa berartinya kebahagiaan? Walaupun dalam bentuk yang sangat sederhana.
Jatuh bangun membentuk sebuah keluarga, menjalin hubungan dengan siswa dan teman kerja, teman2 dari luar profesi, keluarga besar, membuat saya menyadari...berdoa dan berusaha harus sejalan. Itu mutlak.
Jalinan hubungan membuat saya merasakan banyak cinta, mengajarkan saya mencintai dan mengasihi, juga berbagi bahkan berkorban.
Menjaga hubungan itu, bukan hal yang mudah.
Berdoa menguatkan saya. Dengan doa, saya terkadang bisa terhubung dengan orang yang sedang membutuhkan bantuan, walaupun sekedar curhat, untuk melegakan hati. Dan doa selalu bisa menghubungkan saya langsung dengan orang yang bisa membantu saya saat membutuhkan.
Percayalah pada kekuatan Doa, percayalah pada kekuatan dirimu untuk berusaha...
:)
By Mahitri W
Saya percaya. Sangat percaya.
Bagi saya, doa itu semacam sarana komunikasi antara saya da Dia.
Seperti seorang anak yang berbicara kepada orangtua-nya.
Dia akan memberikan apa yang kita mau, JIKA itu memang baik untuk kita.
Sejak kecil, orangtua saya memang disiplin untuk urusan yang satu ini. Berdoa.
Bukan sekedar meminta. Tapi sebagai sarana untuk berterima kasih pada-Nya.
Perjalanan waktu juga membuat saya melihat dan merasakan begitu besar makna sebuah doa.
Tidak semua yang saya minta akan terwujud dengan mudah. Selalu ada jalan walaupun berliku, walaupun harus terjatuh dulu, untuk menemukan apa yang baik untuk kita.
Yang harus kita punya, kepercayaan pada-Nya.
Itu pula yang membuat saya merubah cara berbicara saya pada-Nya.
Tidak lagi meminta apa yang saya inginkan (karena kita tidak pernah tau, benarkah itu yang baik untuk kita?). Saya hanya mengatakan bahwa inilah yang saya inginkan...tolong, beri saya jalan jika ini memang yang terbaik untuk saya dan keluarga saya, jika tidak, tolong beri saya jalan untuk menemukan yang terbaik untuk saya, keluarga saya dan orang2 sekitar saya.
Ya...saya tidak meminta yang terbaik untu saya saja.
Apalah artinya jika saya saja memperoleh kebaikan, tapi tidak orang2 terdekat dan terkasih saya? It's useless.
Pengalaman juga mengajarkan, ketika saya meyakini untuk melakukan yang terbaik untuk orang2 yang saya kasihi, tetap berkomunikasi dengan-Nya...semua pintu seperti terbuka untuk saya.
Tidak ada yang kebetulan, jika Dia sudah berkehendak. Ya kan?
Tidak selalu mudah, tidak selalu mulus. Itu benar sekali. Kita hanya harus tetap yakin, tetap berkomunikasi dan...tetap bersyukur. Itu saja.
Tapi satu hal.
Prinsip saya sejak kecil...Ora et Labora...Berdoa dan Berusaha...itu selalu jadi pasangan abadi.
Berdoa saja, tanpa berusaha...sama saja seperti berusaha saja tanpa Berdoa.
Berdoa saja, memohon saja, tanpa melakukan sesuatu...apa yang bisa kita perbaiki?
Berdoa membuka semua pintu untuk kita menemukan jalan. Jika kita tidak bergerak, tidak jatuh, tidak mengalami kesukaran...bagaimana kita tahu, betapa berartinya kebahagiaan? Walaupun dalam bentuk yang sangat sederhana.
Jatuh bangun membentuk sebuah keluarga, menjalin hubungan dengan siswa dan teman kerja, teman2 dari luar profesi, keluarga besar, membuat saya menyadari...berdoa dan berusaha harus sejalan. Itu mutlak.
Jalinan hubungan membuat saya merasakan banyak cinta, mengajarkan saya mencintai dan mengasihi, juga berbagi bahkan berkorban.
Menjaga hubungan itu, bukan hal yang mudah.
Berdoa menguatkan saya. Dengan doa, saya terkadang bisa terhubung dengan orang yang sedang membutuhkan bantuan, walaupun sekedar curhat, untuk melegakan hati. Dan doa selalu bisa menghubungkan saya langsung dengan orang yang bisa membantu saya saat membutuhkan.
Percayalah pada kekuatan Doa, percayalah pada kekuatan dirimu untuk berusaha...
:)
By Mahitri W
Sabtu, 17 Oktober 2015
Terjebak Ego
Jika menurutmu bahwa jauh lebih baik mengendarai sepeda atau naik transportasi umum untuk ke tempat kerja, tetapi kemudian kamu memandang buruk orang yang membawa mobilnya ke tmp kerja..kamu sedang terjebak ego
Jika menurutmu lebih baik berhenti menonton acara tv yang bisa merusak otakmu, tetapi kamu memandang buruk org yang melakukannya... Kamu sedang terjebak ego
Jika menurutmu lebih baik menghindari bergosip, menonton atau membaca gosip selebritis, tapi kamu memandang buruk org yang melakukannya... Kamu sedang terjebak ego
Jika menurutmu lebih baik melakukan yoga, memperdalam spiritual, menjadi vegan, berhijab, bermeditasi, menggunakan bahan daur ulang, mengkonsumsi bahan organik, membaca kitab suci, tetapi kemudian kamu memandang buruk orang yang melakukan kebalikannya... Kamu sedang terjebak ego
Jika menurutmu lebih baik memulai hidup sehat, rutin berolahraga, memulai disiplin dalam hidup, tetapi kemudian memandang buruk orang melakukan sebaliknya... Kamu sedang terjebak ego.
Waspadalah terhadap rasa "lebih baik dari mereka". Perasaan ini adalah tanda utama kamu sedang terjebak ego. Perasaan superior, menghakimi dan menyalahkan orang lain... Inilah jebakan ego.
;)
By Mahitri W
Jika menurutmu lebih baik berhenti menonton acara tv yang bisa merusak otakmu, tetapi kamu memandang buruk org yang melakukannya... Kamu sedang terjebak ego
Jika menurutmu lebih baik menghindari bergosip, menonton atau membaca gosip selebritis, tapi kamu memandang buruk org yang melakukannya... Kamu sedang terjebak ego
Jika menurutmu lebih baik melakukan yoga, memperdalam spiritual, menjadi vegan, berhijab, bermeditasi, menggunakan bahan daur ulang, mengkonsumsi bahan organik, membaca kitab suci, tetapi kemudian kamu memandang buruk orang yang melakukan kebalikannya... Kamu sedang terjebak ego
Jika menurutmu lebih baik memulai hidup sehat, rutin berolahraga, memulai disiplin dalam hidup, tetapi kemudian memandang buruk orang melakukan sebaliknya... Kamu sedang terjebak ego.
Waspadalah terhadap rasa "lebih baik dari mereka". Perasaan ini adalah tanda utama kamu sedang terjebak ego. Perasaan superior, menghakimi dan menyalahkan orang lain... Inilah jebakan ego.
;)
By Mahitri W
Jumat, 31 Juli 2015
Mission Impossible
Bagi saya, mission impossible itu adalah mengerjakan pekerjaan kantor di rumah pada jam kerja.
Niat awal sih mulia, daripada ngelembur di sekolah, mending juga kerja di rumah, bisa sambil ngawasin anak2, bisa sambil nyiapin masakan, bisa sambil...macam2 lah... Yang indah2 deh dalam bayangan saya. Tapi apa daya...kenyataannya, malah ƍǻ bisa fokus. Sora yang bersemangat ngeliat laptop dan printer, belum lagi dia akan sering merajuk kalau saya ada di rumah tapi ga merhatiin dia, atau saya jadi senewen sama ocehan mesha yang sering campur sari...atau cerita2 vina ttg reportase hari ini di sekolahnya.
Yang ada kerjaan ga beres, emosi malah ga beraturan.
Lalu, apa lebih baik lembur di sekolah?
Kalau masih pada jam kerja, memang lebih baik dikerjakan di sekolah...
Kalau harus sampai melewati jam kerja, saya agak keberatan.
Kalaupun saya mengambil satu hari tidak ke sekolah (tentu saja jika tak ada jadwal mengajar) saya lebih memilih untuk melewati jam kerja itu dengan bermain bersama sora, pagi harinya saya bisa menyiapkan masakan spesial buat keluarga...kemudian mendengarkan sajian campur sari mesha, dan reportase ala vina.
Lalu pekerjaannya? Ya...saya ambil lembur malam hari. Serius, dan jujur nih. Saat banyak tugas yang harus saya selesaikan, saya sering begadang atau malah tidak tidur sama sekali di malam hari.
Melelahkan? Sangat. Sudah begitu, di pagi hari terkadang aktivitas sosial harus tetap berjalan...
Tapi saya tetap memilih yang begadang ini, ketimbang harus mengorbankan waktu bersama anak-anak...
Mungkin juga ini karena saya bukanlah tipikal wanita yang sukses ber-multi tasking.
Sebagai wanita, saya dibiasakan multi tasking, hanya...saya bukanlah ahlinya :)
Jika berkaitan dengan anak2...saya tidak berusaha menjadi wanita multi tasking...
Jadi, biarlah, bekerja di rumah pada hari dan jam kerja, tetap menjadi Mission Impossible buat saya.
Dalam kasus ini, saya tidak menjadi malu karenanya...
Toh karena pekerjaan tetap saya selesaikan dengan segala resikonya.
Astungkara...
By Mahitri W
Niat awal sih mulia, daripada ngelembur di sekolah, mending juga kerja di rumah, bisa sambil ngawasin anak2, bisa sambil nyiapin masakan, bisa sambil...macam2 lah... Yang indah2 deh dalam bayangan saya. Tapi apa daya...kenyataannya, malah ƍǻ bisa fokus. Sora yang bersemangat ngeliat laptop dan printer, belum lagi dia akan sering merajuk kalau saya ada di rumah tapi ga merhatiin dia, atau saya jadi senewen sama ocehan mesha yang sering campur sari...atau cerita2 vina ttg reportase hari ini di sekolahnya.
Yang ada kerjaan ga beres, emosi malah ga beraturan.
Lalu, apa lebih baik lembur di sekolah?
Kalau masih pada jam kerja, memang lebih baik dikerjakan di sekolah...
Kalau harus sampai melewati jam kerja, saya agak keberatan.
Kalaupun saya mengambil satu hari tidak ke sekolah (tentu saja jika tak ada jadwal mengajar) saya lebih memilih untuk melewati jam kerja itu dengan bermain bersama sora, pagi harinya saya bisa menyiapkan masakan spesial buat keluarga...kemudian mendengarkan sajian campur sari mesha, dan reportase ala vina.
Lalu pekerjaannya? Ya...saya ambil lembur malam hari. Serius, dan jujur nih. Saat banyak tugas yang harus saya selesaikan, saya sering begadang atau malah tidak tidur sama sekali di malam hari.
Melelahkan? Sangat. Sudah begitu, di pagi hari terkadang aktivitas sosial harus tetap berjalan...
Tapi saya tetap memilih yang begadang ini, ketimbang harus mengorbankan waktu bersama anak-anak...
Mungkin juga ini karena saya bukanlah tipikal wanita yang sukses ber-multi tasking.
Sebagai wanita, saya dibiasakan multi tasking, hanya...saya bukanlah ahlinya :)
Jika berkaitan dengan anak2...saya tidak berusaha menjadi wanita multi tasking...
Jadi, biarlah, bekerja di rumah pada hari dan jam kerja, tetap menjadi Mission Impossible buat saya.
Dalam kasus ini, saya tidak menjadi malu karenanya...
Toh karena pekerjaan tetap saya selesaikan dengan segala resikonya.
Astungkara...
By Mahitri W
Jumat, 29 Mei 2015
No Revenge... Even it Hurts...
Hm....benarkah ada rasa seperti itu? Tak ada pembalasan dendam walau menyakitkan...
Sebelum dibahas...taukah, dan percayakah kita dengan karma?
Bagi saya, karma itu semacam hukum alam..."Apa yang kau tabur, itulah yang kau tuai" nah, that's karma.
Karma seperti juga Reinkarnasi... Ada yang percaya ada yang sangsi.
Bagi saya lagi...karma lebih nyata...walau sebenarnya, reinkarnasi dan karma, itu sejalan. Kenapa? Manusia ber-reinkarnasi untuk menjalani karma.
Tapi, saat ini, saya rasa karma tak menunggu seseorang bereinkarnasi...dia bisa datang kapan saja, di kehidupan sekarang.
Untuk karma dari hal buruk, terkadang datang dengan cara yang lebih menyakitkan...
Dia datang dan menyapa kita melalui orang yang paling kita sayang...itu dobel menyakitkan... Berhati-hatilah kawan...
Tidak percaya?
Sebagai contoh...katakanlah kita ambil sample para pesohor negeri ini. Apa sih hal yang paling menggelitik dan menggemaskan masyarakat kita? Perselingkuhan! Saya pasti betul, kan?
Lihat saja perselingkuhan yang menyebabkan guncangnya RT para pesohor kita. Setiap kali beritanya muncul di tv, duh, gemasnya minta ampun...
Rasanya seperti ingin mengelus2 si wanita ketiga itu...paling tidak dengan garpu tentunya...
Tapi apa daya, para PFBN (public figure yg berselingkuh dan menikah) itu justru tetap jumawa berseliweran di media kita. Diperlakukan bak tak ada dosa.
Kita, si penonton, makin gemas dan sibuk mengumpat...
Kawan...saya justru sering kasihan kepada mereka ini...mengapa? (terus terang suami saya pun sering heran pada pola pikir saya).
Tidak adakah yang menyadari...karma sudah dipastikan menempel pada mereka, dan akan terjadi, dengan cara yang lebih menyakitkan. Sebut saja bbrp pesohor yang PFBN itu...dan anak hasil PFBN tsb. (Terutama JIKA si wanita yang jadi korban dan tersingkir adalah wanita baik dan tak pantas diperlakukan demikian).
They're Girls!! Most of them...
Anak yang lucu, cantik, membanggakan, dan pengikat bagi mereka si PFBN.
Katakan saya jahat karena mengatakan ini... Tapi seperti yang saya katakan di atas. Karma adalah hukum alam. Silahkan tebak apa yang akan terjadi nanti... Atau, silahkan saksikan nanti :) Sialnya, posisi, uang, dan apapun yang didapat dari PFBN...tak kan bisa menahan hukum alam...
Oke sudah...terlalu mencekam untuk dibahas...
:D
Jadi begini...saya tipe orang yang percaya karma. Walaupun tingkah laku saya juga tidak baik-baik amat ya. Justru itu, makanya saya percaya, ƗƗɐƗƗɐƗƗɐ"̮ ƗƗɐƗƗɐƗƗɐ"̮
Lah...dari beberapa kali menjahili orang, hal serupa menimpa saya juga, gimana bisa tidak percaya?
Karena itu, jika hal serius dan menyakitkan terjadi, saya cenderung diam...
Karena saya baik hati dan berbudi pekerti luhur?
Naaaah, 'coz I'm too lazy to take revenge... (Mengutip dari pic.di atas...)
Saya tidak baik-baik amat kan? Saya sedang menunggu hal yang sama (atau lebih) akan terjadi padanya...
I feel like I'm the real devil...
Lebih tepatnya, ya karena saya orang yang malas melakukan sesuatu yang memicu adrenalin terlalu kuat.
Biarkan alam bekerja.
Titik.
Lalu bagaimana jika hidup orang ybs tetap aman terkendali bahagia kaya dan bikin sirik?
Ya sudahlah...anggap saja itu berarti karma dia sangat baik, sehingga dia jadi seperti itu.
Laaaah...apa kabar sakit hati kita?
Kawan, jangan terlalu diambil hati, coba lihat ke belakang...mungkin saja itu terjadi karena apa yang pernah kita lakukan, secara sadar atau tidak. Sehingga karma sedang menyapa. Dan dia sebagai pembawa karma.
Ha!
Tulisan bikin bete? ƗƗɐƗƗɐƗƗɐ"̮ ƗƗɐƗƗɐƗƗɐ"̮
Itulah karma...
Hukum alam...tak ada yang bisa menolaknya :)
Jadi...jalani hidup, berkawanlah dan percayalah pada alam dan Sang Pencipta...
Ini bukan nasihat untuk orang lain, tapi lebih kepada diri sendiri.
Terlalu banyak hal yang membuat hati saya bergejolak penuh amarah dan rasa penasaran. Jadi saya benar-benar perlu memahami hukum alam, dan lebih mempercayai-Nya...
:)
By Mahitri W
Sebelum dibahas...taukah, dan percayakah kita dengan karma?
Bagi saya, karma itu semacam hukum alam..."Apa yang kau tabur, itulah yang kau tuai" nah, that's karma.
Karma seperti juga Reinkarnasi... Ada yang percaya ada yang sangsi.
Bagi saya lagi...karma lebih nyata...walau sebenarnya, reinkarnasi dan karma, itu sejalan. Kenapa? Manusia ber-reinkarnasi untuk menjalani karma.
Tapi, saat ini, saya rasa karma tak menunggu seseorang bereinkarnasi...dia bisa datang kapan saja, di kehidupan sekarang.
Untuk karma dari hal buruk, terkadang datang dengan cara yang lebih menyakitkan...
Dia datang dan menyapa kita melalui orang yang paling kita sayang...itu dobel menyakitkan... Berhati-hatilah kawan...
Tidak percaya?
Sebagai contoh...katakanlah kita ambil sample para pesohor negeri ini. Apa sih hal yang paling menggelitik dan menggemaskan masyarakat kita? Perselingkuhan! Saya pasti betul, kan?
Lihat saja perselingkuhan yang menyebabkan guncangnya RT para pesohor kita. Setiap kali beritanya muncul di tv, duh, gemasnya minta ampun...
Rasanya seperti ingin mengelus2 si wanita ketiga itu...paling tidak dengan garpu tentunya...
Tapi apa daya, para PFBN (public figure yg berselingkuh dan menikah) itu justru tetap jumawa berseliweran di media kita. Diperlakukan bak tak ada dosa.
Kita, si penonton, makin gemas dan sibuk mengumpat...
Kawan...saya justru sering kasihan kepada mereka ini...mengapa? (terus terang suami saya pun sering heran pada pola pikir saya).
Tidak adakah yang menyadari...karma sudah dipastikan menempel pada mereka, dan akan terjadi, dengan cara yang lebih menyakitkan. Sebut saja bbrp pesohor yang PFBN itu...dan anak hasil PFBN tsb. (Terutama JIKA si wanita yang jadi korban dan tersingkir adalah wanita baik dan tak pantas diperlakukan demikian).
They're Girls!! Most of them...
Anak yang lucu, cantik, membanggakan, dan pengikat bagi mereka si PFBN.
Katakan saya jahat karena mengatakan ini... Tapi seperti yang saya katakan di atas. Karma adalah hukum alam. Silahkan tebak apa yang akan terjadi nanti... Atau, silahkan saksikan nanti :) Sialnya, posisi, uang, dan apapun yang didapat dari PFBN...tak kan bisa menahan hukum alam...
Oke sudah...terlalu mencekam untuk dibahas...
:D
Jadi begini...saya tipe orang yang percaya karma. Walaupun tingkah laku saya juga tidak baik-baik amat ya. Justru itu, makanya saya percaya, ƗƗɐƗƗɐƗƗɐ"̮ ƗƗɐƗƗɐƗƗɐ"̮
Lah...dari beberapa kali menjahili orang, hal serupa menimpa saya juga, gimana bisa tidak percaya?
Karena itu, jika hal serius dan menyakitkan terjadi, saya cenderung diam...
Karena saya baik hati dan berbudi pekerti luhur?
Naaaah, 'coz I'm too lazy to take revenge... (Mengutip dari pic.di atas...)
Saya tidak baik-baik amat kan? Saya sedang menunggu hal yang sama (atau lebih) akan terjadi padanya...
I feel like I'm the real devil...
Lebih tepatnya, ya karena saya orang yang malas melakukan sesuatu yang memicu adrenalin terlalu kuat.
Biarkan alam bekerja.
Titik.
Lalu bagaimana jika hidup orang ybs tetap aman terkendali bahagia kaya dan bikin sirik?
Ya sudahlah...anggap saja itu berarti karma dia sangat baik, sehingga dia jadi seperti itu.
Laaaah...apa kabar sakit hati kita?
Kawan, jangan terlalu diambil hati, coba lihat ke belakang...mungkin saja itu terjadi karena apa yang pernah kita lakukan, secara sadar atau tidak. Sehingga karma sedang menyapa. Dan dia sebagai pembawa karma.
Ha!
Tulisan bikin bete? ƗƗɐƗƗɐƗƗɐ"̮ ƗƗɐƗƗɐƗƗɐ"̮
Itulah karma...
Hukum alam...tak ada yang bisa menolaknya :)
Jadi...jalani hidup, berkawanlah dan percayalah pada alam dan Sang Pencipta...
Ini bukan nasihat untuk orang lain, tapi lebih kepada diri sendiri.
Terlalu banyak hal yang membuat hati saya bergejolak penuh amarah dan rasa penasaran. Jadi saya benar-benar perlu memahami hukum alam, dan lebih mempercayai-Nya...
:)
By Mahitri W
Selasa, 26 Mei 2015
Filosofi Sepatu...
Pasangan terbaik itu semestinya bagaikan sepasang "SEPATU"...
1. Bentuknya tak persis sama, namun serasi
2. Saat berjalan tak pernah kompak, tapi tujuannya sama
3. Tak pernah ganti posisi, namun saling melengkapi
4. Selalu sederajat, tak ada yang lebih rendah ataupun yang lebih tinggi
5. Bila yang satu hilang, yang lain tak akan memiliki arti
"SEPATU": SEjalan samPAi TUa..
By Mahitri W Picture by : Facebook Clarks Shoes Indonesia
1. Bentuknya tak persis sama, namun serasi
2. Saat berjalan tak pernah kompak, tapi tujuannya sama
3. Tak pernah ganti posisi, namun saling melengkapi
4. Selalu sederajat, tak ada yang lebih rendah ataupun yang lebih tinggi
5. Bila yang satu hilang, yang lain tak akan memiliki arti
"SEPATU": SEjalan samPAi TUa..
By Mahitri W Picture by : Facebook Clarks Shoes Indonesia
Sabtu, 23 Mei 2015
Melangkah Diatas Awan...
Ketika diri sedang berada diatas angin...
Ketika mampu melangkah diatas awan...
Ketika segala hal bukan lagi berada di tangan takdir, melainkan di genggaman kita...
Tak banyak yang mampu berpikir secara manusiawi...
Tak banyak yang mampu mengingat betapa indahnya berbagi
Tak banyak yang bisa mengingat, indahnya saat kaki berpijak di bumi
Hanya bisa melihat aku dan aku
Hanya bisa mengingat sakitnya saat di bumi
Hanya mau menikmati kenikmatan diatas awan
Waktunya menunjukkan bagaimana takdirmu kutentukan
Waktunya membalas rasa sakit
Waktunya memuaskan ke-akuanku
Adakah yang mampu bertahan membumi saat kaki melangkah diatas awan?
Saatnya bersyukur atas kasih-Nya...
Kasih dalam bentuk anugerah, pun dalam bentuk rasa sakit...
Si pembawa anugerah, dan si pembawa derita...adalah takdir yang harus ditemui oleh setiap makhluk-Nya
Saatnya menyadari indahnya berbagi, indahnya mengasihi, indahnya kebersamaan
Walau diikuti dengan pengorbanan
Saat kaki melangkah diatas awan, materi adalah kendalinya
Saat berbagi dan mengasihi, materi adalah bentuk nyata yang seringkali dikorbankan...
Mungkinkah itu yang membuat seseorang tak mampu mengendalikan gejolak nafsu saat diatas awan...
Tuhan tidak tidur...
Bahkan beliau memberikan cobaan dalam bentuk kenikmatan, bukan hanya derita...
Jadi, siapkah kita saat memperoleh kesempatan untuk melangkah diatas awan?
By Mahitri W
Ketika mampu melangkah diatas awan...
Ketika segala hal bukan lagi berada di tangan takdir, melainkan di genggaman kita...
Tak banyak yang mampu berpikir secara manusiawi...
Tak banyak yang mampu mengingat betapa indahnya berbagi
Tak banyak yang bisa mengingat, indahnya saat kaki berpijak di bumi
Hanya bisa melihat aku dan aku
Hanya bisa mengingat sakitnya saat di bumi
Hanya mau menikmati kenikmatan diatas awan
Waktunya menunjukkan bagaimana takdirmu kutentukan
Waktunya membalas rasa sakit
Waktunya memuaskan ke-akuanku
Adakah yang mampu bertahan membumi saat kaki melangkah diatas awan?
Saatnya bersyukur atas kasih-Nya...
Kasih dalam bentuk anugerah, pun dalam bentuk rasa sakit...
Si pembawa anugerah, dan si pembawa derita...adalah takdir yang harus ditemui oleh setiap makhluk-Nya
Saatnya menyadari indahnya berbagi, indahnya mengasihi, indahnya kebersamaan
Walau diikuti dengan pengorbanan
Saat kaki melangkah diatas awan, materi adalah kendalinya
Saat berbagi dan mengasihi, materi adalah bentuk nyata yang seringkali dikorbankan...
Mungkinkah itu yang membuat seseorang tak mampu mengendalikan gejolak nafsu saat diatas awan...
Tuhan tidak tidur...
Bahkan beliau memberikan cobaan dalam bentuk kenikmatan, bukan hanya derita...
Jadi, siapkah kita saat memperoleh kesempatan untuk melangkah diatas awan?
By Mahitri W
Langganan:
Postingan (Atom)